
Abimanyu kembali sibuk dengan i-pad tanpa menghiraukan Anjani yang ada di sebelahnya. Rasa bosan mulai menyerang dan dia hanya melamun sepanjang perjalanan hingga rasa kantukpun menyerang. Anjani tertidur.
Abimanyu melihat kepala Anjani yang hampir membentur jendela. Dia lalu menarik tubuh wanita itu dan meletakkan di bahunya sendiri. Sesekali Abimanyu melirik dan melihat wajah cantik Anjani.
"Tuan Gabriel Atthal sudah menunggu kedatangan Anda dari tadi siang, Tuan President," ungkap asisten Abimanyu.
"Ya, tapi kita harus menemui Pak Tjahyo Mulyono tadi mengurus kontrak pengiriman sawit ke perusahaannya."
"Semoga Tuan Gabriel tidak marah karena keterlambatan kita," imbuh Abimanyu.
"Tetapi menurut penjaga villa, keluarganya senang berada di sana kemungkinan besar dia tidak akan marah."
"Syukurlah. Kapan dia kembali ke Perancis?"
"Mungkin dua hari lagi setelah perpanjangan kerja sama kontrak diperpanjang."
"Baguslah," kata Abimanyu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka sampai di villa Abimanyu yang sedang digunakan rekan bisnisnya untuk menginap sambil liburan. Abimanyu meletakkan kepala Anjani di sandaran kursi. Dia lalu keluar memutar mobil dan menemui Gabriel yang sedang menunggunya di depan rumah.
"Hallo, Tuan Abi, akhirnya kau datang juga." Mereka lalu berjabat tangan.
"Jika boleh saya mau membawa calon istri saya yang sedang tidur di mobil masuk ke dalam terlebih dahulu sebelum kita berbicara."
"Oh, silahkan," kata Gabriel.
Abimanyu lalu kembali masuk ke mobil dan menggendong Intan masuk ke dalam villa, sedangkan asistennya bergerak terlebih dahulu untuk membuka kamar utama.
Abimanyu lalu meletakkan Anjani di atas ranjang besar dan menyelimutinya. Setelah itu dia menemui Gabriel dan keluarganya. Mereka sudah lama bekerjasama sehingga saling mengenal baik dan akrab satu sama lain.
Ranjang besar penuh ukiran berwarna keemasan dengan ditutupi kelambu. Lampu kristal di tengah kamar. Set sofa yang cantik dan elegan. Dia rasanya betah tinggal di sini. Anjani lalu bangkit dan melihat ke arah luar jendela dan melihat halaman luas dengan kebun bunga berwarna-warni dan beberapa hewan jinak yang ditempatkan dalam kandang masing-masing. Ada juga sungai di ujung halaman itu. Anjani ingin turun dan berjalan-jalan ke bawah tetapi dia takut melakukan kesalahan.
Netranya mulai menyapu ruangan ini dan akhirnya tertuju pada nampan berisi makana. di atas meja sofa. Anjani mendekat dan duduk di sofa itu lalu membuka penutup makanan.
Sop ayam yang masih hangat, nasi, gorengan dari udang dan sambal ada di hadapannya. Anjani lalu memakannya. Abimanyu pasti menyiapkan untuknya karena tadi tahu dia belum makan siang.
__ADS_1
Pria itu terlihat dingin tetapi hangat pengertian jika sudah mengenalnya. Anjani mulai sedikit mengerti karakternya yang keras, kuat dan tegas namun lembut di dalam.
Anjani hampir menyelesaikan makanannya ketika Abimanyu masuk ke dalam kamar. Dia terkejut.
"Kau sudah makan? Baguslah. Ini ada pakaian hangat untukmu, kau bisa mandi di kamar mandi itu lalu turun ke bawah untuk menemui para tamu." Abimanyu lalu memberikan paper bag pada Anjani dan diterima oleh wanita.
"Menemui tamu?" ulang Anjani.
"Ya, mereka adalah rekan Bisnisku dari Perancis yang sedang berlibur dan menginap di sini," terang Abimanyu.
"Kenapa aku harus menemui mereka?" tanya Anjani.
"Karena mereka sedang menunggumu, ayolah cepat bersiap. Aku menunggumu di bawah," Abimanyu lantas keluar dari kamar itu. Sejuta pertanyaan berada dalam benak Anjani namun dia tetap saja berdiri untuk membersihkan diri dan bersiap.
Setelah dia bersiap untuk keluar kamar di saat itu Abimanyu masuk ke dalam. Dia menatap Anjani.
"Kau sudah siap?"
__ADS_1
Anjani mengernyitkan dahinya. "Siap, siap maksudmu?"
"Siap untuk belajar menjadi Nyonya Abimanyu," goda Abimanyu.