
Anjani langsung masuk ke dalam lift memencet lantai bawah tempat lobby berada. Tapi belum sampai di bawah lift terbuka karena ada beberapa orang yang ingin masuk.
Anjani langsung berteriak. "Adakah petugas keamanan?"
Semua yang ada di tempat itu saling berpandangan.
"Ada orang yang mau berbuat jahat padaku di lantai atas," tunjuk Anjani panik.
"Keamanan!" ucap semua orang. "Di lantai bawah Mbak."
"Itu ada di dalam, Pak Paryo," ujar seseorang.
"Oh Satpam depan?" ujar seorang lagi.
"Mbak mari ikut kami," kata karyawan pria mengajak Anjani masuk ke dalam kantor.
Di sana dia bertemu dengan dua orang Satpam yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Pak ada yang mencari meminta bantuan Bapak," ujar karyawan. Dua satpam itu laku mendekat.
"Pak ada pria yang ingin berbuat mesum pada saya, saya pukul dia hingga mati," cerita Anjani panik, takut dan bingung, air matanya mengalir deras. Bibirnya gemetar ketika mengatakannya.
"Lalu dimana orangnya?'' tanya petugas itu.
"Di rooftop," jawab Anjani sembari menyeka air mata yang keluar.
"Kalau begitu kita akan lihat keadaannya."
Pak Paryo lalu menghubungi atasannya dan mereka bersiap ke atas. Anjani yang ketakutan. berdiri di belakang para petugas keamanan itu.
"Jangan takut Mbak, ada kami," kata Pak Paryo yang melihat Anjani memeluk tubuhnya sendiri sembari menangis.
__ADS_1
Anjani menganggukkan kepalanya.
Sedangkan di atas sana, Abimanyu bangun dari pingsan. Dia merasa kepalanya pusing dan perih di daerah pelipisnya. Abimanyu memegang daerah yang terasa sakit. Terasa basah, dia lalu melihat tangannya yang berdarah. Abimanyu lalu bangun dengan pelan. Mencoba mengingat apa yang terjadi. Mengapa dia sampai di rooftop.
Gadis aneh itu tadi menyerangnya. "Apakah dia telah terjun dari lantai atas?"
Abimanyu langsung bangkit dan berjalan ke arah pinggiran tembok dan melihat ke bawah. Tidak ada kerumunan orang dibawah. Baru saja Abimanyu bersyukur pintu rooftop terbuka dan beberapa orang berpakaian keamanan keluar.
"Jangan bergerak, kau sudah dikepung. Kau melakukan kejahatan karena sudah melecehkan seorang wanita," teriak Paryo pada Abimanyu yang masih terlihat punggungnya saja.
Abimanyu lalu membalikkan tubuhnya.
"Bapak!" lirih mereka semua sembari menelan Salivanya.
"Tangkap dia, Pak!" Seru Anjani antara lega karena pria itu tidak mati dan takut jika pria itu melakukan hal buruk padanya.
Para petugas keamanan itu hanya saling pandang lalu menurunkan senjata mereka.
"Tangkap dia karena telah menyerangku tadi," perintah Abimanyu. Para petugas keamanan lalu berbalik melihat ke arah Anjani dengan wajah sangat. Anjani mundur ke belakang.
"Kenapa aku yang ditangkap dia yang mau melakukan pelecehan padaku!" seru Anjani tidak terima. Abimanyu lalu memanggil asistennya untuk datang ke lokasi sembari menekan lukanya dengan sapu tangan.
"Dia itu pemilik gedung ini dan dia adalah Presiden direktur perusahan ini. Jadi di sini kau yang bertindak sebagai penjahatnya karena telah berani menyerang atasan kami," ucap sekuriti itu sembari mengerakkan pukulan ke arah tangannya.
"Cepat tangkap dia," perintah Paryo pada para anak buahnya.
"Aku tidak bersalah, dia memang mau melecehkan aku. Dia itu pria mesum, siapapun dia, dia penjahatnya," tunjuk Anjani pada pria itu.
"Aku tadinya hanya ingin memberitahunya jika tangga darurat sedang masa perbaikan dan sedang rusak. Namun, dia malah berlari seperti orang kesurupan," terang Abimanyu.
Anjani membuka mulutnya tidak percaya pada perkataan pria itu.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa kau ingin memelukku tadi," teriak Anjani.
"Karena kukira kau wanita depresi yang ingin bunuh diri."
"Aku depresi, kau mengigau," seru Anjani tidak terima.
"Kau lihat aku wanita normal dan sehat lahir batin."
"Tapi mungkin Anda benar jika mengatakan dia mengidap depresi, dia mengatakan jika Anda telah mati tadi. Jika dia dalam keadaan sehat batinnya, dia pasti bisa mengecek jika Anda itu sudah mati atau tidak. Tetapi tidak, dia malah berteriak dan mengatakan bahwa dia tidak sengaja membunuh Anda," terang Pak Paryo.
"Nah kan dia itu wanita gila," kesal Abimanyu.
"Kau yang gila!" teriak Anjani tidak terima.
"Kau bawa dia ke kantor polisi, buat laporan untuk tindakan tidak menyenangkan dan melakukan tindak kekerasan," perintah Abimanyu pada asisten yang telah datang.
"Po-polisi, tidak bisakah kita membicarakan ini disini," ujar Anjani yang menciut hatinya mendengar kata Polisi.
"Kenapa kau takut jika kau terbukti bersalah?" tanya Abimanyu. "Pasalmu bisa bertambah atas dugaan pencemaran nama baik karena kau telah melakukan fitnah padaku dengan mengatakan bahwa aku adalah pria mesum yang ingin berbuat kurang ajar padamu."
"Memang kau tadi bersikap seperti itu," teriak Anjani tidak mau kalah.
"Dasar keras kepala," gerutu Abimanyu.
"Kau itu sudah salah, masih ngeyel juga," imbuh Abimanyu kesal pada Anjani sebelum meninggalkan rooftop. Anjani ingin memukul pria itu dan menghajarnya habis-habisan. Dia belum kenal siapa Anjani. Dia pernah ikut karate dan jika bertengkar dengan Elang atau teman-temannya, dia yang selalu menang. Batin Anjani.
"Nona mari ikut kami ke kantor Polisi," kata Petugas keamanan.
"Aku tidak bersalah."
"Masih mengatakan jika kau tidak bersalah? Kau sudah menyerang atasan kami," teriak Petugas itu membuat Anjani terdiam.
__ADS_1
"Awas jika aku bertemu lagi denganmu, aku akan menghajarmu habis-habisan," batin Anjani.