Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Kondisi Mencekam


__ADS_3

"Turuti atau kau kucium lagi!" kata Abimanyu keblabasan. Membuat ketiga anaknya yang sedang bercanda terdiam dan melihat ke arah mereka. Wajah Anjani memerah lagi seketika.


Anjani langsung mengambil uang itu dan pergi keluar dari mobil. Sedangkan Tirta dan Bayu saling menggerakkan kedua alis mereka dan berbicara dengan bahasa isyarat seolah mengatakan apa yang terjadi?


"Ayah cium Bu Anjani?" tanya Bumi yang berdiri maju ke depan membuat Abimanyu terkejut. Dia baru teringat jika ada anak-anak di kursi belakang. Entah mengapa fokus Abimanyu terpecah ketika Anjani berada di dekatnya.


"Tidak, itu hanya Ayah lakukan agar guru kalian mau makan," kilah Abimanyu.


"Oh... ," Bumi lalu duduk lagi diantara Bayu dan Tirta.


Tidak lama Anjani kembali dengan segelas susu hangat dan roti ditangannya dia mengembalikan uang lebihan yang banyak itu pada Abimanyu.


"Tidak kurang dari dua puluh ribu, kau memberiku terlalu banyak uang."


"Pegang saja kembaliannya, itu bisa kau gunakan ketika Bumi meminta jajan di sekolah kau juga bisa memakainya pula," kata Abimanyu datar lalu kembali menancap gas mobil.


Mereka lalu keluar dari dalam mobil setelah sampai di kawasan sekolah. Tirta dan Bayu pergi saja tanpa bersalaman dengan Abimanyu terlebih dahulu.


"Aku titip anak-anak," kata Abimanyu ketika Anjani dan Bumi akan berjalan masuk ke gerbang. Anjani menganggukkan kepalanya. Abimanyu kembali lagi masuk ke mobil, sejenak dia memandang Anjani Bumi yang sedang berjalan bergandengan tangan.


Andai Lara masih hidup, pasti istrinya yang sedang menggandeng tangan Bumi. Pikir Abimanyu.


Sedangkan Anjani menoleh kebelakang ketika mendengar suara mesin mobil Abimanyu mulai berjalan pergi.


"Selamat pagi Ibu Anjani," sapa beberapa orang tua murid dan anak murid Anjani.


"Pagi," jawab Anjani.


"Kok, berangkat bersama Bumi?" tanya kepo seorang ibu pada Anjani yang tadi melihat Anjani turun dari mobil bersama dengan keluarga Bumi.


"Ibu sekarang tinggal bersamaku," terang Bumi tersenyum lebar.


Para ibu-ibu itu menyatukan alis bersamaan.


"Maksudnya saya bekerja di rumah keluarga Bumi untuk mengasuhnya," jelas Anjani gugup mengatasi situasi yang hendak kacau.


"Oh, saya kira panggilan ibu itu karena Ibu Anjani memang menjadi Ibu Bumi," kata ibu yang lain.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin," kata Anjani tersenyum canggung sembari menarik nafas, tegang.


"Apanya yang tidak mungkin, Ibu ini cantik dan ayah Anjani itu duda lama, masa tidak tertarik pada Ibu," balas ibu yang lain.


"Saya harus ke dalam terlebih dahulu Ibu-ibu mari," kata Anjani sopan keluar dari kerumunan ibu-ibu yang sudah mulai bergosip tentangnya di pagi ini.


***


Beberapa hari ini suasana rumah sangat terkendali. Terjadi keributan kecil tetapi hal itu lumrah dilakukan oleh anak seusia mereka. Abimanyu merasa tenang ketika meninggalkan anaknya di rumah. Dia bisa bekerja dengan nyaman malah beberapa hari ini dia pulang malam tidak seperti biasanya.


Setelah tahu Anjani kerap tidak sarapan, Abimanyu mengajaknya makan bersama di meja makan jika pagi tiba. Awalnya Anjani menolak tetapi Citra yang memang berasal bukan dari kalangan orang berada seperti sekarang ini tidak keberatan. Dia senang ada Anjani di rumah karena rumah jadi terasa damai dan tenang.


"Sudah makan saja, aku tidak mau melihatmu sakit dan tidak bisa mengurus anak-anak ku dengan baik," ujar Abimanyu.


"Saya sudah makan di dapur, Pak," tolak Anjani.


"Apakah benar Lina?" tanya Abimanyu.


"Anjani belum ke dapur samasekali di pagi ini," jawab Marsellina jujur.


"Kau berbohong lagi, duduk dan makan jangan bicara," kata Abimanyu.


Abimanyu lalu menutup mulut Bumi dan tersenyum.


"Aku tidak melakukan apapun, anak ini hanya bercanda."


"Ayah sering mengatakan itu pada Ibu Anjani," teriak Bumi sewaktu mulutnya terlepas dari tangan Abimanyu.


"Kami pernah mendengarnya juga," ujar Tirta.


"Abi?"


"Aku hanya sedikit menggertak tetapi tidak melakukan apapun. Aku masih mempunyai batasan," kata Abimanyu kaku. Sedangkan, Anjani hanya menunduk terdiam. Dia juga kesal dengan ancaman pria itu yang dilakukan jika pria itu terlihat tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Anjani.


Marsellina sendiri terlihat cemburu dengan perlakuan yang diterima Anjani di keluarga ini. Selama ini dia tidak pernah memperoleh kehangatan itu dan diijinkan makan satu meja dengan mereka.


Kata ciuman itu mengusik hati Marsellina apakah ada hubungan lain antara Abimanyu dengan Anjani? Tetapi dia melihat biasa saja. Mereka tidak pernah terlihat dekat bahkan lebih banyak bersitegang walau Anjani terlihat tidak berapi-api seperti pertama kali dia datang ke rumah ini.

__ADS_1


Apapun itu yang paling membuatnya senang adalah sikap Bumi kini sudah lebih baik padanya. Dia mau berbicara dengan manis pada Marselina dan mungkin itu jalan ke depan agar semuanya lebih mudah untuknya. Tinggal menaklukkan hati Bayu dan Tirta lalu dia bisa jadi Nyonya rumah ini. Pikir Marsellina.


Mereka lalu pergi ke sekolah seperti biasanya.


"Anjani ini uang untuk uang saku Bumi," kata Abimanyu menyerahkan lembaran uang berwarna merah.


"Pak, yang kemarin saja masih utuh," kata Anjani menolak.


"Memang kalian tidak pernah pergi makan ke kantin? atau pergi membeli apa di luar?" tanya Abimanyu.


"Untuk apa di rumah semuanya sudah tersedia, sedangkan Ibu Marselina selalu menyiapkan bekal makanan untuk Bumi setiap hari jadi kami tidak membutuhkannya. Anda tidak mau menerima uang kembaliannya jadi saya juga tidak mau menerima uang itu karena masih ada," tolak Anjani.


Abimanyu terkesan dengan sikap jujur dan sederhana pada diri Anjani. Dia tidak mengambil semua kesempatan yang ada. Bisa saja dia menyimpan uang itu untuk kebutuhan pribadinya namun tidak dia lakukan. Dia benar-benar menggunakannya untuk Bumi jika tidak uang itu masih tetap utuh.


"Kau bisa menggunakannya untuk membeli kebutuhanmu, contohnya parfum. Parfum yang kau gunakan tercium wangi yang tidak enak, murahan," ejek Abimanyu membuat mata Anjani menyipit dan memandang tajam pada Abimanyu.


"Walau tidak enak ini kugunakan dari uang hasil kerja kerasku, aku tidak mau memakai uang milik orang lain. Jika kau tidak suka maka aku akan duduk di belakang saja jauh darimu!" ucap Anjani keluar dari mobil dan membanting pintu dengan keras.


"Ayo Bumi," ajak Anjani membuka pintu mobil bagian belakang.


"Wanita keras kepala!" ucap Abimanyu sepeninggal Anjani. "Mana ada bawahan yang melakukan itu pada atasannya.''


Tetapi entah dia menyukai pertengkaran mereka. Walau mereka bertemu dan berbicara ketika mengantar anak-anak saja tetapi hal itu bisa membuat Abimanyu tersenyum. Hal yang sulit dia lakukan.


Anjani dan Bumi pulang sekolah dijemput oleh sopir. Mereka melalui jalan yang lain karena jalan yang mereka lalui terkena kemacetan yang panjang.


Ternyata mereka juga salah memilih jalan. Di depan mereka nampak sekolompok pelajar sedang tawuran di pinggir jalan.


Ada yang saling pukul dengan tangan kosong dan ada yang membawa alat bantu seperti balok kayu, batu, benda tajam dan rantai besi. Membuat bergidik orang yang melihatnya.


"Ibu itu Kak Bayu," teriak Bumi. Anjani langsung melihat ke arah Bayu yang sedang dikeroyok oleh beberapa pelajar.


"Bayu," gumam Anjani. Dia lalu dengan cepat keluar dari mobil. "Jaga Bumi jangan sampai di keluar. Tunggu sebentar aku akan membawa Bayu kemari," kata Anjani pada sopir.


"Di luar berbahaya Bu lebih baik saya saja yang keluar dan membawa Tuan Muda kemari."


"Tidak, Bapak jaga Bumi dan bersiap tancap gas jika saya sudah membawa Bayu kembali." Anjani lalu menutup pintu mobil dan masuk ke dalam tempat tawuran mendekati Bayu yang terkapar di jalanan.

__ADS_1


Hati Anjani sudah merasa cemas karena kejadian ini. Dia berharap kondisi Bayu baik-baik saja.


__ADS_2