
"Tirta, makan dengan tenang," kata Abimanyu melihat Tirta makan dengan menggoda Bumi.
"Bayu letakkan headphonemu dan fokus pada makanan," perintahnya lagi pada Bayu. Anjani yang berdiri di belakang Bumi mengangkat kedua alisnya memandangi Abimanyu. Pria itu membalasnya dengan lirikan yang tajam.
Anjani menahan tawa sembari menundukkan wajahnya, memainkan kaki di lantai. Entah mengapa, tingkah wanita itu seperti mengejek Abimanyu membuat pria itu semakin gerah dengan kehadiran wanita itu.
Abimanyu melihat Bumi yang makan ayam goreng dengan tangannya. "Bumi pakai sendok dan garpu!"
"Sulit, Yah," jawab Bumi.
"Belajar agar terbiasa," lanjut Abimanyu. Anjani menarik nafas sembari menggelengkan kepalanya.
"Biar aku bantu," kata Anjani.
"Jika dia kau bantu kapan dia akan belajar makan sendiri," cegah Abimanyu.
"Dia masih anak-anak, memotong daging bukan hal mudah baginya," jawab Anjani lembut hendak mengambil sendok dan garpu di tangan Bumi.
"Anjani tugasmu adalah mengajari anak-anak bukan memanjakan mereka," ujar Abimanyu.
"Jika membagi kasih sayang itu artinya memanjakan maka itu salah, seiiring waktu anak akan bisa belajar semuanya sendiri dengan benar tetapi ketika dia belum bisa melakukannya, ada baiknya orang tua membantunya terlebih dahulu."
Abimanyu terdiam, kalah bicara dengan Anjani. Anjani sendiri mulai membantu Bumi membuat suwiran kecil daging ayam dengan garpu.
Bayu tersenyum dan saling bertatap senang dengan Tirta. Di bawah meja mereka mengacungkan jempol.
Bumi bertepuk tangan senang dan mencium pipi Anjani. Sedangkan Marsellina bertambah tidak suka dengan kehadiran Anjani. Wanita itu seperti menabuh gendang perang dengannya dari awal kedatangan dia ke rumah ini.
Abimanyu menyelesaikan makanannya terlebih dahulu. Dia lalu berjalan pergi dari ruangan itu tetapi sebelumnya dia mendekati Anjani.
"Tugas pertamamu adalah membuat tiga anakku belajar dan membantu mereka mengerjakan tugas sekolah. Setelah itu suruh mereka tidur. Setelah semuanya kau selesaikan, temui aku di ruang kerja!" perintah Abimanyu.
Anjani menganggukkan kepalanya dengan sopan. Sepeninggal Abimanyu anak-anak bernafas lega. Mereka lalu mulai makan sembari bergurau.
__ADS_1
"Anak-anak jika ayah kalian melihat kalian seperti ini maka dia akan marah," kata Marsellina.
"Biarkan saja Kak, mereka itu anak. Sudah biasa jika melakukan sesuatunya dengan bercanda itu berarti mereka tidak hidup dalam rasa terkekang, jiwa mereka bebas," ujar Anjani.
"Panggil aku Bu kepala. Ini rumahnya orang kaya jadi anak diajarkan tatacara aturan yang sesuai dengan tingkat derajat mereka. Penuh kesopan santunan dan adab."
"Membosankan," sela Bayu.
"Kau benar, Kak." Tirta setuju dengan perkataan Bayu. Marsellina yang merasa kalah suara lalu meninggalkan ruangan itu dengan menghentak sepatu ke lantai dengan keras. Bayu dan Tirta tertawa keras setelah kepergian wanita itu.
Anjani menarik satu kursi dan duduk di dekat Bumi, dia mulai menyuapi Bumi dengan di selingi canda serta tawa.
Dari atas Abimanyu mendengar tawa anak-anaknya dari bawah. Hal lama yang tidak pernah dia dengar semenjak istrinya meninggal dunia. Dalam hatinya dia mulai bertanya-tanya. Apakah dia terlalu bersikap keras pada anaknya sehingga membuat mereka tidak nyaman berada di sampingnya?
Satu jam kemudian suasana kembali hening walau sesekali terdengar gelak tawa. Abimanyu yang sedang konsentrasi pada pekerjaannya mulai merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada anak-anak. Dia keluar dari ruang kerjanya mencari anak-anak di dalam kamar mereka namun tidak ada. Bukankah dia sudah menyuruh Anjani untuk menyuruh mereka belajar?
Terdengar suara orang berbicara dari ruang televisi. Dia geram sekali mengetahui anaknya menonton televisi bukannya belajar. Dengan wajah tegang dia mulai masuk ke dalam ruang tengah yang ada di lantai dua. Dia ingin berteriak pada Anjani tetapi yang dilihatnya anak-anak itu sedang belajar bersama.
"Bu, aku tidak bisa menyelesaikan soal nomer lima ini!" kata Tirta.
''Bu itik ini warnanya apa?" tanya Bumi yang sedang belajar mewarnai.
"Diwarnai kuning Bumi," jawab Bayu membantu adiknya menemukan pinsil dengan warna yang tepat.
Abimanyu menyenderkan tubuhnya pada tembok melihat kejadian itu. Sampai beberapa waktu tidak ada yang menyadari keberadaannya. Hingga Bumi melihat ke arah Abimanyu.
"Ayah, lihat gambar hewan milikku," serunya bangkit dan berlari mendekati ayahnya sembari membawa buku pelajaran dari sekolah.
"Ayah lihat baguskan?" tanya Bumi memperlihatkan gambarnya. Abimanyu menganggukkan kepala.
"Aku lelah, Bu mau tidur dulu," kata Bayu yang malas dengan kedatangan ayahnya.
"Lho bukankah ada jawaban yang belum selesai?" tanya Anjani.
__ADS_1
"Aku akan menyelesaikannya di kamar saja," balas anak itu.
"Aku juga mau belajar bersama kakak di kamar," beo Tirta menutup bukunya dan berjalan di belakang Bayu melewati Abimanyu begitu saja.
Anjani menutup bibirnya rapat. "Aku sudah selesai, Bu, aku juga mau tidur. Ibu Anjani mau membacakan cerita untukku. Jika Ayah yang membacakannya terlalu membosankan," ujar Bumi.
Anjani menganggukkan kepalanya. Bumi lalu menarik tangan Anjani keluar dari ruangan itu melewati Abimanyu.
Baru saja beberapa jam wanita itu di sini membuat Abimanyu terasa tersingkirkan kehadirannya. Wanita itu telah merebut perhatian anaknya. Sebenarnya ini bagus namun mengapa dia tidak suka dengan kejadian ini.
Yang dia harapkan Anjani akan kewalahan menghadapi tingkah laku anaknya dan mengangkat kakinya dari rumah ini tanpa dia usir terlebih dahulu. Nyatanya, anak-anak malah nyaman bersama dengan dia dan Abimanyu sendiri merasa menjadi musuh yang nyata bagi ketiga buah hatinya.
Setelah menidurkan Bumi, Anjani yang lelah melangkah memasuki kamar tidurnya. Dia hendak masuk ketika Abimanyu memanggilnya.
Anjani menarik nafas dan membalikkan tubuh.
"Ada apa Pak?" tanya Anjani.
"Kau lupa seharusnya kau menemuiku setelah menidurkan anak-anak. Ada beberapa hal yang belum kita bicarakan berkaitan dengan pekerjaanmu," kata Abimanyu datar. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah ruang kerjanya.
Anjani menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan. Di ruangan itu terdapat rak besar berisi buku-buku tentang ekonomi berbahasa Inggris. Ada sebuah jendela lumayan besar di depan jendela itu ada dua kursi yang saling berhadapan dan sebuah meja kerja yang besar terbuat dari kayu hitam dan keras.
Satu komputer berlogo apel digigit tikus. Tumpukan map yang berserakan menggambarkan jika pria ini belum menyelesaikan pekerjaannya padahal sudah malam. Dua cangkir kopi hitam. Oh, itu sangat tidak baik jika mengkonsumsi secara berlebihan.
"Ada apa Anda memanggil saya Tuan?" tanya Anjani.
"Saya hanya memberikan beberapa jadwal anak selama seminggu," kata Abimanyu menyerahkan selembar kertas pada Anjani.
"Les matematika, les piano, les bahasa Inggris, les bahasa Mandarin, latihan silat, olah raga," baca Anjani keras. Dia meletakkan kertas itu dimeja dengan keras.
"Mereka anak-anak bukan robot yang harus diatur untuk melakukan ini dan itu tanpa diberikan kebebasan untuk berekspresi, mereka butuh waktu untuk diri mereka sendiri," ujar Anjani.
Wajah Abimanyu mulai memerah, dia lalu berdiri.
__ADS_1
"Pekerjaanmu disini hanya sebagai mentor untuk mendisiplinkan anak-anak," seru Abimanyu marah.
"Tugas saya adalah pengajar, pengajar itu tugasnya mengajarkan hal yang baik dan buruk pada muridnya. Dan saya bukan pelatih militer yang akan memberi hukuman pada anak didiknya jika tidak memenuhi perintah jika tidak disiplin,'' balas Anjani berani. "Jadi cara kerja saya akan berbeda dengan cara kerja Anda!"