Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Sepemikiran


__ADS_3

Anjani membuat wajah Abimanyu merah padam setelah membuat posisi duduk yang nyaman untuk pria itu. Saling berhadapan.


"Tenang saja, rileks Pak, aku tidak akan memakanmu," kata Anjani sembari menyunggingkan senyum.


Bagaimana bisa wanita itu tersenyum setelah membuatnya panas dingin seperti ini. Abimanyu rasanya ingin segera berlari dari ruangan itu dan bersembunyi di kamar mandi.


Anjani menyipitkan matanya lalu menarik bibirnya ke atas nampak berpikir.


"Aku ingin sekali tahu bagaimana keadaan anak-anak sepeninggalku."


Abimanyu lalu menarik nafasnya membayangkan apa yang terjadi beberapa hari ini. Semuanya kacau anak-anak berdemo di rumah sepanjang waktu. Bahkan mereka tidak makan hingga esok harinya karena marah.


"Buruk hanya kata itu yang bisa kukatakan," kata Abimanyu tidak menutupi kejadian yang sesungguhnya.


"Lalu bagaimana caramu mengatasinya?"


"Mereka belum menghentikan aksi mereka hingga Bumi sakit," jawab Abimanyu.


Anjani menutup mulutnya. "Itu pasti sangat tidak mengenakkan untukmu. Apakah karena itu kau meminta maaf padaku?"


"Tidak, karena aku ingin melakukannya. Aku merasa apa yang aku lakukan itu sangat keterlaluan. Hanya aku yang mengerti perasaanku seharusnya aku tidak membawamu dalam emosiku," kata Abimanyu.


"Aku tidak mengerti," ujar Anjani.


"Kau tidak perlu mengerti cukup aku yang mengerti dan merasakannya orang lain tidak ada yang boleh tahu. Ini rahasia aku dan Lara yang kami simpan dan tutup rapat selama ini."


Anjani menggigit kuku jempolnya yang buat bersandar sembari mendengar jawaban Abimanyu membuat fokus pria itu terganggu. Pikirannya yang sedang sedih karena teringat akan Lara kini tertuju pada bibir Anjani.


"Aku kira itu kenangan yang indah jadi aku tidak bisa merusaknya, begitukan menurutmu?" kata Anjani. Abimanyu hanya menaikkan bahunya saja.


Di saat itu dia mendapat pesan jika makana yang dia pesan tadi sudah ada di depan rumah sakit Abimanyu lalu keluar dari ruang rawat inap dan mengambil pesanannya.


Di luar Abimanyu menarik nafas lega. Traumanya akan wanita, membuat dia enggan untuk berdekatan dengan mereka. Dia bahkan lebih memilih mengabdikan diri untuk keluarga dari pada pekerjaan dari pada memikirkan urusan ranjang. Baginya dia cukup pernah merasakan hubungan dengan wanita lewat pernikahan dan itu sudah cukup. Tidak akan dia lakukan lagi.


Namun, dari awal kedatangan Anjani membuat darahnya kembali memanas. Bau harum gadis itu saja membuat bulu romanya meremang. Gerakan bibir wanita itu selalu menghilangkan fokus Abimanyu kini ditambah lagi sentuhannya membuat dia menggila.


Dia hanya seorang anak kecil, umurnya separuh dari umurnya tidak mungkin bagi dirinya bersaing dengan anak yang lebih muda dan lebih tampan darinya. Lagi pula, dia menyadari benar jika dia adalah pria yang membosankan dari dulu. Hanya mengerti tentang pekerjaan saja tidak tahu bagaimana harusnya bersikap mesra ataupun melakukan hal-hal yang berbau romantis. Dulu, Lara pun pernah mengeluhkan hal itu padanya.

__ADS_1


Abimanyu segera menemui pembawa pesanannya, lalu kembali lagi ke arah ruang rawat inap Bumi.


Sebelum memasuki kamar, Abimanyu merapikan rambut dan bajunya menghela nafas dan mulai membuka pintu.


Anjani menoleh ketika melihatnya. Abimanyu lantas duduk di sebelah wanita itu dan meletakkan makanan itu diantara mereka.


"Kau cuci tangan dulu," kata Anjani. Abimanyu yang tegang lantas tersenyum dan segera ke kamar mandi. Bahu Anjani diangkat sedikit ke atas melihat tingkah Abimanyu yang aneh.


Mereka lantas duduk berhadapan sembari memakan nasi Padang. Sedangkan, Abimanyu mulai makan pakai sendok. Sedangkan, Anjani memakai tangannya.


"Lebih nikmat menggunakan tangan," ujar Anjani.


"Aku tidak pernah melakukannya."


Anjani menghentikan makannya dan melihat ke arah Abimanyu. "Hidupmu sangat kaku, harus mengikuti aturan dan sopan santun. Sangat membosankan. Terkadang kita perlu keluar dari kebiasaan untuk menemukan sesuatu baru yang lebih menyenangkan lebih menantang. Sebab semangat kita menyala jika ada tantangan di depan mata."


Abimanyu terdiam tetapi mulai meletakkan sendoknya dan belajar makan dari tangan. Awalnya dia bingung hingga tangan Anjani berada di atas tangannya dan mengajarkan cara menggenggam makanan itu.


Bukannya fokus pada keterangan Anjani Abimanyu malah lebih fokus pada wajah wanita itu dan sentuhannya. Dadanya berdegub sangat kencang dan keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya.


Hal yang pernah dia rasakan ketika baru pertama kali melihat Lara enam belas tahun yang lalu. Sejak saat itu hidupnya di dedikasikan untuk membahagiakan wanita itu. Hanya saja Tuhan tidak membiarkan kebahagiaannya berlangsung selamanya dan terus menerus.


"Maaf, mulutmu tadi ada nasinya," kata wanita itu santai lalu kembali mengobrol tentang perkerjaannya sebagai guru hingga makanan mereka habis.


Abimanyu mulai merasa rileks ketika mengobrol dengan wanita itu. Anjani benar dia harus sedikit berubah agar tidak terlihat kaku dan membosankan.


Mereka lalu sama-sama ke wastafel untuk membersihkan tangan dan mulut. Setelah itu mereka kembali lagi ke kamar.


"Kau tidur saja di sofa biar aku duduk menunggui Bumi," perintah Abimanyu.


"Aku tidur ... ," belum juga Anjani menyelesaikan ucapannya Abimanyu merentangkan tangan.


"Kali ini jangan membantahku."


"Ada selimut di tas satunya Anjani," kata Abimanyu menunjuk pada tas di dekat meja yang tadi dibawa oleh Pak Slamet.


Mereka lalu berada dalam posisi masing-masing. Anjani berbaring di sofa panjang. Sedangkan Abimanyu menyeret satu kursi duduk dekat ranjang Bumi.

__ADS_1



VISUAL kamar rawat inap Bumi, ya.


"Pak, boleh saya tentang satu hal dan Bapak harus jujur menjawab."


"Tergantung masalah apa, jika pribadi saya. Saya tidak harus menjawabnya."


"Tidak ini tentang saya sendiri," ujar Anjani mulai merangkai kata.


"Apa itu?" tanya Abimanyu.


"Apakah Bapak yang melunasi uang kuliah saya?" tanya Anjani.


"Dari mana kau bisa berpikir seperti itu?" selidik Abimanyu.


"Karena hanya Bapak yang punya uang sebanyak itu," jawab Anjani.


"Pemikiran yang bagus, karena aku memang kaya."


"Lalu apakah Bapak yang melakukannya," ulang Anjani lagi.


"Iya aku melakukannya."


"Kenapa, Pak?" Anjani lalu kembali duduk tegap menatap Abimanyu.


"Karena aku ingin kau maju ke depan tanpa halangan apapun. Kau bisa meraih cita-citanu jika kau sudah punya ijazah itu. Lalu menyerahkan pada orang tuamu jika kau telah berhasil."


"Itu alasan yang masuk diakal hanya saja aku baru bekerja belum genap satu bulan dan bayaran itu sangat banyak Pak, bukan cuma satu atau dua juta."


"Itu hanya uang sedikit jika dibanding kontribusimu dalam membuat anak-anak menjadi anak-anak yang baik lagi. Aku sangat berterima kasih Anjani."


"Bagiku mereka sudah dianggap menjadi anakku sendiri," kata Anjani.


"Jika saja ada wanita yang sepikiran denganmu, ingin menjadikan anak-anakku sebagai anaknya maka aku akan menikahinya saat ini juga," celetuk Abimanyu.


***

__ADS_1


Sinyalnya Abimanyu ingin mengatakan jika dia ingin Anjani jadi ibu anak-anak nya kira-kira selanjutnya bagaimana ya?


Vote, like, komentar


__ADS_2