Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Pelet


__ADS_3

Mereka semua pulang di hari Minggu sore menaiki pesawat jet sewaan. Anjani heran dengan sikap Bayu yang seperti menghindar kepadanya. Dia bahkan tidak mau menatap ke arah Anjani sewaktu wanita itu bertanya padanya. Dia takut jika ini hanya perasaannya.


Mereka telah sampai di depan rumah ketika jama di tangan Abimanyu menunjukkan pukul sembilan malam. Anjani langsung menggendong Bumi yang sudah tertidur masuk ke dalam rumah. Abimanyu memanggil Bayu untuk membawakan tas Anjani namun Bayu pergi begitu saja tanpa menjawabnya.


Abimanyu juga sedikit curiga dengan perangai Bayu yang kembali dingin padanya namun dia menunggu waktu tepat untuk berbicara berdua dengannya.


Citra dan Evangeline berdiri di pintu.


"Selamat malam Nyonya Besar, Nona," sapa Anjani.


"Apakah kalian baru pulang berlibur?" tanya Citra. Anjani menganggukkan kepala dengan air muka yang terlihat sedikit canggung.


"Ya sudah, kau bisa membawa Bumi ke atas," kata Citra tanpa ekspresi. Anjani langsung berjalan masuk dan naik ke atas tangga.


"Bayu, kau tidak menyapa Bibi Eva?" kata Citra ketika Bayu lewat di depannya. Bayu lalu tersenyum datar. Menyalami Citra dan Eva.

__ADS_1


"Bagaimana liburanmu?" tanya Eva pada Bayu.


"Baik, aku lelah ingin langsung ke kamar," kata Bayu berlalu pergi. Dia sempat bertemu dengan Anjani di tangga namun dia berjalan tanpa mendahului tanpa mengatakan sesuatu seperti biasanya. Dari gestur tubuhnya Anjani bisa merasakan kemarahan Bayu yang terpendam di dada.


"Oh, seperti ayahnya," rutuk Citra. Eva hanya bisa mengangkat bahunya ke atas.


"Wow, Bibi Eva datang pasti bawa kejutan untukku," kata Tirta antusias mencium tangan nenek serta Evangeline.


"Jika ini seperti Lara, ramah," bisik Evangeline di telinga Ibunya. Citra hanya diam saja tetapi mengakui jika Tirta adalah anak paling ramah diantara ketiga anak Abimanyu.


"Aku sudah membawa hadiah untuk kalian bertiga," bisik Eva pada Tirta.


" Besok saja bersama adik dan kakakmu," balas Evangeline.


"Yah," tanggap Tirta terlihat kecewa. Evangeline mengusap kepala Tirta penuh sayang. Abimanyu lalu masuk membawa tas di tangannya.

__ADS_1


"Kau sudah datang bersama Ibu?" sapa Abimanyu mencium pipi ibu tiri serta saudaranya.


"Kami langsung datang kemari setelah kau memerintahkannya."


"Terimakasih atas bantuannya. Ibu akan tinggal di sini lagi kan? Aku minta maaf jika kata-kata ku telah menyinggung mu tempo hari," ungkap Abimanyu membuat Citra dan Evangeline membuka mulut sejenak karena terkejut.


"Tidak apa-apa semua telah berlalu. Kita satu keluarga tidak baik jika saling bertengkar terlalu lama," jawab Citra.


"Aku harus keatas dulu, Bu. Ingin segera membersihkan diri." Abimanyu lalu mengajak Tirta naik ke kamar mereka. Sedangkan Citra menyenggol pinggang Evangeline dengan sikunya.


"Apa kubilang jika Abi sudah berubah tidak sedingin es batu kini," bisik Citra. Evangeline menganggukkan kepalanya melihat ke arah Abimanyu yang merangkul pundak Tirta ketika mereka menaiki tangga ke kamar atas.


"Apakah itu karena wanita tadi?" tanya Evangeline.


"Sepertinya iya, dia membawa perubahan besar buat keluarga ini. Anak-anak telah dijinakkan olehnya mungkin ayahnya juga," ujar Citra sembari menatap Abimanyu.

__ADS_1


"Bisa jadi," ucap Evangeline. "Namun, selera kakak menurun drastis dari Kak Lara yang super sempurna beralih ke gadis sederhana itu. Apakah gadis itu menggunakan pelet untuk memikat hati semua orang?" pikir Evangeline.


"Bisa jadi, karena Marselina yang telah berada di sini selama bertahun-tahun saja tidak bisa menjinakkan tingkah tiga anak Abimanyu yang super duper bandel itu serta mengambil hatinya."


__ADS_2