
Anjani mengusap air mata yang sempat keluar dari pelupuk. Dia melepaskan pelukannya.
"Sana mandi, nanti terlambat. Aku tunggu di bawah lima belas menit lagi," kata Anjani pada Tirta.
Abimanyu yang berdiri di depan kamar anaknya, kembali bergegas ke kamar sebelum Anjani menyadari kehadirannya.
Setelah melihat Tirta ke alamat mandi Anjani berniat melihat keadaan Bumi. Ketika dia melangkahkan kaki keluar dari kamar Tirta, di saat itu Abimanyu berjalan keluar dari kamarnya. Membuat wanita itu terkejut memegang dadanya.
Seketika wajah putih Anjani menjadi panas dan berubah memerah, teringat akan kejadian tadi malam. Dia memang pria breungseak, umpat Anjani marah. Dia lalu berjalan begitu saja menuju ke kamar Bumi tanpa memberi salam pada majikannya.
Sesampainya di kamar yang dituju, Bumi terlihat sudah siap dengan pakaian sekolahnya dibantu oleh pengasuh.
"Ibu kira kau masih tertidur seperti kakakmu. Nyatanya, kau sudah siap dan cantik," kata Anjani.
"Tinggal rambutku saja. Aku tidak mau terlambat ke sekolah," kata Bumi.
Anjani melihat ke arah pengasuh yang sedang menyisir rambut Bumi. Anjani lalu meminta sisir itu pada pengasuh. Dia mulai mengikat rambut Bumi menjadi dua bagian di atas dan mengenangnya lalu menggulungnya sehingga membentuk dua cepolan yang indah. Bumi lalu berkaca dengan senang melihat kedua kucirnya.
"Ini sangat bagus Ibu," ujar Bumi. Anjani menganggukkan kepalanya dan menuntun Bumi turun ke bawah.
Di sana dia melihat Abimanyu sudah duduk dengan secangkir kopi di depannya. Marsellina terlihat sedang sibuk menyiapkan sarapan yang telah dibuat oleh pelayan rumah.
Dia menghentikan kegiatannya ketika melihat Bumi berjalan mendekati meja. Sebuah senyuman tulus terlihat di wajahnya.
"Kau terlihat cantik sekali Nona," sapa Marsellina.
"Ibu Anjani yang membantuku," balas Bumi dia lalu memegang dua cepolan di kepalanya. "Baguskan!" ujar Bumi.
"Sangat bagus," ucap Marsellina.
"Kalau boleh aku ingin sekali mencium pipimu," pinta wanita itu.
"Tidak! nanti bedakku akan luntur," ujar Bumi.
"Sayang, Ibu kepala hanya ingin mengungkapkan cintanya padamu" jelas Anjani memberi pengertian Bumi.
"Tapi aku tidak suka," ujar Bumi pelan melirik ke arah Marselina. Sekilas mata kepala pelayan itu seperti berkaca, terlihat rasa kecewa yang teramat sangat membuat Anjani tidak tega melihatnya.
"Kau tidak boleh berbuat tidak sopan pada orang yang lebih tua, satu ciuman kecil itu tidak akan mengurangi jumlah pipimu tetapi akan memperbanyak jumlah orang yang mencintai dan menyayangimu."
__ADS_1
"Baiklah," ujar Bumi lemas lalu maju selangkah ke arah Marsellina. Kepala pelayan itu mencium kedua pipi Bumi.
"Sudah" ucap Bumi lalu duduk ke kursinya. Abimanyu yang sedang memegang koran sempat melirik ke arah tiga orang itu tetapi kemudian dia pura-pura meneruskan bacaannya lagi.
Tidak lama kemudian Bayu dan Tirta terlihat berlarian ke arah meja makan dan duduk di kursi masing-masing. Mereka lalu mulai sarapan dengan tenang.
Melihat tiga anak itu selesai makan Anjani lalu mendekati Bayu yang berdiri. Tangannya memasukkan kemeja atas sekolah Bayu ke dalam celana dengan cepat. Wajah Bayu memerah karena malu.
"Kau ke sekolah bukan ke lapangan untuk bermain," ujarnya. "Besok pakai pakaian yang rapi," imbuhnya membenarkan dasi anak itu.
"Selamat pagi, Presdir," sapa seorang pria berpakaian jas lengkap pada Abimanyu.
Abimanyu lalu melihat ke arah orang itu. "Aku akan bawa mobil sendiri, kau bisa langsung pergi ke kantor. Berkas dalam ruang kerja yang ada di atas meja kau ambil semuanya dan kau bawa ke kantor."
"Baik, Pak," kata pria itu lalu berjalan menuju ke ruang kerja Abimanyu.
"Kau ikut ke sekolah Bumi," perintah Abimanyu pada Anjani.
"Aku?" tanya Anjani yang belum bersiap sama sekali.
"Ya, siapa lagi."
"Aku akan ambil tasku," katanya lagi lalu berjalan cepat ke atas. Sedangkan keempat orang itu pergi ke mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
"Ini untuk Bumi di sekolah," kata Marselina.
"Serahkan pada Anjani, dia yang akan ikut ke sekolah Bumi."
"Ayah akan mengantar kami ke sekolah?" tanya Tirta dan Bayu terkejut. Biasanya mereka berdua pergi ke sekolah terlebih dahulu bersama sopir. Sedangkan Bumi berangkat bersama Abimanyu satu jam kemudian.
"Ya, apa ada masalah?" tanya Abimanyu.
"Tidak," kata Tirta dan Bayu bersamaan dan saling memandang.
Anjani keluar dari rumah dengan sepatu pantofel yang resmi layaknya seperti dia akan pergi mengajar. Dia terlihat jauh lebih dewasa jika berpakaian seperti itu.
Tirta dan Bayu sudah terlebih dahulu naik ke dalam mobil bagian penumpang belakang. Sedangkan Anjani terlihat bingung mau duduk di mana.
"Kau duduk di depan bersama Bumi," perintah Abimanyu yang berdiri di sebelah Anjani membuat wanita itu terkejut. Batin Anjani mengapa pria itu selalu mengejutkan dirinya. Tetapi dia sepertinya juga takut untuk berdekatan dengan pria mesum sepertinya. Jika bukan karena dia butuh uang untuk biaya kuliah dan kasihan melihat tiga anak itu Anjani enggan untuk berada di sini.
__ADS_1
"Aku bersama kakak saja," kata Bumi langsung masuk ke mobil bagian belakang.
"Anjani, ini kotak makan untuk Bumi," kata Marsellina menyerahkan kotak makan itu. Anjani lalu menerimanya dan berjalan masuk ke mobil dengan malas.
"Kalian sudah siap? Tidak ada yang tertinggal?"
"Uang sakuku habis," kata Bayu.
"500 ribu sudah kau habiskan? Bahkan ini belum satu Minggu, baru tiga hari saja," seru Abimanyu terkejut. Anjani juga sama terkejutnya mengetahui nominal uang saku Bayu.
"Yah, aku pergi ke mall bersama teman-teman dan kamu bermain game di sana serta makan," ujar Bayu enteng. "Apa aku harus diam saja melihat temanku bermain dan tidak ikut makan bersama mereka?"
Abimanyu lalu merogoh dalam celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Bukan soal uang, kau menuntut ayah atas semua pengeluaranmu sedangkan kau sendiri tidak mau benar-benar belajar," ujar Abimanyu pelan.
Bayu menarik nafas bosan.
"Uangmu sudah habis atau belum Tirta?"
"Belum, masih separuhnya," jawab Tirta.
"Contoh adikmu, Bayu, dia bisa mengendalikan kebutuhannya sendiri. Uang sakunya bahkan separuh dari uang sakumu seharinya."
Anjani terdiam melihat perdebatan ayah dan anak itu. Uang lima ratus ribu baginya sangat banyak bisa untuk bayar uang kos sebulan. Penghasilannya mengajar juga tidak seberapa hingga dia harus makan satu atau dua kali saja selama sehari. Sedangkan untuk biaya lainnya dia mengandalkan pekerjaannya sebagai penulis lepas di platform. Terkadang dia dapat uang tambahan dari sana terkadang tidak sama sekali.
Terakhir gaji menulisnya dia serahkan pada Cindy ibu tirinya tanpa sepengetahuan ayah. Wanita itu menangis di telepon karena rentenir datang ke rumah menagih uang, jika tidak mereka sekeluarga akan diusir dari rumah. Anjani tidak tega, bagaimanapun Cindy bukan tipe ibu tiri kejam yang suka menyiksanya. Dia hanya kesal pada sikap Cindy yang selalu menutupi kesalahan Elang dan membenarkan tindakannya. Dia juga kecewa pada ayahnya yang lebih suka membela Cindy dan Elang dari pada membela anak kandungnya sendiri.
Akhirnya, uang untuk membayar uang kuliahnya di serahkan pada Cindy. Anjani rela dimarahi habis-habisan oleh dekan karena telat belum membayarnya dan dilarang kuliah hingga dia melunasi semua biaya kuliahnya. Baginya kebahagiaan ayahnya lebih penting dari apapun juga.
"Apa kau sudah makan pagi?" tanya Abimanyu pada Anjani yang terlihat melamun semenjak mereka di dalam mobil.
Anjani terhenyak dari lamunannya dan melihat ke arah Abimanyu yang sedang konsentrasi menyetir.
"Aku sudah terbiasa tidak sarapan pagi, jadi itu bukan suatu masalah untuk saya," jawab Anjani.
Abimanyu lalu menoleh sebentar, lalu kembali lagi melihat ke depan. Dia menghentikan kendaraannya di depan stand makanan yang menjajakan berbagai jenis jajanan pagi.
Abimanyu mengambil dompetnya lagi dan menyerahkan dua lembar uang merah pada Anjani. "Beli makanan untukmu," katanya dingin membuat Anjani terkejut membuka mulutnya sejenak.
__ADS_1
"Tidak perlu Pak saya sudah ter..." perkataan Anjani terhenti seketika.
"Turuti atau kau kucium lagi!" kata Abimanyu keblabasan. Membuat ketiga anaknya yang sedang bercanda terdiam dan melihat ke arah mereka. Wajah Anjani memerah lagi seketika.