
"Kenapa aku tidak boleh membantumu," tanya Abimanyu dengan kedua wajah mereka saling berhadapan dekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
Pikiran Abimanyu terfokus pada bibir Anjani yang berwarna merah natural. Tangan pria itu kini berada di kanan kiri tubuh Anjani memegang pinggiran meja, mengungkungnya.
"Anjani apakah jantung mu berdegub dengan kencang saat ini? Karena aku merasakan hal itu saat ini."
"Mas Abi, kumohon, jangan seperti ini!" cicit Anjani.
"Katakan jika kau tidak menginginkannya," kata Abimanyu lalu mulai menempelkan bibirnya pada bibir Anjani membuat wanita itu terkejut.
Pria itu membelai labium itu dengan lembut, menggodanya baru menggigit dengan pelan bibir bawah Anjani membuat wanita itu membuka mulutnya.
Mendapat sambutan hangat dari Anjani membuat Abimanyu sang duda kesepian menjadi bersemangat. Dia lalu gencar melakukan aksinya dengan membelit lidah wanita itu, menggelitik sehingga membuat Anjani terbuai.
"Bernafas, Sayang," bisik Abimanyu di bibir Anjani. Wajah Anjani memerah seketika, nafasnya terengah-engah. Abimanyu lalu mulai menyerang Anjani lagi dengan sedikit bernafsu membuat tubuh wanita itu tegang dan hanya memegang erat pinggiran meja.
Entah apa yang Abimanyu lakukan tetapi sebagian kancing baju atasnya mulai terbuka dan dadanya sudah terpampang jelas. Dia sudah duduk di atas meja dengan mulut Abimanyu yang telah berada di kulit dada.
Ini memalukan batin Anjani tetapi dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Sentuhan pria itu membuat akal sehatnya pergi begitu saja. ******* demi ******* keluar dari mulutnya begitu saja. Dia sendiri jijik dengan desahannya.
"Abi hentikan," kata Anjani dengan sekuat tenaga walau kedengarannya seperti sebuah cicitan kecil saja di tengah suara desahannya.
Abimanyu lalu tersadar dengan apa yang telah diperbuatnya. Dia menatap Anjani dan kedua tangannya lalu menutup kembali baju wanita itu.
"Kita menikah saja Anjani, aku takut jika kita berdua tidak bisa mengendalikan diri," kata Abimanyu.
"Aku ... aku ingin ... ," kata Anjani bingung dengan semua yang terjadi. Sedangkan pria itu masih membungkuk menatapnya, dengan tetap mengungkung tubuhnya.
"Aku bahkan tidak pernah melakukan hal ini dengan Devan mengapa aku seperti wanita murahan jika bersamamu?" rutuk Anjani pada diri sendiri, menunduk malu.
"Karena kau memang tertarik padaku," kata Abimanyu. Dia lalu pergi ke lemari pendingin dan memberikan air mineral pada Anjani.
Anjani turun dari meja hendak pergi namun Abimanyu mencegahnya.
"Kau tidak akan bisa pergi tanpa seijinku," kata Abimanyu. "Aku sudah menguncinya."
Anjani baru sadar jika ruangan itu memang kunci dari sandi.
__ADS_1
"Mari kita bicarakan masalah ini baik-baik di sofa itu, aku sudah menunggunya dari kemarin," ajak Abimanyu.
"Pak," kata Anjani.
"Kau tadi memanggilku Abi, maka panggil saja itu jika kata Mas Abi terlalu sulit untukmu," ledek pria itu membuat rona merah di wajah wanita itu berikut dengan telinganya.
Abimanyu lalu menarik tangan Anjani duduk di sofa dan menyerahkan botol dingin itu padanya.
"Agar pikiran dan tubuh kita dingin," ujar Abimanyu yang mulai sesak di celana. Menuntut pelampiasan.
Anjani lalu meminumnya hingga habis separuh. Dia butuh energi untuk membantunya berpikir jernih. Sedangkan Abimanyu malah terfokus oleh gerakan otot leher Anjani yang naik turun dan juga air yang mengalir dari bibir Anjani lalu turun membasahi lehernya.
Abimanyu menggelengkan kepalanya pusing dengan keinginannya sendiri.
"Aku ingin menghamilimu sehingga kau meminta pertanggungjawaban dariku," celetuk Abimanyu.
"Apa?" Anjani terkejut dengan pernyataan Abimanyu.
"Sungguh jika kau menolakku kali ini aku akan menghamilimu malam ini," ancam Abimanyu.
"Kau jangan gila," ujar Anjani duduk menjauh dari Abimanyu walau mereka di duduk di satu sofa panjang
"Kenapa tidak kau cari pelampiasan yang lain?"
"Aku tidak tertarik pada wanita murahan," terus terang Abimanyu.
"Kalau begitu cari yang tidak murahan dan kau nikahi dia."
"Itu yang sedang kulakukan. Kita menikah yuk!" kata Abimanyu enteng.
"Seharusnya melamar seorang wanita itu dengan cara yang berkesan, mengajaknya dinner seraya menyewa band yang memainkan musik romantis, memberikan cincin berlian, dan mengatakan hal romantis."
Abimanyu terbengong melihat ke arah Anjani.
"Kau malah melamarku tanpa persiapan hanya bermodalkan kata, 'mari kita menikah'," ujar Anjani kesal.
Abimanyu tertawa kecil. "Kau ingin seperti itu? Maaf jika itu tidak terbesit dalam benakku." Menghela nafas. "Dulu aku menikah dengan Lara karena perjodohan walau sebelumnya aku sudah mencintainya terlebih dahulu, kami sekeluarga mendatangi keluarganya dan waktu pernikahan ditentukan."
__ADS_1
Terbesit tanya di hati Anjani. "Apakah kau sangat mencintainya?"
"Itu adalah masa lalu dan aku tidak ingin membahasnya." Abimanyu menatap Anjani dalam sebelum meneruskan kata-katanya. "Sedangkan yang aku inginkan, kau menjadi masa depanku dan berharap kau mau menerima lamaranku," kata Abimanyu memainkan surai hitam Anjani.
"Aku belum ingin terikat secara resmi dengan seseorang."
"Kalau begitu kita mensahkan dulu secara agama," kata Abimanyu.
"Huh lucu," ujar Anjani.
"Apanya yang lucu, apa kau ingin hubungan kita bisa lebih dari ini tanpa ikatan sama sekali?"
"Bukan seperti itu, hanya saja aku tidak tahu harus berkata apa. Ini terlalu cepat untukku," ujar Anjani.
"Kita bisa bertunangan terlebih dahulu," saran Abimanyu membuat Anjani terdiam.
"Namun aku juga ingin menghalalkan mu walau secara tidak resmi terlebih dahulu. Aku takut tidak bisa menahan diri lebih lama lagi," ucap Abimanyu melihat ke bagian bawah tubuhnya sendiri membuat Anjani mengikuti arah pandang pria itu dan menaikkan kedua alis dan tertawa kecil mengerti.
"Itu jika kau belum siap menikah denganku secara resmi secepatnya. Jika mau aku bisa mengurus pernikahan kita secepat mungkin, bahkan kita bisa menikah satu Minggu lagi," tawar Abimanyu membuat pusing kepala Anjani.
Anjani mengusap kasar wajahnya. Satu Minggu itu terlalu cepat. Sedangkan pernikahan siri itu sangat merugikan pihak wanita jika suatu hari terjadi perceraian.
"Bagaimana kau ingin yang mana?"
"Aku ingin menikah secara resmi, namun aku ingin pernikahan ini dirahasiakan dari siapapun, termasuk keluargamu. Hanya kau, aku dan keluargaku saja yang tahu masalah ini. Bagaimana pun aku adalah wanita butuh seorang ayah untuk menikahkan."
"Kesepakatannya kita menikah?" tegas Abimanyu.
"Ya," jawab Anjani sedikit ragu. Tetapi dia sangat menghormati sikap Abimanyu yang lebih ingin menjaga kehormatan calon istrinya dengan menikahinya secepatnya.
"Bagaimana jika ditengah jalan pernikahan ini tidak berhasil?"
"Jangan dipaksakan, tidak akan enak?" jawab Abimanyu cepat tetapi kemudian dia menyesali kata-katanya setelah melihat tatapan curiga Anjani.
"Apa kau pernah merasakannya?"
"Apa maksudmu?" balik Abimanyu hendak berkelit dari pertanyaan itu.
__ADS_1
"Merasakan tidak enak menjalani hubungan dengan paksaan."