Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Nge date


__ADS_3

Akhirnya setelah melalui perdebatan panjang Abimanyu menarik tangan Anjani yang malas keluar dari kamar itu. Tamu Abimanyu yang sedang duduk di ruang tengah dekat dengan perapian lalu berdiri dan tersenyum. Semua ada. Empat orang, yaitu sepasang suami istri dan anak mereka.


Anjani menyalami mereka dan berkenalan.


"Kau pandai memilih pasangan Tuan Kusuma, Cantik dan muda," ucap Gabriel.


"Well, selain cantik aku juga yakin dia adalah wanita baik," imbuh Lisa, istri dari Gabriel.


Anjani yang sedang diperbincangkan hanya terdiam dan tersenyum tipis sembari menatap tajam pada Abimanyu.


"Dia wanita yang baik karena itu aku menginginkannya menjadi istriku," ujar Abimanyu.


"Oh, ya, Sabtu malam aku akan mengadakan pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke lima belas, kami harap kau dapat ikut hadir Nona Anjani bersama dengan Tuan Abimanyu pastinya," ujar Lisa.


"Saya tidak bisa berjanji Tuan, karena saya ada janji lain."


"Oh, sayang sekali. Padahal kami ingin melihat kalian datang berdua," ucap Lisa lagi.


Setelah perbincangan itu mereka makan malam bersama membicarakan masalah bisnis. Sedangkan Anjani menjawab pertanyaan Lisa saja selebihnya dia terdiam.


Setelah makan malam itu selesai Abimanyu pamit dan pergi membawa Anjani kembali ke rumah. Mereka kini kembali tanpa sopir karena Abimanyu ingin sebuah privasi untuk mereka.


"Tuan Abimanyu saya kira, Anda tidak perlu mengatakan jika saya adalah calon istri Anda pada kenyataannya saya ini bukan siapa-siapa Anda."


"Saat ini. Kita tidak tahu apa yang terjadi besok. Satu lagi panggil aku Mas jika kita hanya berdua saja," jawab Abimanyu sambil menyetir kendaraannya tanpa menatap ke arahnya.


"Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi kegilaan Anda."


"Tadinya aku tidak berpikir ke arah ini tetapi setelah melihat kedekatanmu dengan anak-anak dan bagaimana cara mereka menyayangimu serta bagaimana caramu men desah ketika bersamaku membuatku berpikir alangkah baiknya jika kau menjadi istriku. Anak-anak akan mempunyai seorang ibu dan aku akan mempunyai teman ranjang yang cantik," goda Abimanyu membuat Anjani mencebikkan bibirnya kesal.


Dia sedang tidak ingin bertengkar. Permasalahan di tempat kuliah sudah membuat dia tertekan. Dia terdiam memikirkan hubungannya dengan Devan. Apakah pria itu juga meragukannya?


Mereka sampai ketika anak sudah tertidur di kamar mereka. Anjani langsung pergi ke kamarnya, membersihkan tubuh dan membaringkan tubuh. Dia ingin beristirahat menenangkan hati dan pikirannya namun tidak bisa, dia resah dan gelisah.


Anjani yang haus pergi ke bawah untuk mengambil minum. Dia langsung berjalan ke arah dapur tanpa menyalakan lampu. Mengisi botol yang dia bawa dengan air mineral.

__ADS_1


Setelah itu dia membalikkan tubuhnya dan melihat terkejut karena ada tubuh tinggi dan besar ada di dekatnya. Anjani hendak berteriak namun mulutnya di tutup erat dengan tangan Abimanyu.


"Ssttt," ucap Abimanyu mendorong tubuh Anjani ke belakang hingga ke meja dapur.


"Saya mau ke kamar lagi," kata Anjani waspada.


"Anja, aku dengar kau dihina di tempat kuliah?" tanya Abimanyu. Anjani melebarkan matanya karena terkejut Abimanyu tahu tentang masalahnya.


"Darimana Anda tahu?"


"Aku selalu tahu apa yang kau lakukan?" Abimanyu menyolek hidung wanita itu membuat Anjani terkejut.


"Lain kali jika ada apa-apa ceritakanlah padaku," kata Abimanyu membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Anjani.


"Tuan, Pak, eh Mas," panggil Anjani.


"Ada apa?" tanya Abimanyu.


"Sebaiknya aku mengembalikan barang pemberian Anda," kata Anjani.


"Jangan menolak rejeki baik yang telah datang padamu sedangkan kau sendiri tidak tahu besok kau bisa mendapatkannya lagi atau tidak."


Abimanyu lalu meninggalkan Anjani yang terpaku sendirian di dapur.


***


Hari terus berganti hingga tiba saatnya hari Sabtu. Anak-anak libur di rumah. Si sulung dan anak tengah berlatih silat sedangkan Anjani melatih mereka. Bumi hanya berlari-lari sembari memberi semangat keduanya.


Marsellina datang ke dalam ruang arena membawa minuman dingin dan kue. Dia berdiri melihat kegiatan mereka.


"Wah, Bibi juga ingin ikut berlatih bela diri sayang tidak bisa," kata Marselina. Tirta melirik ke arahnya dengan sebal sedangkan Bayu terlihat mengikuti arahan Anjani.


"Jangan Bibi Lina, nanti pinggangku sakit karena kau sudah tua," celetuk Bumi membuat Tirta dan Bayu menahan tawanya.


"Bumi jangan seperti itu?'' peringat Anjani.

__ADS_1


"Jangan sok baik di depanku dengan pura-pura memarahinya padahal aku tahu jika kau sendiri yang mengajari mereka agar membenciku," tunjuk Marsellina sengit sembari menangis.


Anjani memutar bola matanya malas menduga sandiwara apa yang ingin dilakukan oleh Marselina.


"Kau jangan asal tuduh pada Ibu Anjani. Pada dasarnya kau sendiri yang suka mengatur kami sehingga kami tidak menyukai sikapmu."


"Kenapa kalian bersikap seperti ini padaku, padahal selama ini aku yang mengurus kalian dari kecil," kata Marselina menyeka air matanya.


"Aku tahu itu maka dari itu aku dan dua adikku masih menghormatimu. Jika tidak kami meminta ayah untuk memecatmu," ungkap Tirta.


"Apa bedanya aku dan wanita ini. Dia juga selalu mengatur kalian tetapi kalian selalu menurut," kata Marselina.


"Berbeda, Ibu Anjani melakukannya dengan penuh cinta sedangkan kau berbeda... entah apa yang kau inginkan di rumah ini. Kau itu kan dari keluarga berada mengapa mau bekerja menjadi seorang pelayan?" sudut Bayu.


Marsellina terdiam. Dia mengeluarkan air matanya. "Karena ibu kalian menitipkan kalian padaku sebelum meninggal karena itu aku masih ada di sini menunaikan semua amanatnya."


Marsellina lalu berlari sembari menyeka air matanya. "Kalian jangan seperti itu lagi pada orang yang lebih tua."


"Habis aku kesal padanya."


"Tetapi tidak seperti itu." Anjani lalu terdiam memikirkan perkataan Bayu yang mengatakan jika Marselina datang dari keluarga berada. Jika iya mengapa dia mau bekerja menjadi seorang pelayan. Walau gajinya besar bukankah hal itu terlihat memalukan?


Setelah Marselina pergi, mereka melanjutkan latihannya. Dari arah luar Pak Slamet datang. Dia lalu berdiri di depan Anjani.


"Ibu Anja, anda dicari oleh dua orang wanita di ruang tamu," kata Pria paruh baya itu.


"Dua orang wanita? Siapa?" Anjani merasa tidak punya janji dengan siapapun.


"Bu Anggunkah atau guru sekolah Bumi?" tanya Anjani mengira jika yang datang teman dari tempat kerjanya dulu.


"Bukan mereka dari sebuah butik yang sengaja datang kemari untuk merias dan mendandani Bu Anjani. Pak Abi akan pulang nanti jam 7 malam untuk menjemput Ibu."


"Ibu akan pergi bersama Ayah? Yeay... aku juga mau ikut?" ujar Bumi. Tetapi Tirta menepuk lengannya.


"Ayah mengajak Ibu ngedate, pacaran, kau jangan ikut," bisik Tirta yang masih terdengar oleh semua orang.

__ADS_1


__ADS_2