
"Itu tidak mungkin, aku bukan tipenya dan dia bukan tipeku," kata Anjani tertawa.
"Lagian kita sudah saling mencintai sudah lama, kau masih saja tidak percaya padaku," kata Anjani.
"Lama pula aku menantimu untuk mengatakan ya dan kini setelah kita bersama ternyata cobaan itu masih tetap ada."
"Mencintai itu bukan hanya soal kata tetapi soal kepercayaan jika kita sudah tidak saling percaya maka hubungan kita akan hancur dengan sendirinya," ucap Anjani.
Mereka lalu sama-sama terdiam.
"Anjani kapan kau akan kuliah lagi?" tanya Devan.
"Mungkin setelah gajihan bulan depan," jawab Anjani bersemangat.
"Bulan depan? Kau bisa memakai uangku dulu nanti kau bayar setelah kau mendapatkan gaji," tawar Devan.
"Walau aku kekurangan uang, aku tidak akan memintanya padamu. Aku memang miskin tetapi aku punya harga diri. Harga diriku akan jatuh jika aku melakukannya, orang akan mengira jika aku memanfaatkanmu. Demi Tuhan Devan aku tidak mau sampai ada orang yang mengatakannya."
Devan menghela nafas. Dia memahami sikap Anjani ini. Sikap yang melambangkan kehormatan dan kemandirian seorang wanita.
***
"Anak-anak makan makanan kalian!" kata Abimanyu yang melihat anak-anaknya sedang lesu. Mereka nampak tidak semangat menyantap makanan itu.
Sesekali mereka melirik ke arah jam di dinding atau melihat ke arah pintu keluar. Lalu menunduk lagi.
"Aku sudah kenyang," kata Bumi lalu turun dan pergi ke kamarnya.
"Aku juga, Yah!" ujar Tirta.
Tinggal Abimanyu sendiri karena Bayu masih berada di luar bersama kawan-kawannya dan Citra masih betah tinggal di apartemen Evangelin adiknya.
Marsellina masih setia menunggu Abimanyu makan. Dia melayani pria itu dengan sangat sabar.
"Sudah, Tuan Presiden," tanya Citra melihat Abimanyu menyingkirkan makanannya.
__ADS_1
Abimanyu meletakkan serbet di meja dan bangkit tanpa menjawab perkataan Marsellina. Dia bertanya pada diri sendiri mengapa hari ini berbeda? Kemarin-kemarin hidup mereka pun baik-baik saja tanpa Anjani tetapi mengapa rumah ini terasa sepi padahal wanita itu baru pergi seharian ini.
Abimanyu membuka pintu rumah dan melihat ke arah luar. Belum nampak juga wanita itu pulang ke rumah. Apa yang dia lakukan dengan kekasihnya di sana dan mengapa dia harus peduli?
Pintu gerbang mulai terbuka Abimanyu lalu mengalihkan pandangan ke arah sana. Ternyata itu adalah Bayu yang baru pulang bersama temannya membonceng sebuah motor balap dan Bayu yang ada di depan.
"Selamat malam, Om," sapa teman-teman Bayu. Abimanyu menganggukkan kepalanya. Para pemuda itu lalu pergi lagi setelah berpamitan.
"Ayah, Ibu Anjani ada diluar bersama kekasihnya," kata Bayu berlalu pergi. Abimanyu terkejut Bayu mengatakan itu, dia memandang punggung anaknya yang terlihat kesal. Entah karena apa?
Abimanyu lalu menatap ke arah gerbang dan tidak lama kemudian Anjani masuk dengan tas ransel di punggungnya. Wajah wanita itu nampak lelah tetapi tersenyum sendiri.
Abimanyu mengisi dadanya dengan oksigen agar udara segar bisa masuk ke otaknya yang sudah mulai tidak sinkron.
"Eh, Bapak masih ada diluar?" sapa Anjani tersenyum.
"Iya tadi menunggu Bayu pulang," kata Abimanyu.
"Aku lihat dia baru saja sudah masuk ke dalam rumah," kata Anjani. Di saat itu Abimanyu melihat Marsellina sedang keluar dari rumah untuk kembali pulang.
Mulut Anjani membentuk huruf O sembari mengikuti arah mata Abimanyu. Mungkin mereka sedang ingin membahas masalah pribadi. Mungkin mereka akan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang serius. Batin Anjani.
"Kalau begitu semangat Pak, semoga berhasil," kata Anjani setengah berbisik lalu pergi begitu saja.
"Ngomong apa anak itu," batin Abimanyu kesal.
"Ibu kepala, Pak Abimanyu ingin bicara rahasia dengan Ibu," bisik Anjani lirih pada Marselina. Wajah Marsellina terlihat terkejut, dia lalu memandang ke arah Abimanyu. Berharap pujaan hatinya akan menyatakan cinta.
Dada Marsellina berdegub kencang ketika berjalan ke arah Abimanyu. Dia menunduk sembari menyelipkan rambut ke belakang telinganya.
"Tuan Presiden, kata Anjani Anda ingin berbicara dengan saya," ucap Marsellina gemetar. Dia lalu menggigit bibirnya untuk mengatasi rasa canggung yang menyergapnya.
"Sialan!" rutuk Abimanyu dalam hati. Wanita itu malah memasukkannya dalam masalah lain.
"Oh, ya saya ingin bertanya apakah uang belanja masih ada?" tanya Abimanyu mencari alasan tepat untuk keluar dari masalah ini.
__ADS_1
Air muka Marselina langsung berubah drastis. Impiannya melayang hancur seketika. Anjani sepertinya sedang mengerjai dirinya. Wajahnya berubah memerah menahan marah tetapi senyum tetap terlihat jelas ketika menatap pujaan hatinya.
"Masih ada Tuan," jawab Marselina.
"Saya hanya takut Ibu tidak memberi uang lebih untuk belanja karena sampai sekarang dia belum kembali juga. Jika ada kekurangan tinggal katakan saja," kata Abimanyu lalu meninggalkan Marsellina sendiri.
Marsellina mengepalkan tangannya erat. "Anjani awas kau!"
Sedangkan Abimanyu pergi ke atas, pertama dia masuk ke kamar Bayu. Anak itu terlihat sedang mengganti bajunya dengan baju tidur.
"Tumben kau pulang cepat," kata Abimanyu.
"Pulang cepat ditanyain pulang terlambat dimarahi," balas Bayu.
"Ayah senang melihat perubahanmu," kata Abimanyu.
"Aku juga senang melihat ayah sudah tidak suka marah-marah lagi," kata Bayu.
"Maafkan ayah yang terlalu keras pada kalian selama ini." Bayu menganggukkan kepalanya.
"Dulu ada Ibu yang membantu mengurus kalian. Sepeninggalnya, ayah begitu terkejut menghadapi tingkah laku kalian. Ayah berusaha menjadi orang tua yang sempurna untuk kalian tetapi yang ayah lakukan malah sebaliknya. Ayah begitu posesif dan berpikir dari sisi Ayah tidak melihat pada diri kalian serta bertanya apa yang kalian inginkan. Ayah lupa jika kalian juga butuh waktu menerima kepergian ibu. Bukannya memberi kalian perhatian lebih, Ayah malah menuntut banyak. Maafkan Ayahmu ini, Nak!" ucap Abimanyu memeluk Bayu. Satu titik air mata lolos begitu saja tanpa dia bisa tahan.
Bayu tidak mengatakan apapun hanya memeluk ayahnya saja. "Terkadang aku sangat rindu pada Ibu, namun tidak mungkin dia kembali lagi. Yang bisa dilakukan hanya mencoba untuk mengikhlaskan kepergiannya. Namun itu sangat sulit." Bayu terisak.
"Kami sangat membutuhkan nya namun mengapa Tuhan mengambilnya dengan begitu cepat," ungkap Bayu. Abimanyu memperdalam pelukannya pada Bayu.
"Semua sudah takdir, Nak. Kita hanya bisa menjalaninya dengan baik. Ayah sudah bersyukur karena Ibumu meninggalkan anak-anak manis seperti kalian. Kalian membuat semangat hidup ayah yang hampir punah bangkit kembali."
Bayu menganggukkan kepalanya lalu melepaskan pelukan itu. Abimanyu lalu mengusap pipi Bayu yang basah.
"Sesekali pria memang menangis tetapi jangan sering melakukannya karena akan terlihat lemah," ucap Abimanyu. Bayu menganggukkan kepalanya mengerti sembari mengusap cairan di hidung dengan lengan bajunya.
"Ibu Anjani seperti Ibu," kata Bayu tiba-tiba. Abimanyu terkejut melihat ke arah anaknya.
***
__ADS_1
Like, Vote, komentarnya ya....