Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Rindu Ibu


__ADS_3

"Baiklah," kata Anjani lemas. Dia lalu menghela nafas dan menelan Salivanya. Satu pukulan tepat mengenai wajah Abimanyu tetapi pria itu langsung memegang tangannya yang lembut.


"Kau tahu tangan wanita itu harusnya digunakan untuk menyentuh dengan lembut bukan memukul keras," kata Abimanyu menurunkan tangan Anjani ke bawah dan mengunci ke belakang tubuh. Dia menarik tubuh Anjani mendekat ke arahnya. Kaki Anjani bergerak untuk menendang pria itu tetapi di kunci oleh kaki Abimanyu sehingga mereka jatuh ke lantai.


Bugh!


"Lepaskan aku," kata Anjani berusaha melepaskan diri. Namun, tiba-tiba bibir Abimanyu membekap bibir Anjani dan melu- matnya pelan, namun itu hanya sesaat dan detik kemudian menjadi lebih menuntut. Tangan satu Abimanyu memegang rahang Anjani keras.


Membuat Anjani terkejut. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun, bahkan Devan pria yang dia cintai selalu bersikap sopan padanya.


Satu tangan Anjani memukul tubuh Abimanyu tetapi oleh pria itu diabaikan hingga membuat Anjani terdiam dan menerima apa yang dilakukan pria itu karena seluruh tubuhnya terkunci dalam tubuh pria itu.


Hatinya sakit diperlukan dengan tidak senonoh oleh pria itu. Hingga air mata mengalir dari kedua sudut matanya.


Abiamanyu lalu melepaskan ciuman itu dan tersenyum. Dia menyeka air mata di mata Anjani.


"Aku bukan mau melecehkanmu, hanya saja hati-hatilah dengan kata-kata yang kau ucapkan. Jangan menghina seseorang. Tidak ada pria yang suka dibilang lemah termasuk aku," kata Abimanyu menatap manik mata Anjani. Ibu jarinya mengusap bibir Anjani, "Aku hanya memberimu sedikit pelajaran agar bibir ini tidak selalu membantah apa yang aku katakan."


Pria itu lalu turun dari tubuh Anjani. Wanita itu langsung berlari cepat meninggalkan pria itu sendiri. Abimanyu menyeringai. Dia bisa menebak jika wanita itu bukan wanita berpengalaman apalagi wanita nakal.


Jejak manis masih terasa di bibirnya, sesuatu telah mengeras bukti kejantanannya masih waras. Hanya tidak pernah diasah sepeninggal istrinya tiada. Dia bukan pria yang suka bermain-main dengan wanita. Dia tipe pria setia.


"Anjani ... ," gumam pria itu menjilat ibu jari yang telah menyentuh bibir lembut Anjani.


Anjani sendiri langsung berlari masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Dia lalu duduk bersimpuh di lantai bersandar pada pintu. Tangisnya pecah di sana namun sembari menggigit erat tangannya agar suara tidak keluar dari kerongkongan.


Pria itu sungguh kurang ajar mengambil ciuman pertamanya, sebenarnya bukan ciuman pertama karena Devan sering mengecup bibirnya. Tapi hanya sebatas tidak sampai yang dilakukan oleh Abimanyu.


"Dasar duda lapuk, pria brengsek, tidak punya hati." Berbagai umpatan dia layangkan untuk Abimanyu hingga dia lelah dan bangkit lalu berjalan ke atas ranjang yang empuk dan harum dan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah lahir dan batin.


Pagi hari sekali, Anjani sudah mandi memakai batik dan rok span seperti biasanya menggelung rambutnya ke atas dan menyapukan wajahnya dengan make up tipis. Sebuah cologne yang dia beli di warung, digunakan untuk melengkapi penampilannya.


Anjani lalu keluar kamar dan melihat Marsellina yang pulang ke rumahnya tadi malam sudah kembali lagi, Anjani melihat jam yang melingkar ditangannya. Pukul 5.15, masih pagi dan dia sudah mulai bekerja. Benar-benar wanita yang penuh dedikasi terhadap pekerjaannya.

__ADS_1


Anjani tersenyum pada Marsellina. "Selamat pagi Bu Kepala."


"Kau sudah siap pagi ini Bu Mentor?" balas Marsellina.


"Ini hari pertamaku jadi harus melakukan yang terbaik," kata Anjani.


"Semangat kau pasti bisa. Aku akan ke kamar Tuan terlebih dahulu untuk membangunkannya," kata Marsellina berusaha untuk memanasi Anjani dan memperlihatkan kedudukan wanita itu pada Anjani.


"Aku akan membangunkan anak-anak," kata Anjani.


Anjani bergidik ngeri mendengar nama 'Tuan' mengingat kejadian tadi malam di mana pria itu bertindak cepat menjatuhkan dan melecehkannya.


Pasti dia pria mesum. Pikir Anjani. Anjani melihat Marsellina masuk ke dalam kamar Abimanyu dan berpikir yang tidak-tidak mengenai pria itu.


Seorang duda membutuhkan tempat menyalurkan hasrat, pasti pria itu sering melakukan yang tidak-tidak dengan Marselina. Dia bisa melihat betapa gencarnya Marselina mendekati Abimanyu. Anjani bergidik ngeri dan jijik membayangkannya.


Anjani lalu mengetuk kamar Bayu dan memanggilnya. Namun tidak ada sahutan juga. Anjani lalu membuka perlahan kamar itu dan melihat Bayu masih tertidur dengan headphone di telinganya dan handphone di sebelah tubuhnya.


Anjani menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam kamar itu. Berderet poster pembalap berderet di dinding kamar. Dia juga melihat foto keluarga Abimanyu lengkap di atas nakas dekat tempat tidur Bayu.


Sebuah potret keluarga yang bahagia. Pantas saja jika kematian ibunya memukul hati ketiga buah hati mereka.


Anjani meletakkan foto itu kembali pada tempatnya. Dia mengambil headphone di kepala Bayu dengan pelan.


"Bayu, bangun, ini sudah pagi."


"Ibu, ini masih malam, aku mengantuk," gumam Bayu masih dengan memejamkan matanya.


"Bayu, kau harus berangkat ke sekolah," kata Anjani. Dia diberitahu oleh Anggun jika skorsing untuk Bayu serta Tirta dibatalkan. Semua bisa terjadi karena bantuan Ayah Anggun sebagai pemilik yayasan sekolah itu.


"Bu, aku tidak mau sekolah lagi," kata Bayu yang masih belum sadar.


Anjani lalu duduk di sebelah Bayu dan menepuk bahu Bayu.

__ADS_1


"Kau harus bangun, jika tidak masa depanmu suram. Kau harus menjadi contoh yang baik untuk mereka."


"Bu, biarkan aku tidur sebentar lagi." Bayu mengganti posisi tidurnya menghadap ke tembok lalu menarik selimut.


Anjani yang gemas lalu menarik selimut itu. Membuat Bayu terkejut dan membuka matanya.


"Kakak," panggil Bayu terkejut pada Anjani.


"Bangun sekarang karena sudah siang, kau akan terlambat ke sekolah jika lima belas menit lagi belum siap!" kata Anjani.


"Aku diskorsing," ucap Bayu.


"Skorsing dibatalkan. Kali jangan kecewakan ibumu karena tingkahmu. Dia di sana melihat apa yang kau lakukan dan merasa sedih ketika kau tidak menjadi apa yang dia harapkan!" ungkap Anjani.


Bayu menunduk.


"Ayo, aku menunggu di bawah dua puluh menit lagi!" kata Anjani.


Setelah membangunkan Bayu Anjani beralih ke kamar depan Bayu bersebelahan dengan kamar Abimanyu. Dia melihat Tirta sedang melamun di depan jendela.


"Kau sudah bangun rupanya kenapa belum bersiap ke sekolah?" tanya Anjani.


"Aku diskorsing," jawab Tirta lesu.


"Tidak lagi tadi Ibu Anggun memberitahuku mengenai berita ini. Kini kau harus bersiap ke sekolah sekarang."


Tirta terlihat bergembira tetapi wajahnya kembali ditekuk dan duduk lemas di pinggiran tempat tidur.


"Kenapa?"


"Aku teringat setiap pagi ibu pasti akan mengomel agar aku cepat bangun dan menyiapkan diri untuk ke sekolah," kata Tirta terisak, mengusap air matanya. Anjani duduk di sebelah Tirta dan mendekapnya. Hatinya ikut perih dan ngelu, tahu apa yang Tirta rasakan, hidup tanpa ada ibu kandung di sisinya. Walau Cindy selalu bersikap layaknya seorang ibu pada umumnya tetapi dia ingin mengenal ibu kandungnya.


"Kau merindukannya?"

__ADS_1


"Sangat," isak Tirta memeluk Anjani erat.


Abimanyu yang baru saja keluar dari kamarnya melihat kebersamaan Anjani dan Tirta. Ternyata wanita itu benar jika anak-anaknya butuh perhatian lebih.


__ADS_2