
Abimanyu terdiam menatap ketiga anaknya yang menatapnya dengan penuh harap.
"Namun ayah melihat Ibu Anjani sangat menyayangi kalian." Bumi menganggukkan kepala.
"Lalu Ibu Anjani akan kembali ke rumah ini?" sela Tirta tidak sabar.
"Tunggu dulu, dengarkan ayah berbicara." Bayu dan Bumi menatap Tirta dengan kesal. Abimanyu mulai merangkai kata-kata yang tepat agar anaknya mengerti.
"Kalian tahukan Ayah tidak pernah dekat dengan wanita manapun?" tanya Abimanyu.
Ketiga anaknya mengangguk.
"Untuk mengurus kalian bertiga ayah butuh teman yang bisa mendukung. Mendukung untuk membuat kalian menjadi lebih baik lagi dan menjadi orang yang berprestasi. Mendukung Ayah untuk membuat suasana rumah terasa nyaman dan mendukung ayah di semua aspek kehidupan."
"Ayah pikir semenjak Ibu Anjani di rumah ini, keadaan rumah menjadi terkendali. Kita bisa menemukan solusi dari semua permasalahan yang ada yang tadinya kita kira sulit."
Ketiga anaknya mengangguk lagi.
"Karena itu Ayah berpikir bagaimana caranya untuk membuat Ibu Anjani terus berada di rumah ini," kata ayah.
"Lalu?" tanya Bumi meletakkan kepalan tangan dibawah dagunya. Abimanyu gemas dengan putri bungsunya lalu mengacak rambutnya.
__ADS_1
"Lalu ayah mempunyai akal." Ketiga anaknya mendengarkan Abimanyu dengan seksama.
"Ayah mendekati Ibu Anjani dan membuatnya jatuh cinta." Ketiga anak Abimanyu membuka mulutnya lebar lalu menutupi dengan tangan masing-masing.
"Trus Ibu Anjani suka dengan ayah juga atau tidak?" tanya Tirta antusias.
"Dia menerima cinta Ayah hanya saja dia tidak ingin kalian bertengkar dengan Ayah, jadi dia ingin pergi dari rumah ini." Abimanyu memperlihatkan wajah lesu.
"Jadi benar jika Ibu Anja dan Ayah ada hubungan?" tanya Bayu. Abimanyu menganggukkan kepalanya.
"Itu bukan salah Ibu Anja tetapi salah Ayah yang selalu mendekati dan memintanya menikah dengan Ayah. Walau awalnya Ibu Anja menolak akhirnya dia menerima. Namun, masalah ini membuat dia berpikir lain lagi."
"Jika kalian tidak keberatan Ibu Anja jadi ibu kalian, maka kita tidak perlu takut kehilangan dia lagi. Apa kalian setuju dengan ucapan Ayah?"
"Aku ingin Ibu Anja jadi Ibuku, biar aku selalu bisa memeluknya setiap malam," kata Bumi memeluk tubuhnya sendiri.
"Ketika ada Ibu Anja, tidak ada lagi anak yang berani membullyku di sekolah, dia mendekati anak yang suka membuat masalah denganku, berbicara dengannya lalu anak itu menjadi baik padaku. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan tetapi Ibu Anjani bertindak seperti seorang Ibu."
Bayu terdiam teringat akan kebiasaan tawurannya. Terakhir kali dia melakukannya, Ibu Anjani datang ketika dia mulai tersudut dan melindunginya mati-matian.
"Lalu apakah kalian setuju Ayah menikah dengan Ibu Anjani?" tanya Abimanyu lagi.
__ADS_1
"Aku setuju," kata Bumi dan Tirta bersamaan.
Abimanyu melihat ke arah Bayu.
"Aku akan mengikuti keinginan dua adikku karena aku ingin mereka bahagia," jawab diplomatis Bayu yang terdengar dewasa.
Abimanyu tersenyum lega.
"Terima kasih atas pengertian kalian. Ayah bangga punya anak yang penuh kasih sayang seperti kalian."
Tirta mendekat ke arah ayahnya dan memeluknya. "Aku juga bangga punya Ayah seperti Ayah."
"Aku juga," ujar Bumi ikut memeluk Abimanyu.
Bayu lalu berdiri. Ikut memeluk semuanya. "Aku bangga punya kalian sebagai keluargaku."
"Jika Ibu Anjani ada di sini pasti akan terasa sempurna," celetuk Tirta, dia yang paling semangat dengan rencana ini.
"Kalau begitu kita jemput dia besok," ujar Abimanyu.
"Kenapa tidak malam ini?" tanya Bumi. Dia sudah terbiasa tidur dengan memeluk Anjani.
__ADS_1