Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Strata Sosial


__ADS_3

"Bukan ngedate tapi ayah mengajak Ibu untuk menghadiri pertemuan dengan relasi bisnisnya," ungkap Anjani.


"Oh," ucap serentak ketiga anak Abimanyu bersamaan.


..


Anjani lalu pergi ke ruang tamu mengikuti Pakem. Slamet, sepanjang jalan para pelayan lain terlihat menatap sinis dan tidak suka padanya serta berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bisikkan tetapi dia tahu jika itu tidak baik.


"Itu mereka Bu Anjani," tunjuk Pak Slamet pada dua wanita yang berdiri. Satu wanita lainnya berpakaian resmi memegang sebuah gaun yang dibungkus plastik dan satu wanita lainnya seperti bukan wanita sungguhan membawa kotak riasan.


"Oh, hallo Nona Anjani saya diperintahkan oleh Tuan Abimanyu untuk merubah penampilan Anda untuk menghadiri acara pesta resmi. Kenalkan nama saya Misye dan ini Flora asisten saya," kata wanita jadi-jadian itu memperkenalkan diri.


"Bisakah saya menolaknya,'' kata Anjani dengan nada penuh harap. Dia tidak ingin pergi bersama pria itu dan berdekatan. Dia sudah bersyukur pria itu sering pulang malam jadi intensitas pertemuan mereka berkurang. Tetapi kini dia dipaksa untuk mengikuti perintah yang bukan bagian dari pekerjaannya.


"Tidak bisa karena jika itu Anda lakukan maka Tuan Abimanyu tetap akan membayar tagihan baju dan riasan ini. Lagipula Keluarga Kusuma adalah langganan butik kami, kami tidak bisa pergi sebelum menyelesaikan tugas kami," ujar wanita jadi-jadian itu.


"Tunggu dulu saya akan menghubungi Tuan Abimanyu terlebih dahulu. Apakah kau mempunyai nomer teleponnya?" tanya Anjani pada wanita itu. Terus terang, dia tidak pernah menyimpan nomer telepon Abimanyu walau pria itu pernah memberikan kartu namanya.


"Oh, ijinkan saya duduk terlebih dahulu. Cuaca di luar sangat panas dan tadi juga kami berjuang datang kemari setelah melewati kemacetan panjang," ujar Misya.


"Oh, Maaf, silahkan duduk. Saya akan mengambilkan segelas air minum untuk kalian. Kalian ingin minum apa?"


"Segelas jus jeruk yang segar sepertinya terasa nikmat," timpal Misya sembari duduk di kursi.


Anjani lalu masuk ke dapur dan meminta tolong pada Ibu Tuti untuk membuatkan minuman jus jeruk dan juga camilan untuk dua orang tamunya. Setelah itu dia masuk kembali ke ruang tamu.


"Dia tidak ingin kami rias," ucap Misya sembari mengipasi dirinya.


"Baiklah jika kau ingin berbicara dengannya. Itu lebih baik," kata Misya lalu menyerahkan handphone miliknya pada Anjani. Dia mengatakan dari Abimanyu tanpa bersuara.


"Hallo, Pak," sapa Anjani menerima panggilan itu.


"Anja, aku tahu kau tidak ingin pergi ke pertemuan itu. Namun, ini pesta bisnis penting ada banyak pengusaha besar berkumpul di sini sangat penting bagiku untuk hadir dan menyapa mereka semua." Anjani berjalan menjauh dari Misye dan orangnya.


"Lalu apa hubungannya denganku?" ujar Anjani dengan nada tidak senang sangat lirih.

__ADS_1


"Berhubung erat karena aku tidak pernah membawa wanita datang ke acara apapun. Tuan Gabriel telah mengabarkan berita ini kepada teman-temannya. Akan lucu jika aku datang sendiri sedangkan mereka mengiranya aku datang bersama dengan calon istriku. Bisa-bisa aku jadi bahan olokan nantinya. Ku mohon turutilah permintaanku," pinta Abimanyu.


Anjani terdiam nampak berpikir. "Okey, kali ini saja lain kali jangan pernah lakukan ini lagi."


"Ya, lain kali aku tidak akan memaksamu," kata Abimanyu. "Tetapi kau sendiri yang mau datang bersamaku," batin Abimanyu.


"Aku akan menjemputmu pukul enam lebih. Kau tidak perlu makan malam karena kita akan makan di sana."


Anjani lalu mematikan telepon itu secara sepihak dan menyerahkannya pada Misye kembali.


"Bagaimana apakah kau setuju?" tanya Misye setelah menyesap jus pesanannya yang dibawa oleh Ibu Tuti tadi ketika Anjani sedang menelfon.


"Mau tidak mau," kata Anjani.


"Kau tahu jika pria itu sangat keras kepala. Tetapi dia lembut di dalam selembut ice cream."


"Dan dingin," imbuh Anjani lalu mereka berdua tertawa.


"Kalau begitu kita pergi saja ke kamarmu dan memulai pekerjaan ini," kata Misye.


"Katanya kau adalah calon istri Tuan Abimanyu?" tanya Misya.


"Bukan aku hanya pengasuh anak-anaknya," jawab Anjani.


"Tetapi itu yang dikatakan oleh Asisten Tuan Abi." Anjani hanya menaikkan bahunya ke atas saja.


"Kau beruntung jika menikah dengannya. Selain karena dia tampan dan kaya pria itu juga baik dan setia."


Anjani menatap Misya dari pantulan cermin. "Aku telah kenal dengan banyak orang terkenal dan sukses tetapi sedikit sekali pria yang bisa setia pada istrinya. Tuan Abi termasuk pria itu. Selama lima belas tahun aku bekerja di dunia ini dan berkenalan dengan keluarga Kusuma, aku bahkan tidak pernah melihatnya menggandeng tangan seorang wanita kecuali istrinya saja."


"Istrinya wanita yang beruntung," kata Anjani.


"Kau pun akan beruntung sepertinya jika menikahi pria itu," ujar Misya. Wanita itu lalu menarik nafas panjang seperti sedang berkelit dengan pikirannya sendiri.


"Apakah ada yang perlu aku ketahui?" tanya Anjani.

__ADS_1


Misya melihat ke sekeliling dan menyuruh asistennya untuk menutup pintu kamar.


"Istrinya pernah punya Affair dengan pria lain," bisik Misya.


"Kau jangan bercanda itu tidak mungkin. Setahuku mereka adalah pasangan paling sempurna," kata Anjani.


"Tidak ada yang sempurna di dunia termasuk suatu hubungan," lanjut Misya.


"Tapi kau jangan mengatakan ini pada siapapun, termasuk Tuan Abimanyu. Pria itu bahkan tidak tahu apa yang istrinya lakukan di belakangnya. Dia pria yang sangat baik dan polos."


"Kau jangan menfitnah orang yang sudah mati karena dia tidak bisa bangkit dari kubur untuk membuktikan dirinya tidak bersalah."


"Demi burung yang masih berdiri tegak dalam diriku, aku tidak berbohong, Flo bahkan tahu akan hal itu," kata Misya meyakinkan.


Flo dan Anjani yang mendengar perkataan Misya melonjak kaget, sumpah macam apa itu?


"Benarkan Flo?" kata Misya.


"Benar," jawab Flo tanpa memberi keterangan lebih.


"Akh sudahlah itu masa lalu Tuan Abi, aku tidak mau ikut campur. Lagi pula aku tidak punya hubungan apapun dengan pria itu," ujar Anjani.


"Kau akan menyesal jika menolaknya," kata Misya yakin.


"Aku akan menyesal jika menikahinya mungkin. Pertama aku sudah punya kekasih, kedua aku masih kuliah jalan hidupku masih panjang dan ketiga rentang usia kami sangat jauh. Dia hampir seumuran dengan ayahku hanya berbeda beberapa tahun lebih tua ayahku."


"Berapa usia kekasihmu?" tanya Misya.


"Sepantaran usiaku," jawab Anjani.


"Dia dari keluarga berada?" Anjani mengangguk dengan tidak yakin.


"Sudah dapat dipastikan jika kau akan ditolak oleh keluarganya karena kau hanya seorang dari kasta rendah menurut mereka. Bagi mereka anaknya adalah aset besar keluarga. Tidak mungkin akan diberikan pada wanita yang tidak bisa mendukung karir anaknya yang belum dimulai."


"Aku tahu bagaimana cara berpikir ibu-ibu sosialita," bisik Misya. "Hanya satu dari satu juta ibu yang akan rela menyerahkan anaknya pada wanita yang strata sosialnya jauh dibawah mereka."

__ADS_1


__ADS_2