Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Posisi yang Cocok


__ADS_3

Berbagai pujian hadir dari mulut Citra yang melihat cucu tirinya tenang mengerjakan tugas sekolah seperti dulu ketika Lara masih hidup. Beberapa hari ini dia memang tinggal di rumah Evangeline karena ingin menenangkan diri. Anak-anak Abimanyu membuat kepalanya hampir pecah setiap hari.


Tetapi ketika melihat keteraturan ini dia berpikir keputusannya yang memasukkan Anjani sebagai mentor adalah tepat. Semua masalah keluarganya teratasi dengan baik.


"Anjani memang wanita yang hebat, dia calon ibu yang baik bagi anak-anakmu," kata Citra ketika mereka berada di kamar Abimanyu. Dia memang ibu tiri bagi Abimanyu tetapi kesedihan dan masalah keluarga ini juga menjadi pikirannya. Jika rumah tidak tenang dia akan ikut pening.


Di masa tuanya dia ingin hidup tenang di rumah. Melakukan perawatan, arisan, dan berlibur bersama teman-temannya keluar negeri. Itu adalah impiannya.


Abimanyu menatap ibu tirinya. "Maksud Ibu?"


"Menikahlah lagi agar anak-anak ada yang menjaga dan kau bisa bekerja dengan tenang." ujar Citra bijak. "Sehingga uang sakuku bertambah banyak karena usahamu bertambah maju." batin Citra.


Citra lalu keluar setelah mengatakan apa yang dia pikirkan. Abimanyu sendiri mulai merenungi semuanya sembari menatap keluar kamar.


Tatapannya beralih pada sosok yang sedang berjalan ke arah taman rumahnya. Wanita itu lalu duduk sendiri dan mulai merenung.


Sedangkan Anjani merasa tidak bisa tidur malam ini. Dia memilih keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan di sekitar taman rumah. Memikirkan semuanya.


Haruskah dia memupus mimpinya untuk menyelesaikan kuliah di tahun ini? Tetapi dari mana dia dapatkan uang sebanyak itu?


Anjani duduk dengan lemas di kursi taman. Menatap bintang-bintang yang malu-malu dan bersembunyi dibalik awan. Bulan sendiri sedang menatap dirinya dari langit, mungkin dia pun sama-sama kesepian seperti dirinya.


Ketika tadi Abimanyu sedang mengajari anak-anaknya, Anjani teringat akan ayahnya yang selalu mengajari dia dan Elang dengan sabar. Ayah selalu memberi semangat kepada mereka untuk jangan menyerah ketika belajar.


"Ayah, aku rindu," lirih Anjani lalu menunduk dan menangis. Abimanyu yang berjalan ke arahnya lalu menghentikan langkahnya melihat ke arah Anjani. Bertanya dalam hati apa yang yang menyebabkan wanita yang selalu terlihat tegar dan kuat itu menitikkan air matanya. Masalah apa yang menghinggapi otaknya sehingga dia bisa terlihat frustasi hingga pergi ke rooftop waktu itu?


"Anja?'' sapa Abimanyu. Anjani terkejut ketika sebuah tangan menyentuh bahunya. Dia langsung menyeka air matanya yang menetes.


"Boleh aku duduk bersamamu?" tanya Abimanyu.


Anjani menganggukkan kepalanya. Abimanyu lalu duduk di sebelah Anjani.


"Malam yang cerah," kata Abimanyu.


"Ya," jawab Anjani lemas.


"Kau menangis?" tanya Abimanyu sembari menyeka setitik air di sudut mata Anjani membuat wanita itu terkejut.


"Aku hanya sedang rindu Ayah. Melihat kebersamaan kau dan anak-anak membuatku teringat akan dia." Anjani tersenyum kaku.

__ADS_1


"Jika rindu, kenapa tidak mengunjunginya," tanya Abimanyu. Anjani melihat ke arahnya sejenak lalu menghela nafas.


"Andai semudah itu," gumam Anjani.


"Apa?"


"Tidak, mungkin aku akan mengunjunginya akhir pekan," jawab Anjani.


"Apakah rumah keluargamu jauh dari sini?"


"Tidak, rumah kami berada sedikit ke pinggir kota ini," jelas Anjani.


"Aku kira kau menangisi kekasihmu?"


Anjani tertawa kecil. Membuat Abimanyu terpana.


"Bapak ini ada-ada saja," jawab Anjani.


"Kalau bisa jangan panggil Bapak jika sedang bersama terdengar canggung, panggil nama saja," ujar Abimanyu.


Anjani memiringkan tubuhnya dan menghadap pada Abimanyu.


"Mas Abi terdengar lebih enak," saran Abimanyu.


"Mas Abi," ulang Anjani lirih.


"Ya." Abimanyu menggaruk hidungnya yang tidak gatal. "Terkadang aku juga butuh teman untuk berbicara namun tidak ada yang mau menjadi temanku. Ehm ada Anggun dan Rudi. Hanya saja mereka juga sibuk, sesekali saja kita bertemu dan berkumpul setiap bulan."


"Jika kau tidak berkeberatan aku ingin memintamu menjadi temanku," kata Abimanyu.


"Teman, baiklah walau terdengar lucu, Bapak itu hampir seumuran ayahku hanya saja lebih tua ayahku beberapa tahun," kata Anjani.


Abimanyu minder dengan perkataan Anjani tadi. Bagaimanapun rentang umur mereka sangat jauh, tidak mungkin baginya untuk mendekati Anjani.


"Kalau kita teman tentu harus saling mengenal. Pertama kali kita bertemu itu sangat buruk sampai saat ini kita belum berkenalan dengan baik. Maukah bapak eh Mas Abi berkenalan denganku dan mulai semua dari awal?" Anjani mengulurkan tangannya.


Abimanyu membalas uluran tangan Anjani. "Abimanyu Wijaya Kusuma, duda ganteng beranak tiga."


Perkataan Abimanyu membuat Anjani memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Anjani, seorang mahasiswa semester akhir jurusan pendidikan guru taman kanak-kanak," balas Anjani tersenyum manis. Mereka lalu melepaskan tautan tangan itu. Anjani memegang pinggiran kursi dan Abimanyu duduk dengan tegap dengan kaki satu dinaikkan ke atas kaki satunya, tangannya disatukan di atas paha. Posisi yang sempurna.


"Jika engkau masih kuliah kenapa aku tidak pernah melihatmu berangkat kuliah."


"Itu, aku, berhenti untuk satu semester ini," kata Anjani.


"Kenapa?" tanya Abimanyu.


"Aku mau bekerja dulu sembari mencari bahan untuk persiapan skripsi," ujar Anjani tanpa mau melihat ke arah Abimanyu.


"Hanya karena itu?" Abimanyu yang terbiasa bertemu dengan banyak orang tahu tentang cara membaca gesture tubuh dan ekspresi orang. Anjani menatapnya.


"Ku kira tidak semua yang kurasakan bisa kubagikan pada orang lain," katanya.


"Baiklah aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu kau punya hak untuk menjawab tidak," kata Abimanyu.


Mereka lalu terdiam sejenak, merasakan semilir angin yang mulai dingin menusuk tulang.


"Pak, eh Mas Abi, jika boleh aku tahu, apa yang menyebabkan istri Anda meninggal?" kata Anjani masih kaku untuk berkata layaknya sahabat.


"Tidak usah canggung seperti itu, anggap saja aku sahabatmu," kata Abimanyu. "Dia meninggal karena sakit yang dia derita selama satu bulan."


"Awalnya dia hanya demam biasa lalu tiba-tiba syarafnya mulai terasa lemas dan lumpuh lalu meninggal," kata Abimanyu.


"Itu karena penyakit apa?" tanya Anjani penasaran.


"Menurut dokter kemungkinan besar karena cikungunya tetapi mengapa sampai menghabisi nyawanya, aku juga tidak tahu?"


"Kalian pasti sangat terpukul dan kehilangannya?"


"Sangat tapi itu lama berlalu dan aku harus bangkit demi tiga anakku," kata Abimanyu.


Anjani menganggukkan kepalanya. "Ya, mereka terlihat masih merasa terpukul karena kematian ibunya. Mungkin mereka butuh sosok pengganti yang bisa mengisi posisi ibu mereka. Walau tidak sama hanya saja bisa sedikit terobati kerinduan mereka."


"Kau tahu mencari wanita yang bisa mencintaiku itu mudah tetapi mencari wanita yang bisa menyayangi anakku seperti anaknya sendiri itu sulit," kata Abimanyu.


"Anda benar, akan sulit mencarinya. Jika pun Anda menemukannya Anda tidak bisa melepaskannya begitu saja. Anda harus berjuang untuk mendapatkannya," kata Anjani.


Abimanyu tersenyum pada Anjani. "Kau benar sangat sulit mencarinya maka dari itu jika aku menemukannya aku akan berusaha untuk menjadikannya ibu bagi anak-anakku dan istriku."

__ADS_1


"Ibu Kepala rumah tangga sepertinya cocok untuk posisi itu, Mas Abi," ungkap Anjani.


__ADS_2