Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Belum Siap


__ADS_3

Perkataan Anjani membuat Abimanyu melayang. Dia bagai pria tua yang bertransformasi menjadi ABG lagi. Rasanya dadanya berdebar keras dan nafasnya terhenti seketika. Sentuhan hangat tangan Anjani membuat tubuhnya memanas seketika.


Anjani yang melihat telinga Abimanyu yang merona merah menaikkan kedua alisnya ke atas, tidak percaya bahwa duda ini akan merasa malu jika di puji. Ya Tuhan, dia kira Abimanyu pria berpengalaman nyatanya dia adalah pria matang yang sangat pemalu.


"Anjani nanti ada yang melihat kita," kata Abimanyu kaku. Wajahnya menegang seketika. Anjani lalu menahan tawanya dan melihat ke depan. Devan bahkan berani menciumnya di pinggir jalan sedangkan pria ini merasa malu jika kedekatan mereka terekspos orang lain. Namun, jika berdua dia bagai singa kelaparan yang bergerak merayap dengan sigap.


Mereka akhirnya terdiam sejenak.


"Mas Abi aku tidak pernah melihat Nyonya Citra di rumah setelah pertengkaran kita?" tanya Anjani.


Abimanyu menarik nafasnya dalam. Dia menunduk.


"Aku memarahinya karena telah memberikan baju itu padamu. Mom marah lalu pergi meninggalkan rumah dan tinggal bersama Eva," terang Abimanyu.


"Eva?"


"Yah, aku punya dua adik tiri beda ibu. Ibuku telah tiada dari aku kecil dan ketika aku berumur sebelas tahun ayah menikah lagi dengan Mom. Lalu lahirlah Robin putra kedua keluarga ini, dia sekarang tinggal di Banjarmasin mengurus usaha pertambangan keluarga di sana sedangkan Evangelin memilih tinggal di apartemen sendiri."

__ADS_1


"Aku tidak pernah melihat mereka datang ke rumah, apakah hubungan kalian baik-baik saja?"


"Aku dan Robin berseteru tentang perusahan. Sedangkan Eva, kami satu kantor namun Eva sedang memilih rehat dari pekerjaannya dan memilih untuk mengurus butiknya di sebuah mall. Dia menjadi wakil CEO perusahaan tas branded."


"Lalu kapan kalian bertemu? Maksudku berkumpul, biasanya setiap keluarga punya acara untuk berkumpul bersama?"


"Entahlah, semenjak ayah meninggal hubungan keluargaan ini terasa dingin."


"Kau yang tertua seharusnya yang merangkul mereka," ucap Anjani.


"Terasa tidak mudah karena engkau enggan untuk memulainya." Abimanyu menarik dua sudut bibirnya dengan terpaksa mendengar saran dari Anjani.


"Kau tidak tahu seperti apa keluargaku," kata Abimanyu.


"Seburuk apapun keluarga mereka adalah orang yang paling dekat dengan kita. Seharusnya kita merangkul mereka agar keharmonisannya dalam keluarga terasa.


"Anjani cara berpikir mu itu seperti orang yang tidak seumuran. Kau jauh lebih dewasa dari mereka."

__ADS_1


"Mungkin karena aku ditakdirkan hidup dengan pria yang jauh lebih dewasa sehingga Tuhan membuat pikiranku seperti emak-emak. Aku bahkan telah punya tiga anak yang sudah besar diumurku yang terbilang masih muda. Ambil satu bonus tiga," timpal Anjali.


Abimanyu menepuk lirih kepala Anjani dan tersenyum.


"Berarti kau untung banyak dengan menikahiku," ucap Abimanyu.


"Aku belum merasakan keuntunganku itu," ucap Anjani. Abimanyu memiringkan tubuhnya ke arah Anjani.


"Akan kuberi keuntungan menikah denganku nanti malam," ucap pria itu.


"Wajah Anjani memanas jika membahas masalah itu."


"Bisakah kita tunda dulu, ehm... kita saling mengenal dulu sebelum melakukannya," pinta Anjani. Abimanyu terdiam. Bayangan dia akan melalui malam panas dengan Anjani nanti buyar sudah.


"Kita lihat saja nanti," ucap pria itu melipat tangan ke perut dan menghembuskan nafas kasar. Anjani melirik ke arah Abimanyu.


Rasa bersalah menghantam jantungnya. Namun, dia belum siap melakukannya. Bukan karena takut akan hal itu lebih cenderung ke arah belum siap batinnya untuk hamil di umur muda. Selain itu, masih ada tiga anak Abimanyu yang butuh banyak perhatian dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2