
Anjani masuk ke dalam kerumunan tawuran itu satu lemparan batu hampir saja mengenai kepalanya jika dia tidak menghindar.
Dia lalu mencari keberadaan Bayu yang tadi jatuh dan berlari menyelamatkan diri. Matanya menyapu pandangan ke semua arah. Hingga netranya melihat Bayu sedang di seret oleh seseorang. Kepala anak itu terlihat berdarah.
Anjani lalu berlari dengan cepat mendekati Bayu. Dia mendorong keras anak yang sedang menarik tubuh Bayu.
"Lepaskan dia!" teriak Anjani.
"Mau apa kau ikut-ikut masalah kami?"
"Dia anakku, kau mau apa?" ucap Anjani dengan mata terbelalak lebar menatap tajam kerumunan anak-anak muda di depannya. Mereka membawa beberapa alat seperti tongkat, kayu dan rantai besi.
Bayu yang baru saja tersadar setelah di pukul oleh benda keras segera bangkit.
"Kau ibunya atau kakaknya?" tanya anak-anak berpakaian abu-abu itu mengejek pada Bayu. "Yuk, kita ke anak yang lain aja, di sini ada emaknya."
Anjani lalu berjongkok di depan Bayu, "Kau tidak apa-apa, Nak?''
"Ngapain Ibu kesini?" tanya Bayu tidak senang.
"Kau, CK ck ck ... ," ujar Anjani menggelengkan kepalanya. "Ayo bangun, kita pulang."
"Bayu, tolong!" teriak seorang anak remaja melihat ke arah Bayu. Anak tersebut sedang di pukuli oleh dua anak lainnya.
Bayu langsung bangkit dan berlari ke arah anak itu.
"Ini anak!" geram Anjani mengikuti Bayu. Bayu membantu anak itu dan memukuli temannya. Sedangkan teman dari musuh mulai berdatangan ingin memukul Bayu lagi. Anjani yang melihat mulai membantu anak didiknya.
Dia mendorong beberapa anak hingga terjatuh atau menendangnya. Bayu sempat melihat gerakan Anjani yang gesit dan berdecak kagum.
"Siapa dia?" tanya teman yang ditolong Bayu.
"Emak gue," jawab asal Bayu bangga.
"Emak loe masih muda banget dan cakep," ujar teman Bayu sembari memukul lawannya.
Bayu dan temannya sudah melibas beberapa anak. Sedangkan Anjani juga memukul beberapa anak lain agar jera.
Bayu lalu mendekat ke arah Anjani. "Bu," panggilnya. Dia tidak melihat ada tiga anak mendekat ke arahnya bersiap memukul Bayu dengan rantai motor dari belakang. Anakmu yang melihat lalu berlari ke arah Bayu mendorong tubuh anak itu dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai.
"Shhhh," desis Anjani.
__ADS_1
Bayu terkejut. Di saat itu mobil miliknya mendekat dan Pak sopir berteriak. "Tuan Bayu cepat masuk."
Bayu langsung membawa Anjani ke dalam mobil dan dia ikut masuk juga bersama temannya. Mobil meluncur pergi dari tempat itu secepatnya.
Tiga orang itu adalah anak preman suruhan dari SMU sebelah yang sedang bertarung dengan SMU dari yayasannya. Dia baru SMP namun karena Bayu jago beladiri, dia diminta kakak kelasnya untuk membantu mereka.
"Ibu tidak apa-apa?'' tanya Bayu.
Anjani menggelengkan kepalanya walau terlihat menahan sakit yang teramat sangat.
"Kita ke rumah sakit," kata Bayu.
"Tidak jangan ke rumah sakit nanti ayahmu tahu. Kita pulang saja. Bapak sopir jangan beritahu masalah ini pada siapapun."
Sopir itu terlihat diam.
"Pak, tolong, aku tidak ingin melihat anak-anak dimarahi lagi," pinta Anjani lagi.
"Baik, Bu," jawab sopir itu lemah.
"Ibu kenapa lakukan ini?" tanya Bayu tersentuh. ''Biar saja aku yang terluka, ibu tidak perlu menolongku. Bukankah aku yang salah, seharusnya aku yang menanggungnya," kata Bayu.
Dia menegakkan punggungnya walau rasa pedih dan pegal, terasa sangat hingga menembus tulangnya. "Lihat ibu baik-baik saja, kau tidak usah menangis."
"Aku takut, Ibu Anjani terluka tadi," kata Bumi terisak. Anjani mengusap sayang pada Bumi.
Rasa bersalah menggelayut dalam hati Bayu. Seharusnya dia tidak ikut tawuran itu. Sesak Bayu dalam hati.
***
"Bayu, kemana dia?" tanya Abimanyu ketika melihat salah satu anaknya tidak ada di meja makan.
"Dia sedang ada pekerjaan rumah sehingga meminta makan malam diantar ke kamarnya," Anjani berusaha untuk menyembunyikan kesalahan Bayu. Wajah Bayu sedikit membiru, di sudut bibirnya. Akan buruk jika itu diketahui oleh Abimanyu. Anjani sudah menyamarkannya dengan consealer tadi, jadi sewaktu Abimanyu melihat Bayu, maka tidak akan jelas bekas luka itu terlihat jika dari jauh.
"Oh, tumben dia menjadi anak baik dengan belajar di akhir pekan."
"Mungkin, dia ingin berubah," ujar Anjani.
Sepanjang makan malam itu Bumi yang biasanya cerewet terdiam sembari menunduk. Abimanyu merasa ada yang aneh tapi tidak tahu ada apa. Tirta terlihat biasa saja. Dia berkali-kali meledek Bumi tapi anak itu tidak meresponnya.
Abimanyu yang hampir menghabiskan makannya lalu menghentikan kegiatannya ketika menatap Bumi yang hanya menunduk tanpa mau menyentuh makanannya walau Anjani sudah membujuk anak itu dengan menyuapi.
__ADS_1
"Ada apa, Bumi?'' tanya Abimanyu.
"Bumi?" panggil Abimanyu lagi menatap intens ke arah anak itu. Tiba-tiba Bumi menangis terisak. Anjani menutup matanya. Berharap anak itu tidak menceritakan semua yang telah terjadi tadi.
Abimanyu lalu bangkit dan mendekati anak itu. Dia mengangkat tubuh Bumi dan membawanya keluar dari ruang makan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Abimanyu lembut. Mata Bumi lalu tertuju pada Anjani yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Apa kau dimarahi oleh Ibu Anjani?" tanya Abimanyu. Bumi menggelengkan kepalanya sembari tersengal-sengal.
"Apa kau membuat kesalahan?" Lagi-lagi jawaban sama diperoleh dari Bumi. Abimanyu menarik nafasnya. Ini ada konspirasi. Pikirnya.
"Bagaimana sekolahmu apakah baik?'' tanya Abimanyu.
"Baik," jawabnya.
"Tadi siang kau melakukan apa?"
"Aku tidur siang dan menonton TV bersama Ibu Anjani," cerita Bumi.
"Apa kau sakit?" tanya Abimanyu.
"Tidak tetapi Ibu Anjani dan Kak Bayu terluka," ujar Bumi lalu menutup mulutnya.
"Huh," Anjani melepaskan udara dengan keras dari mulutnya. Bahunya melemas seketika. Perang dunia ketiga akan terjadi.
"Pak Slamet!" teriak Abimanyu memanggil sopir yang tadi menjemput Anjani dan Bumi pulang.
"Marsellina, panggil Bayu kemari sekarang juga dan bawa Bumi masuk ke dalam kamarnya. Suruh pengasuh menjaganya," perintah Abimanyu.
Sopir itu langsung berlari masuk ke dalam rumah ketika mendengar Tuannya memanggil.
Lima menit kemudian semua orang ada di ruang kerja Abimanyu.
"Iya Tuan," kata Pak Slamet berdiri di depan semua orang. Di sana sudah ada Bayu dan Anjani berdiri berdekatan di sebelah Abimanyu.
"Apa yang terjadi tadi siang?'' tanya Abimanyu dengan raut wajah yang mengeras. Membuat nyali siapapun yang melihatnya akan menciut seketika.
Wajah Pak Slamet seketika memucat. Dia melihat pada Anjani dan Bayu yang berdiri. Anjani menunduk pasrah dengan nasibnya nanti. Tuan Abimanyu pasti akan memecatnya karena tidak bisa menjaga Bayu dari melakukan kesalahan yang fatal.
"Aku tanya sekali lagi, apa yang terjadi! Jika tidak ada yang menjawab maka semua yang ada di sini saya usir keluar dari rumah!" murka Abimanyu menggebrak meja.
__ADS_1