
Abimanyu sudah berjanji untuk pulang lebih awal hari ini untuk menemui teman-teman ibunya. Dia pergi menjemput Bumi terlebih dahulu baru kembali pulang ke rumah.
Mobil mulai memasuki pekarangan rumahnya yang luas. Berbagai merk mobil mahal terparkir rapi di rumahnya. Terdengar suara gelak tawa dari arah samping rumahnya.
Pesta ini memang dirancang di samping rumah yang berupa taman dan kolam renang di belakang halaman rumahnya. Seorang pengasuh Bumi mulai mendekat, Bumi lalu pergi ke arah pengasuh itu untuk mengganti bajunya.
"Dimana Ibu Anjani?" tanya Bumi yang masih terdengar oleh Abimanyu.
"Ibu Anjani sedang membantu Nyonya Besar di dalam," terang pengasuh Bumi.
Ya, biasanya wanita itu akan menjemput Bumi atau menunggunya di depan pintu tetapi saat ini tidak terlihat. Abimanyu lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Tidak ada, batin Abimanyu. Seperti ada yang kurang jika tidak melihat wanita itu ada di rumah ini. Abimanyu terus berjalan ke arah belakang rumahnya di sana dia di sambut oleh pertanyaan dari para tamunya.
Abimanyu menjawab dan menyapa mereka lalu berjalan lagi ke arah suara ibunya yang berada di sisi kolam renang.
Tiba-tiba nafasnya tercekat. Dia melihat sosok wanita memakai dress merah dengan rambut bergelombang, berada di antara para tamu sedang memegang baki. Dia seperti melihat Lara bangkit dari kubur dan hidup kembali.
Abimanyu mendekat dan langkahnya terhenti ketika sosok itu membalikkan tubuhnya. Di sana ternyata Anjani sedang membawa baki untuk diberikan pada para tamu.
Tangan Abimanyu terkepal erat. Dia lalu membalikkan tubuhnya pergi ke kamarnya. Citra sempat melihat itu dan tersenyum samar.
"Tuan Presiden, Anda sudah kembali?" sapa Marsellina di depan Abimanyu tetapi pria itu malah menyingkirkannya dengan kasar sehingga hampir membuat Marsellina terjatuh.
Sesampainya di kamar Abimanyu langsung ke kamar mandi dan menyalakan keran air hingga air mengucur deras dari atas, membasahi seluruh tubuhnya.
Dia memukul keras tembok yang ada di sana sehingga darah mengalir dan membuat merah genangan air yang ada di kakinya.
Setelah meluapkan emosinya, Abimanyu keluar dari kamar mandi dengan memakai baju piyama, dia lalu memanggil Anjani melalui intercome untuk datang ke kamarnya.
Tidak lama kemudian pintu kamar Abimanyu diketuk.
"Masuk," ujar Abimanyu. Dengan langkah yang terlihat ragu Anjani memandangi Abimanyu yang hanya memakai bathrobe dengan rambut masih basah.
__ADS_1
"A-apa Anda memanggil saja Pak," tanya Anjani gagap dan takut.
"Tutup pintunya," kata Abimanyu. Dengan jantung yang berdebar dan kaki yang gemetar Anjani menutup pintu kamar.
Dia tahu kesalahannya mengapa Abimanyu memanggilnya ke kamar. Ini pasti karena penampilan yang Nyonya Citra berikan padanya.
"Berdiri di depanku," kata Abimanyu menunduk tanpa melihat ke arah Anjani.
"Maaf! Saya rasa ada kesalahan pahaman," kata Anjani menelan ludahnya sendiri.
"Anjani!" geram Abimanyu mengerang.
Anjani lalu berdiri di depan Abimanyu. Pria itu lalu menengadahkan wajahnya dan berdiri di belakang Anjani membuat bulu kuduk Anjani merinding semua.
Dia memutar tubuh Anjani sehingga menghadap kaca besar dalam kamar ini.
"Ini bukan Anjani yang kukenal," kata Abimanyu. Anjani memejamkan matanya takut.
Pria itu lalu mengambil sebuah karet dari laci nakas dan mengikat rambut Anjani asal.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" tanya Abimanyu kesal.
"Nyonya Citra yang menyuruhku melakukan ini," kata Anjani.
"Wanita tua itu lagi," rutuk Abimanyu menghela nafas. Dia lalu membalikkan tubuh Anjani dan menghapus make up dari wajah wanita itu dengan kasar.
"Aku suka kau apa adanya, jangan mau jadi apapun yang orang inginkan, cukup jadi dirimu sendiri," kata Abimanyu. Anjani tidak tahu mengapa sikap Abimanyu langsung berubah seperti ini. Dia seperti bukan Abimanyu yang Anjani kenal.
Tanpa aba-aba pria itu lalu menarik resleting gaunnya sehingga jatuh dan menariknya turun dari tubuh Anjani membuat wanita itu terkejut dan wajahnya pucat pasi sembari menutupi bagian penting tubuhnya sendiri.
"Pak, apa yang kau lakukan!" pekik Anjani terkejut. Abimanyu tetap bersikap dingin. Dia lalu mengambil satu kimono miliknya dan melemparkan pada Anjani.
"Gunakan itu untuk menutup tubuhmu, aku hanya tidak ingin melihat gaun milik Lara melekat di tubuhmu." Abimanyu lalu membalikkan tubuhnya sedangkan seluruh kulit Anjani yang putih langsung memerah semuanya karena malu bercampur marah.
__ADS_1
"Jika sudah keluar dari kamarku sekarang. Ini pelajaran bagimu untuk tidak menuruti semua yang orang ucapkan, namun berhati-hatilah karena tindakanmu bisa saja berakibat fatal."
Setelah memakai piyama yang kebesaran itu Anjani langsung keluar dari kamar itu sembari menangis. Sedangkan, beberapa pelayan yang melihat hanya diam saja tanpa mengatakan satu apapun. Marsellina menatap geram pada apa yang telah terjadi. Walau wanita itu keluar dalam keadaan menangis tetapi apa yang dia merasa bahwa Anjani yang memancing kemarahan Abimanyu.
Anjani pergi ke kamarnya memakai baju dan mengemasi barang-barangnya. Dia merasa apa yang Abimanyu lakukan itu melecehkan dirinya sebagai wanita. Dia lalu berjalan menuju keluar rumah dengan menenteng tas ranselnya. Untung saja dia tidak membawa banyak baju ke rumah ini sehingga dengan mudah dia memasukkan semuanya.
Di ujung tangga dia melihat Bumi yang sedang naik ke atas. Wajah anak itu berseri-seri ketika melihatnya, dia lalu naik ke atas dengan cepat.
"Aku cari Ibu dari tadi," kata Bumi. Matanya begitu terkejut melihat tas besar dipunggung Anjani.
"Ibu Anjani mau kemana?" tanya anak itu dengan pupil yang bergerak-gerak. Anjani lalu berjongkok di depan Bumi dan memegang tangannya.
"Ibu ingin pulang dulu ke rumah," jawab Anjani tidak tega.
"Apakah lama?" Mata Bumi langsung berkaca-kaca.
"Ibu tidak tahu, tetapi kita bisa bertemu lagi di sekolah," tutur manis Anjani.
"Artinya Ibu tidak akan ada di rumah ini?" tanya Bumi dengan suara yang mulai goyah.
Anjani mulai berpikir kata apa yang tepat agar Bumi tidak terlalu terguncang. Dia tahu Bumi sangat menyayangi dirinya jadi tidak mudah baginya untuk mengucapkan kata pamit.
"Ibu harus pulang ke rumah karena ayah ibu juga membutuhkan Ibu di rumah." Sebuah alasan Anjani lontarkan.
Bumi langsung memeluk Anjani. "Aku tidak mau Ibu pergi dari rumah ini."
Isak kecil mulai terdengar.
"Sayang, di rumah ada Ayah, Oma dan pelayan lainnya yang akan menemanimu kau tidak akan kesepian. Kakakmu juga pasti akan selalu berada di dekatmu," kata Anjani.
"Tetapi aku maunya Ibu," teriak Bumi membuat semua orang di tempat itu mendengarnya. Tetapi berbeda di belakang rumah, acara pesta itu diadakan, musik yang keras dan riuhnya peserta membuat semua orang tidak mendengarnya.
"Ada apa ini!" tanya Abimanyu. Dia terkejut melihat Anjani dengan tas ranselnya dan Bumi yang menangis keras.
__ADS_1
Bumi lalu berlari ke arah ayahnya.
"Ayah suruh Ibu Anja tetap berada di sini untuk menemaniku," teriak Bumi.