
Pernyataan Abimanyu di pemukiman bawah kolong jembatan itu mengusik hati Anjani. Mengapa pria itu terang-terangan mengejarnya Anjani tidak tahu. Mereka belum bertemu lama dan mereka juga belum terlalu saling mengenal tetapi Abimanyu seolah telah memasang sikap untuk terus maju mengejar wanita itu.
Apa semua karena kebersamaan mereka semalam? Pikiran itu membuat otak kecilnya terasa hampir meledak. Rasanya dia ingin menjauh dari Abimanyu dan lari dalam pelukan Devan namun dia tidak bisa karena dia masih bekerja bersama dengan pria itu. Lagi pula dia masih membutuhkan uang untuk kuliahnya.
Anak-anak juga masih membutuhkan perhatiannya, dia tidak bisa lepas tangan begitu saja meninggalkan mereka.
Mereka lalu pergi ke mall terdekat dan langsung menuju ke gedung theater. Melihat film yang akan mereka tonton dan memesan popcorn serta minuman.
Bumi memilih duduk bersama dengan ayahnya sedangkan Bayu dan Tirta memilih tempat duduk di depan. Sedangkan Anjani akhirnya duduk bersama Abimanyu.
Mereka duduk berdampingan dengan canggung. Bumi yang terlihat lelah lalu tertidur ketika film baru diputar setengahnya lalu kepalanya di sandarkan di paha ayahnya.
Melihat hal itu Anjani mulai berani bertanya tentang hal yang tadi Abimanyu ucapkan.
"Pak, kenapa kau mengatakan hal seperti tadi?" tanya Anjani.
"Ku kira kau sudah tahu maksudnya."
"Namun, aku sudah mempunyai kekasih."
"Kau sangat yakin sekali jika akan menikah dengannya padahal jodohmu belum tentu dia. Bisa juga aku," ujar Abimanyu menoleh dan tersenyum. Anjani merasa kesal dan gemas mendengar jawaban Abimanyu.
"Maksud saya mengapa harus aku?" pertegas Anjani.
"Anjani seperti aku bilang, aku bisa saja mencari wanita untuk kesenanganku sendiri tetapi mencari ibu yang baik untuk anak-anakku itu terasa sulit. Bahkan seperti tidak mungkin. Hingga aku memutuskan untuk hidup melajang selamanya."
"Namun, ketika melihat bagaimana cara anak-anak menerimamu dan sikapmu yang penuh kasih sayang pada mereka membuatku berpikir untuk menikahimu. Selain agar aku mempunyai teman hidup, anak-anak juga punya seorang ibu lagi."
"Ibu Marselina juga mencintai anak-anak Anda," kata Anjani walau dia tahu anak-anak sangat tidak suka dengannya.
"Rasa tidak bisa bohong. Nyatanya sudah lama aku dekat dengan Marselina tetapi aku tidak tertarik sama sekali. Berbeda denganmu, kita baru sebentar bertemu namun rasa ingin memiliki itu ada."
Anjani menatap Abimanyu. Tidak tahu harus berkata apa dengan pria berpengalaman sepertinya.
"Aku sudah mempunyai kekasih dan aku mencintainya," kata Anjani melihat ke samping.
"Aku tidak yakin kau mencintainya," jawab Abimanyu santai.
"Kau jangan sembarang berbicara," ujar Anjani sedikit emosi.
Abimanyu memiringkan tubuhnya ke arah Anjani. Dia berbicara dekat dengan telinga wanita itu.
__ADS_1
"Jika kau mencintainya, semalam kau tidak akan memberi respon padaku," ujarnya lalu meniupkan udara ke belakang telinga Anjani membuat bulu kuduk wanita itu merinding semua.
Anjani terdiam menutup matanya dan menunduk. Dadanya kini berdebar hebat.
"Bahkan jika aku tidak menghentikan diriku kita tidak tahu apa yang akan terjadi," lanjut Abimanyu. Dia lalu mengecup pipi Anjani cepat membuat wanita itu terkejut. Wajahnya memerah. Dia lalu hendak bangkit karena marah namun tangan Abimanyu mencegahnya.
"Jangan marah, setelah ini aku tidak akan melakukannya," kata Abimanyu. "Tetapi lain kali aku akan melakukan itu."
"Jangan menyentuhku!" seru Anjani tertahan.
Abimanyu lalu melepaskannya. Anjani lalu duduk lagi dengan perasaan marah, kesal dan benci terhadap diri sendiri karena menerima saja perlakukan Abimanyu, diaduk menjadi satu.
Film selesai diputar. Abimanyu membangunkan Bumi, sedangkan dua anak lainnya mendekat ke arah mereka.
"Apakah kita akan pulang, Yah?" tanya Tirta.
"Kita akan belanja baju. Sudah lama sekali kita tidak melakukannya," kata Abimanyu.
"Semenjak Ibu tidak ada, hanya bibi Eva saja yang mengajak kami berjalan-jalan memberi pakaian," ungkap Bayu.
Mereka lalu pergi mencari outlet langganan. Setelah menemukannya mereka mulai mencari baju yang akan mereka beli. Bumi dan Anjani pergi ke outlet anak-anak mencari baju yang cocok untuknya. Abimanyu menyerahkan salah satu kartu kreditnya pada Anjani untuk mencari kebutuhan Bumi. Sedangkan para pria sibuk mencari pernak pernik sendiri.
"Beres, Yah," kata dua anak itu. Abimanyu membantu anak-anaknya memilih pakaian sembari sesekali matanya melihat ke outlet seberang di mana Anjani terlihat memilih pakaian Bumi. Mereka terlihat seperti ibu dan anak nampak akrab dan tidak dibuat-buat. Abimanyu tersenyum kecil.
"Yah, apakah pakaian ini bagus?" tanya Bayu memperlihatkan kaos hitam dengan celana jeans sobeknya.
"Kalau yang tidak sobek ada?" balik Abimanyu yang terbiasa rapi sedari kecil.
"Ini trend, Yah," ujar Bayu.
"Wow, itu keren Kak!" ujar Tirta. Bayu terlihat bangga dengan pilihannya.
"Terserah kalian saja," ujar Abimanyu yang kini tidak akan memaksakan anaknya untuk ikut dengan kemauannya. Anjani selalu mengatakan jika beri kebebasan pada merek untuk berkembang. Mereka bisa memilih sendiri apa yang bagus dan baik bagi mereka. Sebagai orang tua cuma bisa menasehati bukan memaksa.
Abimanyu lalu berjalan ke arah dasi yang sedang di pajang di etalase toko melihatnya dan memilih. Lalu coba memasangkannya ke dada dan bercermin.
"Warna biru dengan garis miring hitam itu sangat cocok dengan Anda, Pak," kata Anjani dari belakang.
Abimanyu melihatnya dari cermin, lalu berbalik.
"Sepertinya putih lebih bagus," kata Abimanyu mengambil dasi putih dengan garis hitam.
__ADS_1
"Yang seperti ini sudah Anda miliki," kata Anjani. Dalam hatinya Abimanyu bersorak-sorai bahagia. Anjani ternyata memperhatikan penampilannya.
Anjani mengambil dasi biru tadi, "Lihatlah ini terlihat bagus dipakai Anda. Tetapi kembali lagi, Anda yang berhak untuk memilih."
Anjani meletakkan kembali dasi itu.
"Apa kau sudah selesai berbelanja?" tanya Abimanyu. Anjani memperlihatkan tiga paper bag ditangannya.
"Sang Putri membeli banyak baju," ujarnya setengah berbisik tetapi terdengar oleh yang lain. Abimanyu mengganggukkan kepalanya lalu berjalan ke kasir membayar semua belanjaan anak-anak dan dasi miliknya.
Setelah itu, mereka keluar dari outlet itu. Dan berjalan menuju tempat pakaian wanita. Abimanyu lalu memberi tanda pada anaknya. Anaknya memberi kode dengan jempol mereka.
"Ibu, ayo ikut kami," tarik dua anak lelaki Abimanyu ke sebuah outlet baju wanita berbranded.
"Hey, untuk apa kita kemari?" tanya Anjani ketika mereka sampai di dalam.
"Selamat sore, Bapak dan Ibu, silahkan masuk dalam outlet kami. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang pramuniaga.
"Kami ingin membeli beberapa baju untuk Ibu," seru Bayu.
"Tidak... tidak ... ," ujar Anjani mau pergi tetapi tangannya dipegang oleh Abimanyu.
"Kau mau kemana?"
"Sepertinya kita salah toko," kata Anjani.
"Tidak Yah, kita ingin agar Ibu membeli beberapa baju," kata Tirta.
"Bajunya sangat kuno dan membosankan," imbuh Bayu lagi.
"Tidak berwarna," lanjut Bumi.
"Mereka ingin agar kau membeli pakaian. Hargai kemauan mereka,"
"Namun," perkataan Anjani terpotong.
"Aku yang akan membayarnya, kau jangan khawatirkan harga atau habis berapa, uangku masih banyak," kata Abimanyu.
"Ayo, Bu," pinta tiga anak itu memelas.
"Apa kau akan meminta bayaran lebih setelah ini?" ujar Anjani lirih hanya terdengar oleh mereka berdua.
__ADS_1