
Kemarahan Anjani semakin terasa ketika dia melihat Abimanyu berada di depannya, tanpa mengatakan apapun dia langsung pergi dari rumah itu tanpa melihat lagi ke belakang. Walau suara raungan Bumi terdengar jelas.
Anjani kembali lagi ke tempat kostnya. Untung saja dia belum keluar dari sana sepenuhnya sehingga memudahkan dia mendapatkan tempat tinggal pengganti setelah keluar dari rumah besar Abimanyu.
Namun dia juga harus bersiap karena, satu Minggu lagi pemilik kost akan datang untuk menagih uang kostnya, entah dari mana dia mendapatkan uang itu. Dia beruntung masih memiliki uang yang dia simpan ketika Abimanyu memberikannya untuk jajan Bumi. Uang kembaliannya tidak pernah diambil lagi oleh Abimanyu, dia bahkan memberinya lagi setiap tiga hari sekali. Sehingga terkumpul beberapa lembar uang berwarna merah di dompetnya.
Dua hari kemudian, Anggun datang ke tempat kostnya. Dia datang berkunjung untuk menyerahkan uang gaji Anjani selama bekerja di sana.
"Ini amplop yang Abimanyu titipkan sebagai uang gajimu selama tinggal di sana."
Anjani terdiam tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya diam menatap amplop itu.
"Kalau boleh tahu apa yang terjadi sehingga kau keluar dari rumah itu?" tanya Anggun.
"Ku kira itu hal memalukan jika diceritakan. Saya hanya menyayangkan sikap pak Abimanyu. Dia seharusnya bisa lebih santun lagi dalam melakukan semua hal. Ini bukan yang pertama kali dia lakukan jadi saya sudah tidak kuat untuk tetap berada di sana dan memperoleh tindakan yang tidak menyenangkan darinya."
Rasa penasaran menggerogoti diri Anggun namun dia tahu diri untuk tidak melebihi batas privasi yang Anjani telah terapkan.
"Anak-anak kehilangan dirimu, mereka bahkan mogok makan selama seharian ketika kau baru saja meninggalkan rumah," kata Anggun. Dia mendengar kabar ini dari Citra.
Anjani tersenyum sedih. Dia ingin bertanya lebih jauh namun kembali lagi dia ingin melupakan semuanya. Dia tahu bagaimana perlakukan anak-anak padanya, dia bisa merasakan kasih sayang yang mereka utarakan lewat perhatian.
"Mereka akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku." Anjani lalu mendesah dadanya terasa sesak dan panas.
Anak-anak bagaimana keadaan mereka sepeninggalnya. Apakah mereka kembali menjadi anak yang nakal? Anjani juga merindukan mereka.
Bayu yang jahil tetapi suka melucu, Tirta sering memperlihatkan perhatian dan Bumi yang manja.
"Aku yakin kemanapun Abimanyu mencari penggantimu, dia tidak akan mendapatkan yang seperti dirimu. Kau mengajari mereka dengan cinta sehingga mereka juga belajar untuk mencintai dan menyayangimu."
"Sudahlah, kalian membuat anak-anak menjadi korbannya," cetus Anggun sebelum beranjak pergi.
"Aku pamit dulu. Besok mulailah lagi bekerja di sekolah," perintah Anggun. Anjani menganggukkan kepalanya dan mengantarkan Anggun keluar gang.
Setelah itu, Anjani masuk kembali ke kamar kostnya. Dia lalu melihat amplop berwarna putih itu. Anjani lalu membukanya dan terkejut melihat banyaknya uang yang Abimanyu berikan.
__ADS_1
Enam juta rupiah untuk bekerja selama dua Minggu di sana. Dia bisa kaya bila bekerja selama setahun dan bisa melunasi hutang rumahnya di bank.
Anjani lalu menyambar jaket dan memakai celana jeans. Dia berniat pergi ke tempat kuliah untuk membayarkan kekurangan uang semester lalu yang belum dia bayarkan.
Satu jam kemudian dia sudah berada di ruang administrasi untuk melunasi biaya kuliahnya.
"Tunggu sebentar saya cari datanya." Petugas itu mulai mencari data pembayaran kuliah Anjani.
"Biaya kuliah Anda sudah dilunasi hingga lulus," jawab petugas itu.
"Apakah bisa saya tahu siapa yang telah membayar uang kuliah saya," tanya Anjani.
"Maaf saya tidak bisa memberitahu. Hanya informasi ini saja yang bisa saya berikan."
"Berarti saya bisa mulai kuliah lagi besok?" tanya Anjani.
"Iya, seharusnya sudah bisa."
"Kalau begitu terimakasih banyak."
Anjani beranjak dari tempat itu mencari satu sosok yang dia kira telah membayarkan uang kuliahnya.
Yang dipanggil langsung menoleh. "Anjani," gumam Devan mendekat ke arahnya.
"Kau sudah kuliah lagi," tanya Devan.
"Ya," jawab Anjani.
"Syukurlah aku turut bahagia," kata Devan. "Aku tahu kau pasti bisa mencari uang itu untuk membayar uang pendidikanmu."
"Dia pasti menjual diri, Devan," sela Yoola.
"Yoola, jaga bicaramu!'' seru Devan tidak suka.
"Itu memang kenyataannya, dia tinggal bersama duda beranak tiga dan bisa mendapatkan uang dengan mudah untuk membayar semua itu," teriak Yoola keras.
__ADS_1
Plak!
Pipi putih Yoola memerah seketika. Dia memegangnya sembari merengek pada Devan. "Kau lihat kan tingkahnya Devan, dia tidak punya adab dan sopan santun."
"Aku memang miskin tetapi aku bukan wanita murahan yang akan menyerahkan diriku pada pria dengan mudah. Kalau perlu kita bisa membuktikan siapa yang murahan di sini dengan pergi, cek ke dokter. Siapa yang segelnya masih terbungkus rapi dan siapa yang sudah dibuka kemana-mana," ujar Anjani kesal meninggalkan Yoola yang terdiam tidak bisa berkata apa-apa.
"Anjani tunggu," Devan mengikuti kemana Anjani pergi dan meninggalkan Yoola sendiri.
"Awas kau Anjani, aku akan mempermalukan mu lebih dari apa yang kau lakukan," batin Yoola. Dia melihat beberapa mahasiswa tersenyum melihatnya.
"Lihat apa kalian!" teriak Yoola.
Devan lalu memegang tangan Anjani. "Jangan dengarkan apa kata Yoola, sebaiknya kita pergi saja keluar, sudah beberapa hari ini aku tidak melihatmu. Aku rindu," kata Devan lirih. Membuat Anjani tersipu.
Devan mengambil motornya dan Anjani duduk membonceng dibelakangnya dengan memeluk pinggang Devan erat. Kepalanya di sandarkan ke punggung Devan.
"Anjani, apa kau tidak pergi bekerja hari ini?" tanya Devan. Dia tahu hari-hari biasa Anjani sangat sulit untuk dihubungi karena kesibukannya.
"Aku sudah keluar dari pekerjaanku," jawab Anjani sembari mendekatkan kepalanya ke telinga Devan karena suara bising kendaraan di jalan raya yang padat ini.
Di lampu merah mereka berhenti. Di sebelah mereka nampak sebuah mobil Mercedes Ben's ikut berhenti. Di dalamnya ada Abimanyu yang sedang mengetik laptopnya. Sesaat pria itu menghentikan kegiatannya dan melihat ke sekitar di saat itu, dia melihat Anjani memeluk mesra Devan. Entah mengapa hatinya merasa tidak enak, seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Tanpa sengaja tatapan Anjani dan Abimanyu beradu. Mereka berdua sama-sama terdiam. Anjani lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Abimanyu menghela nafas. Dia lalu menutup kaca jendela itu penuh dan kembali lagi melihat laptop.
Lampu kembali lagi hijau, Devan langsung menjalankan motornya cepat menyalip beberapa pengguna di depannya sedangkan Abimanyu hanya bisa menatap kepergian Anjani dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk dalam otaknya.
Sebuah panggilan masuk ke dalam handphonenya. Marsellina nama yang tertulis.
Abimanyu mengangkat panggilan itu.
"Ya, Tuhan. Aku akan pulang secepatnya," ucap Abimanyu sebelum mematikan panggilan itu.
"Kenan, kita putar arah ke rumah," perintah Abimanyu pada asistennya yang sedang menyetir.
__ADS_1
"Lalu bagaimana pertemuan dengan Direktur Pertamina?" tanya asisten Abimanyu.
"Kau saja yang menemuinya, katakan jika aku ada urusan yang penting."