
"Kau kenapa Bro," tanya Rudi ketika mereka berada di sebuah cafe. Dia melihat luka di kening sahabatnya.
"Ada orang gila yang memukulku dengan botol air minum hingga aku pingsan," terang Abimanyu.
"Pingsan?!" teriak Anggun dan Rudi bersamaan.
"CK..CK... sukar di percaya," ujar Anggun.
"Siapa yang bisa melakukan itu padamu? Dia pasti orang hebat karena bisa memukulmu hingga tidak sadarkan diri."
"Hebat apanya Rud, aku sedang ingin menolongnya, dia malah menyerangku dengan tiba-tiba," terang Abimanyu.
"Kau tidak melawan?" tanya Rudi.
"Mau menyerang bagaimana dia itu wanita," gerutu Abimanyu sembari menyesap minumannya.
"Wanita?!" untuk kedua kalinya dua sahabat karib Abimanyu tertegun sembari menelan Salivanya.
"Wow, Abimanyu Wijaya Kusuma kalah oleh seorang wanita, itu baru rekor," lanjut Anggun.
"Kau benar di arena perlombaan saja dia selalu menang," ungkap Rudi.
"Dia pasti lebih hebat darimu, aku yakin," imbuh Anggun dan Rudi mengiyakan, membuat Abimanyu makin kesal.
Tadi siang dia marah karena dikatakan lemah oleh wanita itu kini dua temannya mengatakan jika dia kalah. Wanita gila itu telah membuat nama baiknya sebagai petarung dari cabang silat hancur seketika.
"Silahkan saja kalian mengejekku terus. Kalau begini lebih baik aku pulang," ungkap Abimanyu.
"Hei kenapa kau jadi sensitif seperti ini? Apa karena wanita yang mengalahkan mu tadi?"
"Anjir, brengsek kau Rud," umpat Abimanyu membuat dua orang itu makin terkekeh.
"Okey, okey untuk apa kau mengajakku kemari?" tanya Anggun.
"Aku ingin meminta bantuan kalian untuk mencari mentor bagi ketiga anakku," kata Abimanyu.
"Oh, itu bidangnya Anggun bukan aku," kata Rudi angkat tangan.
"Bukankah kau itu pengusaha percetakan buku, kau pasti tahu kriteria apa yang baik untuk mentor anakku. Secara banyak buku yang telah kau baca tentang dunia pendidikan," kata Abimanyu.
"Kau hanya butuh istri yang menyayangi anak-anakmu, hanya itu saranku," saran Rudi.
"Kau bukannya membantuku keluar dari masalah malah menambah beban ku," rutuk Abimanyu.
__ADS_1
"Maksud Rudi mungkin kau butuh seorang mentor wanita yang bisa memberi perhatian dan kasih sayang layaknya seorang ibu pada anaknya," jelas Anggun.
"That's right." Anggun lalu tersenyum pada Rudi.
"Kau butuh seorang mentor seperti Anggun, dia penuh kasih sayang, single, berwibawa dan yang paling penting cerdik. Kenapa? Karena untuk mengurus tiga orang anakmu yang bandelnya tingkat dewa itu tidak mudah. Wanita itu harus bisa mengambil hati anak-anakmu terutama Bayu kenapa karena dia yang sedang punya banyak masalah di sekolah dan dia juga sudah memasuki usia remaja jadi sulit untuk dikendalikan," jelas Rudi.
"Kau benar," kata Abimanyu mengangguk. "Tapi apa kau bisa meluangkan waktu untuk anak-anakku Anggun?"
"Tentu saja tidak bisa, karena aku juga harus mengurus yayasan ayahku belum lagi sekolah Paud dan TK itu, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
Abimanyu lalu terdiam.
"Bagaimana kalau aku carikan salah satu guruku saja," tawar Anggun.
"Apalah itu ,kau tahu bagaimana karakterku. Cari guru terbaik dan aku ingin dia mendidik anakku bukan soal akademis saja tetapi juga mentalnya. Aku ingin anakku berubah menjadi anak yang berbudaya dan sopan santun terhadap siapapun apalagi guru dan orang yang lebih tua."
"Aku akan memikirkan siapa guru yang tepat untuk menjadi mentor anak-anakmu," kata Anggun.
"Anakku harus menyukainya jika tidak mereka bisa melakukan hal gila yang bisa membuat guru itu pergi."
"Kau benar dimulai dari Bumi, dia anaknya mudah-mudah sulit di sekolah hanya Bu guru Anjani saja yang bisa mengatasinya."
"Anjani," gumam Abimanyu mengingat jika nama wanita yang memukulnya juga bernama Anjani. Tetapi, tidak mungkin wanita lemah lembut yang sudah dia lihat dua kali sedang bersama Bumi itu adakah wanita yang dia masukkan ke dalam penjara. Dia terlalu bar-bar.
"Tidak hanya sebuah nama yang sama dan aku yakin beda orang," ujar pria itu.
"Baiklah aku akan menyuruhnya pergi ke rumahmu besok pagi. Kau bisa mewawancarai,"
"Saran yang bagus," ungkap Abimanyu.
"Kalau bisa dia menginap di rumahku, aku akan membayar mahal gajinya karena dia bekerja dua puluh empat jam untuk mengawasi anak-anakku," kata Abimanyu.
"Hanya itu?" tanya Anggun.
"Kalau bisa yang cantik, seksi dan bohay," imbuh Rudi.
"Pikiranmu itu kotor sekali Bro," kata Abimanyu.
"Siapa tahu kau butuh dia untuk mengasuhmu juga," gelak tawa Rudi mulai terdengar.
"Brengsek!" rutuk Abimanyu dari tadi dikerjai sahabat karibnya.
"Walau aku pria brengsek nyatanya aku yang ditinggalkan wanita, artinya."
__ADS_1
"Artinya mereka mengerti bahwa kau tidak layak untuk mereka," potong Abimanyu.
"Lalu bagaimana dengan diriku yang ditinggal menikah lagi oleh mantan suamiku," lirih Anggun teringat mantan suaminya yang pergi meninggalkannya karena jatuh cinta dengan sang sekretaris yang lebih muda.
"Apakah aku juga tidak layak untuk dimiliki?"
Rudi dan Abimanyu menghela nafas panjang.
"Kau menikah saja denganku nanti tidak akan kutinggal," gurau Rudi membuat Anggun dan Abimanyu terkejut.
Satu pukulan mendarat di kepala Rudi.
"Ini masih sore dan kau sudah mabuk?" tanya Anggun.
"Kau lihat aku bahkan belum menyentuh minuman itu sama sekali. Kalian mengajakku minum jus jeruk ini," kata Rudi mengangkat gelas di tangannya.
"Itu agar otakmu bisa berpikir jernih. Mana ada sahabat saling mencintai," kata Abimanyu. Tetapi kedua temannya terdiam karena Anggun sebenarnya sudah mencintai Abimanyu sejak mereka sekolah hanya saja Abimanyu lebih mencintai Lara dan dia akhirnya menikah dengan mantan suaminya. Sedangkan Rudi entah mengapa akhir-akhir ini berpikir tentang janda tanpa anak itu. Semakin hari Anggun terlihat semakin tambah menawan.
"Kau benar sahabat tidak akan saling jatuh cinta," beo Anggun tersenyum kecut.
***
Anjani telah keluar dari penjara. Dua hari satu malam yang kelam dia berada di sana. Itu adalah pengalaman yang mengerikan untuknya. Usut punya usut ternyata Abimanyu yang menginginkan dia mendekam dipenjara untuk satu malam setelah itu dia mencabut laporannya kembali. Haruskah dia berterima kasih atau mengutuk pria itu.
Anjani langsung pergi ke sekolah ke tempat dia mengajar. Seseorang mengatakan jika dia dipanggil oleh kepala sekolah.
Bunyi ketukan pintu terdengar di ruang Anggun. "Masuk," ucapnya tanpa mengangkat wajah.
"Pagi, Bu," sapa Anjani setelah masuk ke dalam ruangan Anggun.
Anggun yang mendengar suara Anjani langsung mengangkat kepalanya dan menghela nafas lega.
"Syukurlah kau datang Anjani. Aku mencarimu dari kemarin namun kau tidak datang juga," lanjutnya.
"Aku akan menawarimu pekerjaan bagus sebagai pengasuh lebih tepatnya mentor untuk suatu keluarga," kata Anggun.
"Mentor?"
"Ya, mentor untuk Bumi dan dua kakaknya, apakah kau bersedia?" tanya Anggun yakin jika Anjani tertarik.
"Untuk Bumi? Lalu bagaimana pekerjaanku di sini?"
"Jika keluarganya tidak cocok dengan pengajaran mu maka kau bisa kembali bekerja di sekolah ini. Lagi pula kau akan mendapat gaji besar di sana. Abi adalah pengusaha besar yang mampu membayarmu dengan gaji besar."
__ADS_1
"Anda benar aku sedang membutuhkan banyak uang saat ini," kata Anjani tetapi dia terdiam sejenak. "Abi, semoga bukan Abimanyu pria lemah itu. Mungkin hanya nama depannya saja yang sama." Batin Anjani.