Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Tentang Rasa


__ADS_3

"Sepertinya Bumi sudah bangun. Aku harus melihatnya dulu," kata Anjani mencoba kabur dari pembicaraan ini.


Abimanyu yang ditinggalkan hanya tersenyum tipis saja. Lalu menghela nafas panjang. Dia kembali melakukan aktifitas berolah raga kembali.


Sedangkan Anjani memegang dadanya. Dia merasa jika Abimanyu sedang menyindir ke padanya. Tetapi apakah mungkin jika pria itu menyukainya? Huh, siapa dia beraninya berpikir seperti itu. Anjani menggigit bibirnya teringat akan ciuman panas tadi malam.


Sedangkan anak-anak terdengar sudah bangun dari tidurnya. Ada suara musik di kamar Bayu dan ada suara dalam kamar Tirta. Anjani lalu pergi ke kamar Bumi dan melihat anak itu sedang memandangi langit-langit kamarnya.


"Selamat pagi Tuan Putri?" sapa Anjani.


"Selamat pagi juga." Bumi bangkit lalu duduk menatap wanita itu.


"Kau harus mandi pagi dan bersiap," kata Anjani.


"Untuk apa?" tanya Bumi.


"Karena Ibu Anja akan mengajakmu bersama dengan Ayah untuk melihat teman-teman yang ingin bertemu denganmu."


"Teman-teman? Apakah teman sekolah?"


"Bukan tetapi teman yang berbeda, Ibu harap kau akan senang melihat mereka nanti."


"Apakah ada acara khusus?" tanya Bumi antusias.


"Bisa dibilang begitu."


"Kalau begitu ayo," kata Bumi langsung bangkit dan pergi ke kamar mandinya.


"Ibu, boleh aku mandi denganmu?" tanya Bumi.


"Baiklah," jawab Anjani mengajak Bumi ke kamar mandi.


Dua jam kemudian mereka telah sampai di sebuah swalayan.


"Katanya kita akan pergi ke suatu tempat kenapa jadinya ke swalayan?" tanya Bayu.


"Untuk membeli makanan kecil dan dibagikan kepada anak-anak lainnya."


"Tetapi buat apa?"


"Ayo ikut ayah saja," ajak Abimanyu pada Bayu mengambil tiga kereta dorong.


Abimanyu memerintahkan pada Bayu untuk mengambil beberapa makanan kecil sejenis dan memasukkan semuanya pada keranjang dia juga meminta pegawai untuk mengambilkan mereka tiga kardus dari masing-masing makanan itu.

__ADS_1


"Apa tidak terlalu banyak?" tanya Anjani pada Abimanyu yang melihat banyaknya barang yang mereka beli.


"Tadi perkiraanmu ada berapa anak?"


"Sekitar 30 sampai 40 anak," kata Anjani.


" Satu kardus berisi 20 pack jadi aku beli tiga. Aku malah takut jika ini tidak cukup untuk mereka semua," kata Abimanyu.


"Kau tidak harus membeli ini semuanya. Di sana kami juga sudah meminjamkan buku pelajaran dan juga susu setiap pertemuan. Bahkan kadang ada donatur yang memberikan mereka Snack atau makan siang."


"Ide bagus itu. Nanti kau tanya pada teman-temanmu apakah ada yang pesan makan siang atau tidak. Jika tidak maka kita akan memesannya," ujar Abimanyu.


Anjani melihat ke arah Abimanyu. Abimanyu menyentuh lembut pipi Anjani membuat wajah itu memerah.


"Jangan terlalu dipikirkan uangku tidak akan habis hanya untuk membeli ini semua," kata Abimanyu tersenyum lebar. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap kasir sedangkan Anjani pelan-pelan memegang pipinya yang terasa panas terkena sentuhan Abimanyu.


"Tidak habis hanya saja bagaimana cara kita membawanya?" ucap Tirta.


Bumi sendiri asik memilih camilan kesukaannya tidak peduli dengan pembicaraan orang-orang itu.


Akhirnya setelah semua belanjaan itu dibayarkan mereka memesan jasa antar barang untuk membawa barang-barang ini ke tempat yang dituju. Abimanyu bahkan masih menambahkan beberapa pack buku tulis dan pena untuk dibagikan anak-anak di sana.


"Apakah kita mau adakan acara ulang tahun?"


"Bukan acara amal tetapi berbagi kebahagiaan," jelas Anjani.


"Berbagi kebahagiaan? Wah, aku mau ikut biar ikut bahagia," celetuk Bumi yang tidak tahu artinya.


"Apa kau kurang bahagia?" ujar Tirta sewot.


"Adik hanya tidak tahu apa artinya itu, kau tidak perlu marah," bela Bayu pada Bumi. Bumi lalu memeluk Bayu.


"Iya nih Kak Tirta galak seperti Ayah!" ucap Bumi membuat Anjani menyemburkan tawa. Sedangkan Abimanyu hanya menghela nafas sembari mengurut dada.


Tidak lama kemudian mereka sampai ke tempat tujuan. Tempat itu berada di daerah kumuh bawah jalan tol. Mereka harus memarkirkan mobil memutar baru sampai ke daerah itu. Belum lagi melewati jalan yang terbuat dari tanah dan becek karena terkena air hujan. Sampah-sampah terlihat berserakan. Bumi yang baru datang ke daerah ini terlihat risi dan jijik.


Mereka lalu sampai di depan deretan rumah-rumah penduduk yang terbuat dari papan triplek atau kardus. Baju-baju lusuh digantung depan rumah.


Beberapa Ibu-ibu mulai menyapa Anjani. Sepertinya mereka sangat mengenal sosok ibu guru ini.


"Apa mereka tidur dan tinggal di sini?" kata Tirta miris sambil menghalau lalat di depannya.


"Ya, aku pernah datang ke tempat ini," kata Bayu.

__ADS_1


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Abimanyu penasaran.


"Hai Bayu," sapa seorang anak pria seumuran Bayu. Bayu menoleh.


"Betulkan Bayu, yuk kita sapa," bisik beberapa anak datang mendekat.


Abimanyu mengangkat alisnya ke atas.


"Kau kemari?" tanya anak lusuh yang memakai kaos biru.


"Iya, bersama Ayah dan adikku."


"Ayah, kenalkan ini Putra, Adnan dan Zaki juga yang wanita namanya Mila. Mereka anak-anak yang suka mengamen dekat perempatan sekolah," terang Bayu.


Abimanyu menganggukkan kepalanya.


"Selamat siang, Om," sapa mereka ramah.


"Siang. Ayah, jadi heran mengapa kau bisa mengenal tempat ini?"


"Bayu sering kemari membawakan makanan. untuk kami," terang Zaki.


Abimanyu menganggukkan kepalanya mengerti kemana perginya uang yang selalu diberikan kepada anak itu? Mengapa selalu habis sebelum masanya padahal jumlahnya banyak untuk anak-anak seusianya?


"Ayah juga sedang memesankan makanan untuk kalian semua nanti," kata Bayu. Abimanyu lalu melihat anaknya dan menganggukkan kepalanya.


Dalam hatinya, dia harus mencari restauran mana yang bisa menyajikan makanan dalam waktu cepat.


"Anjani," teriak seorang pria pada wanita itu dari kejauhan. Anjani lalu menoleh dan melihat Devan sedang berjalan ke arahnya. Dengan berjalan cepat Anjani mendekat ke arah Devan.


"Kau kemari bersama siapa?" tanya Devan sembari mengambil surai hitam Anjani dan meletakkannya di belakang telinga.


"Bersama majikanku," kata Anjani. Devan lalu melihat ke arah Abimanyu dan anak-anaknya. Matanya menatap tidak suka ke arah mereka.


"Bukankah mereka orang kaya? Untuk apa mereka kemari?"


"Mereka hanya ingin melihat keadaan penduduk sekitar sini dan Pak Abi juga membawa makanan serta alat tulis untuk dibagikan pada semua anak," ucap Anjani girang.


"Apa kau yang mengajak?" Ada nada tuduhan terselip dalam pertanyaan Devan.


"Tidak, dia sendiri yang ingin ikut. Ingin mengajarkan anaknya tentang rasa syukur dan cara berbagi dengan yang lain," ucap Anjani penuh bangga. Devan menghela nafasnya. Apa yang ditakutkannya terjadi jika lama-lama Anjani akan tertarik pada pria itu dimulai dengan rasa kagum.


Walau pria itu nampak sudah matang namun dia masih terlihat tampan, mempunyai aura dan kharisma lebih dari orang lain. Entahlah Devan merasa jika pria itu merasa tidak suka memandang ke arah dia dan Anjani. Apa pria itu juga sudah ada rasa pada Anjani? Pikir Devan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2