
"Ibu mau tinggal di sini?" tanya Bumi ketika Anjani menggendongnya.
"Tergantung, apakah Ibu akan diterima bekerja di sini atau tidak?" jawab Anjani.
""Tunggu, aku mau turun," kata Bumi. Turun dari gendongan Anjani, dia lalu berlari ke arah tiga kakaknya dan mengajak mereka keluar.
Sedangkan Anjani di persilahkan duduk oleh Citra.
"Jadi kau calon mentor untuk cucuku yang bandel itu?" tanya Citra lagi.
"Jika kalian memberi kesempatan, padaku. Lagi pula tidak ada anak yang nakal mereka hanya melakukan kesalahan yang mereka tidak mengerti akibatnya. Butuh banyak kesabaran untuk memberi mereka pengertian tentang yang benar dan salah, bukan hanya dengan kata-kata juga perbuatan kita. Kita yang harus memberi mereka contoh bukannya menghujat."
Citra menganggukkan kepalanya. "Kau benar tetapi sangat sulit sekali mengendalikan mereka, aku saja sudah angkat tangan sedangkan ayahnya sendiri sudah tidak bisa lagi memberi pengertian pada mereka."
"Apa yang kita pikirkan benar tidak selama menurut anak-anak itu benar.Mereka punya pemikiran sendiri, daya imajinasi mereka pun berbeda dengan orang tua. Contohnya bagi anak bermain tanah adalah hal menyenangkan mereka bisa membuat lukisan di tanah atau berbagai bentuk mainan. Namun, bagi orang tua itu adalah tanah yang kotor."
"Kau benar, mungkin aku yang terlalu keras pada mereka. Kedua anakku itu selalu menurut namun tiga anak Abimanyu membuat kepalaku pusing, ada saja tingkah mereka yang membuat kepalaku serasa mau pecah."
Citra lalu menepuk paha Anggun. "Tempo hari Bumi dan Tirta memecahkan guci antik seharga hampir satu milyar dengan entengnya mereka menyalahkan diriku. Ya Tuhan, ingin rasanya aku mengurung mereka dalam kamar yang gelap tapi Abi selalu saja menolak untuk menghukum anaknya. Dia bertindak terlalu lembut membuat mereka tidak jera walau sudah dimarahi."
Lalu acara curhat apa ibu rempong terjadi. Citra membuka semua kejadian di rumah ini dan ulah ketiga anak Abimanyu. Anggun menanggapi sesekali dan tersenyum. Citra memang telah lama mengenal Anggun dan mengerti sifat wanita itu, dia bahkan menyuruh Abimanyu untuk menikahinya karena Ibu Anggun dan dirinya berkawan baik di arisan sosialita. Abimanyu menolak dengan dalih mereka itu sahabat dari kecil. Sehingga cinta itu tidak ada.
Sudah berumur masih saja memikirkan cinta. Seperti anak remaja saja. Kesal Citra.
Sedangkan dalam ruangan lain Bumi sedang rapat dengan tiga kakaknya.
"Aku suka Ibu Anjani, dia baik hati seperti peri biru di cerita dongeng," ujar Bumi.
__ADS_1
"Namun, dia pasti akan jadi mentor yang menyebalkan dan suka mengatur," kata Tirta melipat tangan di dada.
"Dia orang yang asik," ujar Bumi yang teringat bagaimana Anjani sering membantunya ketika menemui kesulitan.
"Baiklah kita akan lihat, jika dia sok mengatur seperti Marsendong itu, kita akan membuat dia lari terbirit-birit dari rumah ini."
"Jika dia menyenangkan seperti yang kukatakan maka dia akan tetap ada di sini kan?" tanya Bumi dengan mata berbinar.
Bayu berjalan cuek keluar dari ruangan itu diiringi oleh Tirta.
Sedangkan di ruang tamu keributan mulai terjadi.
Abimanyu baru pulang dari tempat kerjanya. Anggun dan Citra yang pertama melihat langsung memanggil.
"Abi, mentornya sudah datang," kata Citra senang, dia berharap Anjani bisa membuat tiga anak itu menjadi anak yang penurut.
"Abi kau sudah pulang," sapa Anggun berdiri. Sedangkan Marsellina bergerak cepat mendekati Abimanyu dan mengambil tasnya.
"Kau?!" kata Abimanyu dan Anjani bersamaan.
"Untuk apa kau kemari, apa kau mau membuat ulah lagi? Tidak cukupkah hukuman yang kuberikan atau kau kesini mau berterimakasih padaku karena hanya memenjarakanmu selama dua hari?" ejek Abimanyu.
Anjani membelalakkan matanya lebar lupa bahwa dia berada di rumah calon bosnya.
"Aku kemari bukan untuk meminta maaf padamu atau pun membuat keributan yang buat masalah itu dirimu. Sudah kuterangkan jika aku mengira kau itu mau melecehkan tetapi kau malah membawa masalah ini ke kantor polisi. Masalah yang harusnya bisa di selesaikan secara baik-baik kau malah buat membesar. Kau tahu jika namaku tercemar karena ini namun aku tidak dapat melaporkanmu karena kau itu orang berduit dan berada." Anjani menarik nafas panjang sejenak.
"Aku bahkan hampir saja di keluarkan dari tempat kerjamu gara-gara kau. Dan satu lagi Aku yang harusnya bisa membujuk Dekan agar memperbolehkan aku masuk kuliah lagi tapi kenyataannya setelah Dekan tahu jika aku bermasalah di kantor kepolisian dia memberi surat peringatan padaku. Kau bukannya memberi solusi untuk menolong tapi kau memasukkan aku dalam jurang kehancuran. Andai kata aku bunuh diri maka aku akan menuliskan besar-besar di sebuah dinding jika kau penyebab kematianku!" teriak Anjani murka dengan nafas terengah-engah, membuat Abimanyu terdiam dan menelan Salivanya.
__ADS_1
Bayu yang baru keluar dari ruang rapat bertos ria dengan Tirta nampaknya mereka menemukan lawan yang tepat bagi Ayahnya yang super super diktator dan menyebalkan serta kuno.
Bumi yang ketakutan langsung berlari memeluk Anjani kaki Anjani.
Sedangkan Citra terlihat kebingungan dan takut sendiri melihat Anjani yang tiba-tiba marah pada Abimanyu.
"Wow, jadi dia wanita yang telah memukul dahimu itu," ucap Anggun menahan tawa.
Tanpa sadar Abimanyu memegang bekas lukanya.
"Nak, kau terluka karena wanita ini?" tanya Citra tidak percaya.
"Ya, dia memukulku," kata Abimanyu mencari pembelaan.
"Bagus Nona aku menerimamu menjadi mentor anak-anak. Butuh wanita yang kuat fisik dan kuat mental untuk mengatasi dua cucuku yang super super bandel itu," ucap Citra membuat Abimanyu membuka mulutnya tidak percaya.
Citra dengan enteng menarik tangan Anggun untuk meneruskan obrolan mereka tentang Fashion.
Kini Anjani saling bertemu tatap dengan Abimanyu.
"Aku tidak akan menerimamu sebagai mentor bagi anak-anakku kau tidak layak menjadi pengajar karena sikap keras kepala dan sikap tidak sopanmu yang bisa membuat contoh tidak baik bagi anak-anak," kilah Abimanyu.
"Lagi pula aku tidak tertarik bekerja dengan pria keras kepala dan mau menang sendiri sepertimu. Pantas saja jika anakmu jadi pemberontak karena kau terlalu mengekang mereka dengan sikap diktatormu. Mereka butuh kasih sayang bukan cuma teriakan atau makian. Jika salah sedikit kau memberi hukuman, yang ada mereka menjadi anak yang pendendam keesokan harinya."
"Sudahlah aku akan pergi dari rumah ini. Tetapi aku puas karena telah mengeluarkan semua unek-unekku padamu. Andai kau tahu penderitaan orang miskin mungkin kau akan bertindak lebih bijaksana lagi dalam mengambil keputusan," ucap Anjani mengakhiri pembicaraan ini. Abimanyu hanya terdiam dan wajah angkuhnya masih jelas nampak terlihat.
"Ibu akan pergi," tanya Bumi sedih.
__ADS_1
"Maaf Anjani kau dengar sendiri jika Ayahmu tidak menerima diriku tapi kita masih bisa bertemu lagi di sekolah," sindir Anjani yang masih kesal.
"Tapi Ibu, huaaaa... , Ayah jahat ibu sudah pergi kini Ayah juga membiarkan Ibu Anjani pergi lagi," tangis Bumi keras. Bayu dan Tirta lalu maju ke depan Ayahnya.