
Satu jam kemudian tiga anak Abimanyu sudah duduk manis di sofa panjang kamar pria itu. Suasana terasa menegangkan. Hawa dingin melingkupi ketiganya secara bersamaan. Mereka seperti sedang menunggu eksekusi dari ayahnya.
"Kita mau apa Kak?" tanya Bumi tidak mengerti.
"Ini semua gara-gara Kak Bayu yang suka cari masalah."
"Diam jika tidak tahu masalah apa yang terjadi," seru Bayu.
Tirta dan Bumi lantas terdiam tidak ingin memancing masalah baru.Tirta menyalahkan Bayu karena terlalu berani dan takut jika ayahnya akan kembali menjadi ayah dingin dan arrogan seperti dulu. Dia lebih memilih Ibu Anjani ada di sekitar mereka karena suasana akan terasa hangat.
Abimanyu lalu datang dengan membawa sebuah map. Dia duduk di single sofa menatap ketiga anaknya.
''Ayah mau memarahi Kak Bayu?'' tanya Bumi. "Kalau iya nanti aku bilang pada Ibu Anja biar Ayah dimarahi olehnya!" seru Bumi melipat tangan di dada.
Abimanyu lalu tersenyum pada Bumi.
"Tidak Sayang, ayah tidak akan memarahi kalian. Ayah hanya ingin berdiskusi."
"Berdiskusi tentang masalah apa?"
"Ayah ingin memberhentikan Ibu Anja sebagi mentor kalian!" kata Abimanyu membuat ketiga anaknya terkejut. Terutama Bayu.
Okeylah, dia memang tidak suka dengan hubungan Abimanyu dan Ibu Anjani dibelakang mereka tetapi dia juga tidak ingin kehilangan mentor mereka yang baik itu. Bayu melihat ke arah Bumi. Adiknya itu butuh sosok penyayang seperti Bu Anjani untuk perkembangan jiwanya ke depan.
"Kenapa Yah? Bu Anjani orang yang baik," kata Tirta langsung.
"Aku menyayanginya?" imbuh Bumi.
__ADS_1
"Aku pun seperti itu." Tirta mengutarakan perasaannya.
"Lalu bagaimana denganmu Bayu, apa kau suka jika Ibu Anjani diberhentikan dari pekerjaannya?"
"Kak, dia itu telah menolongmu dulu. Ingat atau tidak!" seru Tirta.
"Iya, Ibu Anjani bahkan rela terluka waktu kakak bertengkar dengan orang-orang dulu."
"Apa ini gara-gara Kakak yang nakal pada Ibu Anja," seru Bumi kesal pada Bayu.
"Pokoknya aku ingin Ibu Anja tetap di sini! Jika Ibu Anja tidak bekerja lagi di sini semua karena kakak!" Bumi menekuk wajahnya dan menunduk menangis.
Bayu menjadi dilema sekarang. Dia menatap ke arah Abimanyu.
"Bumi dan Tirta masih membutuhkannya, tidak penting apa pendapatku," kata Bayu.
"Ayah, apa menyukai Ibu Anja?" tanya Bayu hati-hati takut dengan respon negatif dari Abimanyu.
"Ayah lebih memikirkan kalian dari pada diri ayah sendiri," jawab Abimanyu diplomatis.
Bayu menatap kedua adiknya.
"Sekarang jawab Ayah, apa kau membenci Ibu Anjani?" tanya Abimanyu. Bayu menggelengkan kepalanya.
"Apa kalian menyayanginya?"
"Aku sayang Ibu Anjani," kata Bumi cepat.
__ADS_1
"Aku juga," ujar Tirta. "Ketika ada Ibu Anja, semuanya membaik. Seperti sebuah keluarga, kita semua tertawa bersama."
Abimanyu bernafas lega sekarang.
"Ibu Anjani ada tawaran baru, dia sedang dilema untuk memilih tawaran baru itu. Dia sangat menyayangi kalian," kata Abimanyu
"Itu artinya Ibu Anjani sendiri yang mau pergi dari pekerjaan ini," kata Bayu.
"Ya, jika kau tidak suka. Dia tidak ingin menyakiti kalian," ujar Abimanyu penuh emosi. Bayu yang mendengar tampak berpikir keras.
"Kakak, memang kenapa kalau Ibu Anja pacaran dengan Ayah, aku suka jika Ibu Anja jadi ibu kita," cetus Bumi pada Bayu. Dia mendengar pembicaraan kedua kakaknya yang mengatakan jika Anjani dan Abimanyu berpacaran.
"Aku juga setuju," kata Tirta. Tinggal Bayu yang masih terdiam.
"Kalau Ayah suka dengan Ibu Anjani, aku bisa apa?" jawab Bayu mendesah.
"Itu artinya?" harap cemas Abimanyu.
"Ibu Anjani memang lebih baik dari perempuan lain di luaran sana untuk dua adikku ini. Aku tidak akan melarangnya," jawab Bayu dewasa.
"Sayangnya Ibu Anjani sudah memilih jalan lain. Dia tetap ingin keluar dari pekerjaan ini."
Tiga anak Abimanyu terlihat lesu.
"Kakak sih!" kata Bumi dan Tirta bersamaan menyalahkan Bayu.
"Namun.... " Tiga anak itu kembali melihat ke arah Abimanyu.
__ADS_1