Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Pikiran Orang


__ADS_3

Tepat pukul enam petang, Abimanyu pulang ke rumah. Dia langsung pergi ke kamarnya tetapi sempat mendengar riuh tawa anak-anaknya dan Anjani. Dia ingin mengintip tetapi dia urungkan. Dia harus membersihkan diri dulu dan bersiap.


Tiga puluh menit kemudian Abimanyu telah selesai berpakaian resmi dengan stelan suit berwarna abu-abu bergaris hitam dan rambutnya di sisir rapi ke belakang. Dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Parfum ini mengandung wangi aroma woody, black pepper, dan citrus, parfum ini menonjolkan sisi maskulin yang membuat setiap wanita jatuh hati. 


Dia lalu merapikan jasnya dengan percaya diri lalu berjalan melangkah keluar dari kamarnya. Dia melongok kamar Anjani sudah kosong mungkin dia berada di bawah.


Abimanyu lantas berjalan ke lantai bawah. Dia menghentikan langkahnya ketika melihat tampilan Anjani yang memukau. Dia memakai gaun berwarna merah terang, yang memperlihatkan bahunya yang indah. Lekuk tubuhnya terlihat jelas.


Riasan Anjani kali ini juga terlihat dewasa, dia memberikan jempol pada Misya, perias serta perancang langganan ibunya dan almarhum istrinya dulu. Apakah dia harus memberikan pujian atau makian pada Misya karena membuat wanitanya cantik dan menarik seperti ini.



Anjani berdiri dengan gugup memegang bahunya. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Hanya saja pandangan mata Abimanyu seperti menelanjanginya tanpa harus melepaskan pakaian yang dia kenakan.


Dia merasa Misya salah memberikan gaun ini padanya. Gaun ini terlihat sangat terbuka dan dia tidak biasa memakainya.


"Ayah lihat Ibu Anja terlihat cantik sekali," teriak Bumi ketika melihat ayahnya muncul.


Tirta dan Bayu yang melihatnya hal itu hanya memutar bola matanya malas. Bumi sering kali bersikap antusias jika soal mentornya itu. Mereka juga menyukai guru itu tetapi bersikap biasa saja tidak lebay seperti Bumi.


"Ayah kenapa hanya membelikan Ibu Anja saja tidak membelikan aku baju seperti itu pula?" rajuk Bumi.


"Tanyakan itu pada Tante Misye mengapa hanya membawa satu untuk Ibu Anja dan kau tidak diberikannya."


"Iya, kenapa Tante A-mis tidak membuatkan ku pakaian seperti itu," ujar Bumi berlagak seperti Bos.


"Tuan Anda jangan melempar masalah ini ke saya," ujar Misye dengan suara tertahan di dekat telinga Abimanyu.


"Okey, besok Tante akan mengirimkannya kemari. Tetapi namaku Misye bukan A - mis."

__ADS_1


Tirta dan Bayu tidak dapat menahan tawa mereka. Mereka terkekek sembari memegang perutnya.


Abimanyu maju mendekat dan tersenyum pada Anjani. "Perfect," ucap pria.'


"Saya dapat bayaran lebih dong, Tuan Presdir?" tanya Misya girang.


"Kau salah dalam memberikan dia gaun seharusnya kau memberikannya yang sedikit tertutup," kata Abimanyu. "Dia akan jadi incaran para pria hidung belang di sana."


"Dan Anda harus memegangnya erat-erat agar jangan ada yang mengambil milik Anda ini Tuan," canda Misye tetapi membuat senyum Abimanyu hilang dan memudar.


"Ya, kau benar. Kali ini aku akan menggenggamnya dengan erat bahkan aku akan mengikatnya agar tidak bisa pergi kemanapun." Ada nada getir yang tersirat dari ucapan Abimanyu. Benarkah ucapan Misye tentang Lara, istri Abimanyu yang telah meninggal dunia? Jika benar maka dia menebak Abimanyu tahu akan hal ini.


Sungguh malang benar nasib pria itu. Hati Anjani ikut sakit membayangkannya. Tetapi semua orang berkata jika Lara adalah wanita yang sempurna. Cantik dan baik hati. Anak-anaknya pun memujanya.


"Kau sudah siap?" tanya Abimanyu merenggangkan lengannya. Anjani merasa kikuk dan enggan jika memasukkan tangannya ke dalam lengan Abimanyu.


Misye yang melihat itu lantas menarik tangan Anjani untuk menggandeng Abimanyu. Anjani terkejut hendak terjatuh karena dia tidak terbiasa memakai highless yang sangat tinggi dan runcing itu. Namun, tangan Abi dengan sigap memegang kedua lengan Anjani sehingga tidak terjatuh.


"Pelan-pelan Misye, aku bisa memotong bayaranmu," kata Abimanyu.


"Asal jangan memotong milikku," kata Misye cepat. Dia langsung menutup mulutnya sendiri karena keceplosan.


"Milik Tante Mis masih berfungsi?" tanya Bayu.


"Eh, anak kecil tidak usah ikut pembicaraan orang dewasa. Katanya itu tidak baik," imbuh Misye. Kedua putra Abimanyu kembali tertawa geli dengan tingkah Misye.


"Ayah pergi dulu, jaga adikmu di rumah dengan baik. Tidak ada Oma dan Bibi Lina jadi ayah harap kalian tidak melakukan tindakan ekstrem dan berlebihan yang a... ," perkataan Abimanyu terhenti ketika Tirta memotongnya.


"Kami tahu Ayah, ayah bisa pergi dengan Ibu Anja dengan tenang."

__ADS_1


Abimanyu menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan mereka bertiga bersama dengan Slamet dan Tuti. Pelayan kepercayaan mereka. Sedangkan pelayan lain dan pengasuh Bumi akan pulang ke rumah jika malam telah tiba.


Berkali-kali Anjani hendak keseleo ketika menginjakkan kaki di tempat yang tidak rata. Memakai sepatu yang terlihat cantik itu ternyata tidak semudah dengan apa yang dibayangkannya. Dia lebih memilih untuk memakai flatshoes miliknya atau snikers dari pada mengenakan sepatu ini. Ini seperti menyiksa kakinya.


"Bisakah kau menahannya sebentar saja. Nanti aku akan mencarikan mu tempat duduk agar kau tidak usah berjalan atau berdiri terlalu lama," ujar Abimanyu khawatir. Dia memegang bahu Anjani erat agar tidak terjatuh sewaktu-waktu.


"Aku baik-baik saja," kata Anjani tersenyum, senyum terindah yang pernah dia lihat.


"Baiklah kalau begitu."


Tuan Gabriel dan istrinya datang menyambut kedatangan mereka. Sejenak semua orang seperti menatap ke arah mereka membuat Anjani gugup dan tegang.


"Rileks," bisik Abimanyu di telinga Anjani membuat telinga wanita itu memerah dan wajahnya menjadi pias.


"Hai, Tuan Abimanyu dan calon istrinya. Nona Anjani," sapa Gabriel menyalami Abimanyu.


"Senang bertemu kembali denganmu, Nona Anja," kata Lusi mencium pipi Anjani dengan lembut. Anjani tersenyum tetapi di saat yang sama senyumnya pudar ketika melihat Devan sedang berdiri di sudut ruangan menatapnya tajam.


Matanya seketika memanas dan dadanya bergemuruh hebat. Devan pasti akan mengira hal yang tidak baik padanya.


"Pestanya terlihat meriah Gabriel," kata Abimanyu.


"Akan lebih meriah setelah kedatanganmu. Apalagi kau membawa wanita cantik dan menarik sepertinya, yang akan membuat heboh semua orang di ruangan ini," ujar Gabriel.


"Iya semua orang penasaran seperti apa pengganti Lara," imbuh Lusi.


Anjani hanya menutup rapat bibirnya. Dia akan di bandingkan dengan Lara sungguh mereka tidak sebanding dari segi apapun. Pikirnya.


"Dia bukan pengganti Lara tetapi dia pilihanku untuk menemani hidupku ke depannya. Lara dan Anjani adalah dua sosok yang berbeda," kata Abimanyu tahu perasaan Anjani. Hal itu membuat beban di hati Anjani sedikit terangkat. Abimanyu mengusap punggung Anjani dengan lembut, memberikan rasa tenang pada wanita itu.

__ADS_1


***


Vote nya dong, goyang jari sedikit plus komentarnya biar othor semangat.


__ADS_2