
"Selalu lemah bila berurusan dengannya? Apakah maksud Ibu kakak menyukainya?"
"Kemungkinan besar ya, jika tidak dia tidak akan menyuruh kita membersihkan semua barang-barang Lara berharga puluhan milyar ini begitu saja."
"Dia hanya menyuruh kita membuang semua baju dan sepatu mahal serta aksesoris Kak Lara tidak dengan deretan tas branded yang harganya selangit." Wajah Eva melihat ke arah deretan tas yang dipajang di etalase.
"Dia memintaku untuk menjualnya satu persatu," kata Eva.
"Lara itu berasal dari keluarga kau tahu sendiri. Dia terbiasa hidup dalam kemewahan dan Abimanyu terlihat sangat berat mengikuti gaya hidupnya. Aku dan kakakmu sering bertengkar karena masalah ini namun Lara menganggapnya berbeda. Terakhir aku marah pada Lara karena uang yang biasa Abi berikan di potong lima puluh persen hanya karena aku mengungkit masalah ini ke Abi. Herannya, Abi membela istrinya. Cinta membuat Abi tidak bisa berpikir jernih."
"Ibu tidak pernah bercerita masalah ini?"
__ADS_1
"Untuk apa, karena setelah itu dia jatuh sakit dan meninggal. Aku tidak sampai hati untuk mengungkapnya di depan anak-anakku."
"Kenapa Kak Lara seperti itu, sepertinya aneh bukankah selama bertahun-tahun kalian hidup akur?"
"Entahlah, beberapa bulan sebelum dia sakit dan meninggal tingkah Lara semakin aneh. Dia seperti bukan Lara yang Ibu kenal. Mudah emosi dan tersinggung. Ibu mengira Lara dan Abimanyu sedang ada konflik yang menyebabkannya seperti itu," ungkap Citra tanpa mau menerangkan semuanya lebih dalam.
"Konflik apa, Bu," tanya Evangeline penasaran.
"Konflik rumah tangga," jawab Citra. "Itu biasa dialami oleh semua pasangan. Kau jangan berpikir macam-macam."
***
__ADS_1
Abimanyu memandangi Anjani, kemudian mengulurkan tangan, meraih beberapa helai rambut yang tergerai dan menyalipkannya di belakang telinga Anjani.
"Seharusnya yang kulakukan dari beberapa bulan lalu adalah memperkerjakan mentor yang cantik sepertimu." Abimanyu bisa melihat wajah merah Anjani yang menunduk.
Telapak tangan Abimanyu bergerak menyapu wajah Anjani dengan lembut, menelusuri bibir bawahnya dengan ibu jari. Anjani bisa merasakan detak jantungnya berdebar keras, merasakan dirinya terengah akibat sentuhan lelaki itu.
Kemudian bibirnya mengantikan ibu jarinya, panas, berat di bibir Anjani. Lidah lelaki itu membelai lidah Anjani, membelitnya, sementara tangan lelaki itu memeluknya semakin rapat.
Abimanyu mencium bibir Anjani dengan ringan lalu dengan kuat dan Anjani membalasnya dengan penuh bersemangat. Menarik kepala pria itu mendekat dan senang ketika merasakan bibir, tubuh, dan semua hal tentang pria itu ada didekatnya. Sebuah perasaan yang belum pernah dia kenal sebelumnya.
Dia takut dengan buru-buru mengatakan ini cinta atau hanya nafsu saja tetapi dia berjanji akan mulai belajar untuk mencintai suaminya mulai hari ini.
__ADS_1
Abimanyu mulai menarik tali piyama Anjani lalu menurunkannya. Dia takjub melihat lingerie merah itu benar-benar di pakai oleh Anjani. Sangat kontras dengan warna kulitnya.
"Kau luar biasa, sesuai dengan imajinasi ku," ujar Abimanyu berdecak kagum menikmati pemandangan di depannya. Sedangkan Anjani merasa malu karena ini pertama kalinya dia mengekspos tubuhnya di depan seorang pria.