
Melihat Istrinya meringis kesakitan karena perbuatannya membuat Abimanyu menyibak selimut yang menutupi mereka dan mengangkat tubuh Anjani. Anjani memekik keras karena terkejut.
"Sttss mereka yang mendengar mengira kau berteriak karena sedang menikmati sesuatu." Anjani yang menutup kedua bibirnya rapat melihat ke arah Abimanyu. Pria itu jadi gemas lalu mengecup bibir merah yang telah bengkak itu.
Anjani memukul manja dada Abimanyu membuat pria itu terkekeh. Abimanyu benar-benar memperlakukan Anjani seperti anak kecil memandikannya memakaikan piyama, bahkan mengeringkan rambut wanita itu.
Benar apa yang ibu sambungannya katakan jika menikah dengan pria yang jauh lebih tua maka pria itu akan memperlakukannya dengan hati-hati dan baik. Walaupun tidak semua tetapi rata-rata seperti itu. Anjani termasuk yang beruntung telah menemukan Abimanyu.
Setelah itu, Anjani dan Abimanyu berjalan keluar pondok menuju ke pondok sebelah. Sesampainya di depan kamar Anjani, Abimanyu tetap memegang tangan wanita itu, seperti tidak rela melepaskan Anjani.
"Lepaskan, aku harus masuk," ujar Anjani. Abimanyu tetap memegang erat dua tangan Anjani dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Satu ciuman baru aku akan melepaskanmu," ucap Abimanyu.
Mata Anjani melebar, dia lalu melihat ke kanan dan kiri takut ada yang mendengar. Dia juga melihat pondok Bayu dan Tirta. Takut jika salah satu dari dua anak itu melihat kebersamaan mereka.
"Nanti ada yang melihat, malu!" ungkap Anjani.
"Kau lihat dua orang di pondok itu," Abimanyu menunjuk dengan kepalanya pondok yang terletak tidak jauh dari pondok mereka. Ada pasangan yang sedang saling memangku seraya bermesraan. Anjani membuka mulutnya melirik ke arah Abimanyu.
"Ya sudah sana masuk," ucap Abimanyu melepaskan tangan Anjani. Anjani lalu membuka pintu hendak melangkah masuk namun dia membalikkan tubuhnya lagi lalu mengecup pipi Abimanyu dengan cepat lalu masuk dan menutup pintu itu.
Abimanyu memegang pipinya yang masih terasa hangat dan tersenyum. Dia menghela nafas penuh kelegaan sembari membalikkan tubuh lalu kembali ke dalam pondoknya.
__ADS_1
Bayu yang dari tadi sempat melihat kebersamaan, mereka hanya tertegun dan menguap wajahnya dengan kasar. Dia tidak tahu harus senang atau marah. Dia menyukai Bu Anjani tetapi melihat tingkahnya yang genit itu membuat pikiran negatif bersarang dalam pikiran anak itu.
Apakah Ibu Anjani seperti wanita lain yang hanya ingin mendapatkan ayahnya saja?
Apakah wanita itu mendekati anak-anak ayahnya hanya karena ingin cari muka?
Apakah dia mendekati ayahnya karena ayah adalah pria kaya yang kesepian. Jika benar dia sama seperti wanita murahan lainnya. Seketika rasa percaya Bayu terhadap Anjani pupus sudah menjadi kekecewaan.
Bayu duduk lemas di tempat tidurnya. Ingin dia membangunkan Tirta adiknya tadi untuk melihat apa yang ayah serta mentor lakukan tadi. Namun, dia tidak tega melihat hancurnya perasaan Tirta sama seperti apa yang dia rasakan saat ini.
Haruskah dia diam dan hanya melihat semua ini? Tetapi ayahnya terlihat bahagia bersama Ibu Anjani. Dia bisa melihat wajah ceria ayahnya akhir-akhir ini. Hal yang tidak dia lihat selama dua tahun terakhir jauh sebelum ibunya sakit.
__ADS_1
Bayu mengusap kasar rambutnya. Dia ingin marah membanting benda atau apapun tetapi ini bukan kamarnya sendiri.