Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Ijab Kabul


__ADS_3

Tiga hari akhirnya telah berlalu. Penantiannya terasa untuk bertemu dengan Anjani terasa sangat lama. Akhirnya kini dia akan bertemu dengannya dan mengikatnya secara resmi.


"Anak-anak doakan ayah ya?" kata Abimanyu ketika mengantarkan anaknya ke sekolah.


"Doakan apa, yah?" kata Bayu yang sudah membuka seatbelt.


"Doakan agar semua yang ayah kerjakan hari ini berjalan lancar dan baik."


Ketiga anaknya saling memandang. Tidak biasanya Ayahnya seperti ini.


"Semoga semua urusan ayah berjalan dengan baik, memangnya ada masalah, Yah?" tanya Bayu lagi.


"Tidak hanya saja Ayah sedang melakukan proyek besar bagi kelangsungan hidup kita. Ayah berharap proyek ini berhasil sehingga kita bisa mengawali hidup dengan lebih baik lagi."


"Oh, proyek. Semoga semua berhasil dengan baik, Yah," kata Tirta.


"Ayah semoga sukses." ucap Bumi tidak kau kalah.


"Terima kasih doa kalian," ujar Abimanyu lalu turun dari mobil. Dia menciumi semua anaknya.


"Ingat apa yang akan Ayah lakukan hari ini untuk kebaikan kalian semua," kata Abimanyu


"Kami percaya pada Ayah," ucap serempak ketiganya.


"Dah, Ayah," ucap mereka sembari melambaikan tangan masuk ke dalam pintu gerbang sekolah. Kedua anak Abimanyu akan mengantarkan adiknya terlebih dahulu baru masuk ke dalam sekolah masing-masing.


Abimanyu memandangi mereka hingga sampai tidak terlihat.


"Ayo Tuan, kita harus cepat," kata Pak Slamet mengingatkan Abimanyu tentang jadwalnya menikah.


Abimanyu lantas masuk ke mobil.


"Satu setengah jam lagi," ujarnya. Pak Slamet langsung saja tancap gas melewati jalanan ibu kota yang sedang padat merayap.


Setelah dua setengah jam melewati jalanan yang macet akhirnya mereka sampai ke rumah Anjani. Di sana mereka bertemu dengan Kenan yang terlihat khawatir.


"Tuan, mereka sangat khawatir Anda tidak datang karena acara akan dimulai setengah jam lagi." Kenan lalu mengarahkan Kenan masuk ke dalam rumah dan menyalami semua yang hadir di sana.


"Wah, ternyata calon suaminya seorang pengusaha yang sering terlihat di layar televisi," ujar penghulu itu.


"Duda berkelas. Pantas saja Nak Anjani yang cantik mau menikah dengannya Pak Andri." Lanjut penghulu itu lagi membuta Andri hanya tersenyum.


"Kalau Duda itu lebih menarik dan lebih matang karena lebih berpengalaman." Perkataan Cindy membuat riuh ruangan itu.


"Ibunya dapat pak Andri yang telah menduda."


"Ya, seperti itu."


''Mana calon mempelai wanitanya?" tanya penghulu itu.


"Ada Pak, dia sudah menunggu dari tadi sampai hampir menangis karena calon suaminya tidak kunjung datang," ucap Cindy lantas masuk ke dalam kamar depan rumah itu dan membawa Anjani yang sudah dirias. Dia seperti bidadari yang turun dari langit. Memakai baju Sunda dengan sanggul sederhana. Wajahnya yang bersinar terang menunduk ke bawah. Namun, Abimanyu dapat melihat garis kecantikan alami dari wajahnya. Seketika Abimanyu lupa bernafas ketika menatapnya tanpa berkedip.

__ADS_1


"Wah, Pak Duda terpesona pada calon pengantinnya. Cantik ya, Pak," ledek Pak Penghulu.


Seketika wajah Abimanyu menjadi pias, telinganya bergerak dan memerah. Semua tertawa melihat tingkah Abimanyu yang kikuk dan gugup.


"Sekarang mari kita mulai acara ini dengan membaca Basmalah." Acara pernikahan itu lantas terjadi. Anjani menangis ketika Abimanyu mengucapkan kata ijab dengan mantap. Bukan tangis sedih tetapi tangis bahagia karena kini dia sudah dimiliki oleh seseorang yang dia hormati dan segani. Dia juga merasa sedih karena mulai hari ini dia bukan lagi menjadi milik ayahnya karena telah diserahkan pada Abimanyu.


Sedangkan Andri gemetar ketika menikahkan anaknya. Ada rasa sedih ketika harus menyerahkan putrinya pada orang asing tetapi dia juga percaya bahwa Abimanyu bisa menjadi suami yang baik bagi anaknya. Dia adalah pria bertanggung jawab dan penyayang.


Cindy ikut menangis sepanjang acara walaupun dia bukan ibu kandung Anjani tetapi dia bersyukur Anjani bisa mendapatkan pria kaya yang baik hati. Dia merasa tanggung jawabnya selama ini yang telah mengasuh Anjani akhirnya selesai sudah. Walau mereka sering bertengkar tetapi dia menyayangi Anjani sama seperti dia menyayangi Elang.


Andai saja Elang tahu jika adiknya menikah pasti dia juga akan ikut senang. Elang walau suka jahil pada adiknya tetapi dia menganggap Anjani sebagai adik kandungnya walau mereka berbeda darah.


Pernikahan itu hanya ijab kabul saja setelah itu Pak penghulu pulang dengan membawa amplop banyak karena Abimanyu sangat berterima kasih penghulu itu mau menikahkan mereka di rumah Anjani seperti yang Anjani impikan. Dia juga menyelakan waktu ditengah padatnya acara. Walau penghulu itu awalnya menolak tetapi Abimanyu memaksa untuk menerimanya.


Mereka lalu merayakannya dengan makana. yang ada di rumah. Semuanya nampak bahagia. Abimanyu tidak berhenti menatap pengantinnya membuat Anjani malu. Mereka sempat mengambil beberapa foto untuk kenangan.


Setelah itu akhirnya mereka masuk ke kamar. Anjani hendak mengganti baju pengantinnya untuk kemudian kembali ke rumah Abimanyu.


Abimanyu lalu menemani wanitanya masuk ke kamar. Sedangkan Ayah dan Ibu Anjani sibuk membagikan makanan kepada para tetangga. Makanan itu Abimanyu yang memesannya sehingga mereka tidak perlu capai-capai untuk memasak dan menyiapkannya. Ayah dan Ibu Anjani benar-benar terima beres dengan semua pengaturan yang dilakukan oleh Anjani dan anak buah Abimanyu. Abimanyu sendiri memberi kebebasan pada Anjani untuk merencanakan seperti apa pernikahan yang akan mereka lakukan.


"Kau cantik sekali," kata Abimanyu ketika sudah menutup pintu kamar.


"Tahanlah dulu keinginanmu. Kita harus pulang ke rumah sebelum anak-anak pulang," kata Anjani.


"Satu ciuman saja."


"Tidak, aku tahu seperti apa pada akhirnya." kata Anjani. Abimanyu lalu terdiam di pinggir tempat tidur yang kecil dan keras karena kasurnya terbuat dari kapuk lama. Dia menepuk sedikit tempat tidur ini.


"Tempat tidur lalu apa lagi yang ingin kau ganti?" tanya Anjani.


"Kau benar kita perlu merenovasinya," ujar Abimanyu melihat plavon kamar Anjani yang sudah bolong karena ulah kucing.


"Lalu?"


Anjani menurunkan perhiasan yang dia pakai satu persatu dari tubuhnya. Abimanyu yang melihat lalu maju dan ikut membantunya mencopot semua dari tubuh Anjani kecuali pakaian yang dia kenakan.


"Mungkin kita juga perlu mengecat ulang rumah ini agar tampak lebih cerah."


"Saranku itu hanya satu padamu, sepertinya jika menuruti mu kau akan meruntuhkan rumah ini dan membangunnya ulang. Jika memang benar itu yang akan kau lakukan maka lupakan saja keinginan mu karena ayah tidak akan mengijinkan kau untuk melakukannya."


"Ayahmu memang orang yang bersahaja dan sederhana," ujar Abimanyu. "Aku sangat bangga mengenal pria sepertinya."


"Bertahun-tahun aku mencari pria yang seperti ayah untuk menjadi suamiku. Pria yang lebih mementingkan keluarganya dari pada dirinya sendiri."


"Kau memilih Devan untuk menjadi kekasihmu," potong Abimanyu.


"Karena hanya Devan pria paling baik yang kutemui sebelumnya," jujur Anjani.


"Lalu setelah?"


"Aku melihat sosok ayah ada pada dirimu. Itu yang membuatku nyaman dan mau menikah denganmu," lanjut Anjani dia tidak ingin Abimanyu membahas soal Devan lagi.

__ADS_1


"Apakah kau mencintaiku walau sedikit," tanya Abimanyu bersimpuh di depan Anjani. Anjani lalu menatap Abimanyu dengan lekat.


"Aku tidak tahu tetapi aku selalu ingin memandang kedua matamu. Ingin masuk ke dalamnya dan selalu berada di sana."


"Itu awal yang baik untukku."


"Lalu bagaimana dengan awal hidupku di dalam dirimu?"


"Kau selalu berputar di otakku, bayanganmu berada terus di mataku dan suaramu terngiang selalu dalam telingaku. Semua yang ada dalam dirimu merasuk dalam jiwaku membuatku gila dalam kesadaran penuh."


"Sungguh?" tanya Anjani tersenyum.


"Sungguh masa aku berbohong."


"Setelah ini apa yang akan kita lakukan?" tanya Anjani.


"Kita akan pulang ke rumah dan aku akan mengajakmu dan anak-anak liburan sekaligus honeymoon kita, walau nantinya diganggu oleh mereka."


"Kau sangat pandai," kata Anjani.


"Memang kita akan kemana?" tanya Anjani.


"Kepulauan Widi, dikenal dunia sebagai Maladewanya Indonesia. Terletak di Maluku Utara, Kepulauan Widi berada di jantung Segitiga Karang , sebuah kawasan yang diakui sebagai pusat global keanekaragaman hayati laut," terang Abimanyu.


"Wow, kita akan ke pantai. Aku pernah melihatnya di sebuah tayangan tentang traveling pantainya memang terlihat indah. Kau selalu tahu apa yang aku inginkan," puji Anjani.


"Karena hati kita itu aslinya satu jadi kita seperti tahu apa yang pasangan kita sukai atau yang tidak." Anjani tersenyum mendengar kalimat balasan Abimanyu.


"Kapan kita berangkat, aku sudah tidak sabar."


"Nanti malam kita berangkat ke sana. Aku sudah menyewa sebuah pesawat jet."


"Wow, secepat itu?" kata Anjani.


"Aku belum mempersiapkan semuanya," kata Anjani lagi.


"Semua sudah aku atur, kau tinggal berangkat saja. Maka dari itu sebaiknya kau berganti baju dan kita pulang secepatnya untuk menyiapkan keperluan anak-anak. Anak-anak juga belum kuberitahu tentang rencana ini karena sebetulnya aku tadi masih ragu kau mau meneruskan pernikahan ini." Abimanyu menghela nafasnya panjang.


"Kau itu selalu berpikir aneh saja."


"Mas Abi, bisakah kau membantuku?"


"Bantu apa?"


"Aku kesulitan untuk melepaskan baju bagian belakangnya."


"Apa kau sedang merayuku?" tanya Abimanyu.


"Tidak, aku sedang tidak bercanda."


"Aku akan cari ibu mertua saja untuk melakukannya aku takut tidak kuat untuk melakukannya," kata Abimanyu berjalan cepat meninggalkan Anjani sendiri di kamar.

__ADS_1


Sepeninggal Abimanyu Anjani tertawa lucu melihat tingkah pria itu. Dia yang gadis mengapa pria itu yang malu-malu.


__ADS_2