
Mendengar pernyataan itu Abimanyu hanya tersenyum. Mungkin mereka sangat merindukan ibunya sampai merasa Anjani sebagai ibunya.
Abimanyu lalu pergi ke kamar Tirta lalu mencium kening anaknya yang sudah mulai tertidur lelap.
"Ayah," kata Tirta membuka mata lalu menutup matanya kembali. Abimanyu menyelimuti Tirta setelah itu melangkah ke kamar Bumi.
Abimanyu memutar knop kamar Bumi, lalu membukanya pelan dan terkejut melihat Bumi yang tidur dengan di peluk seorang wanita. Walau memunggunginya, Abimanyu bisa menebak jika itu adalah Anjani dari rambut hitam lurus miliknya yang jatuh hingga ke lantai.
Dengan langkah gemetar Abimanyu masuk ke dalam kamar itu. Mengapa terasa sesak di dada menatap kebersamaan mereka?
Abimanyu mendekat hingga berada di pinggir tempat tidur. Bumi mengeliat dan tangan Anjani bergerak memeluknya.
Abimanyu tersenyum miring. Hatinya menghangat dan jiwanya berbunga-bunga. Selimut mereka sudah turun hingga ke bawah. Abimanyu lalu menarik selimut itu ke atas hingga ke dada Anjani.
Dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan kamar itu. Menutup pintu itu pelan.
__ADS_1
Sepeninggal Abimanyu, Anjani membuka matanya dan melihat ke arah pintu. Entahlah apa yang dipikirkannya. Dia lalu kembali memeluk Bumi dengan erat.
***
Hari berlalu dengan cepat. Seperti biasanya Anjani menemani anak-anak belajar. Abimanyu sendiri baru saja pulang dari tempat kerjanya. Dia lalu pergi ke atas.
Posisi Anjani adalah duduk di atas karpet tebal bersandar sofa bersama dengan Bumi. Di depannya ada Tirta yang sedang mengerjakan tugas Matematika. Sedangkan Bayu duduk di sebelah Tirta menghadap meja kaca berhadapan dengan layar televisi sedang menggarap tugas di laptop, dia sesekali membuka buku pelajarannya dengan wajah yang serius. Sangat mirip dengan ayahnya jika sedang serius. Bumi sendiri asik mewarnai buku gambarnya.
"Ibu ini apa jawabannya?" tanya Tirta memperlihatkan pertanyaan di lembar tugasnya.
"Ibu tidak tahu jawabannya kau tanya saja ke google," kata Anjani. Dia mengerti tentang Matematika tetapi tidak ahli di bidangnya boleh dibilang Matematika adalah pelajaran yang dia hindari. Itulah salah satu sebab dia mengambil jurusan anak TK karena tidak ada pelajaran hitung menghitung dengan rumus yang membuat kepalanya hampir pecah.
Anjani lalu mengeser tempat duduknya agar Abimanyu bisa duduk di depan Tirta seperti dirinya. Kini posisi mereka jadi berjajar.
Abimanyu lalu mulai mengajari Tirta, sesekali ketika Bayu tidak mengerti tentang pelajarannya juga bertanya pada Abimanyu.
__ADS_1
Anjani memerhatikan cara Abimanyu mengajarkan anak-anaknya. Dia menghela nafas lega. Kekakuan yang kemarin dia lihat ketika pertama kali datang ke rumah ini akhirnya hilang sudah. Anak-anak sudah mulai lepas ketika bersama Abimanyu.
Merasa diperhatikan Abimanyu melihat kearah Anjani, menatapnya lekat. Anjani yang malu karena memerhatikan Abimanyu diam-diam lalu menundukkan wajahnya. Melihat Bumi yang sedang asik mewarnai. Tatapan Abimanyu terasa berbeda kali ini membuat Anjani tidak nyaman.
"Ayah jika seperti ini kok tidak ada jawabannya," kata Tirta membuat lamunan Abimanyu yang sedang asik memikirkan Anjani buyar sudah.
"Oh, apa biar Ayah lihat."
Brak!
Suara benda keras terjatuh ke lantai. Semua melihat ke arah asal suara.
"Oma?" panggil anak-anak bersamaan karena terkejut.
"Tunggu dulu, apakah aku sedang bermimpi? Coba kucubit tanganku sendiri. Aww, aku tidak bermimpi," ujar Citra lalu mendekat ke arah keluarga Abimanyu.
__ADS_1
"Abimanyu, ini nyata kan? Kau, kalian dan mentor itu. Kalian terlihat seperti keluarga yang bahagia," seru Citra.
Marsellina yang berada di belakang Citra lalu meremas kedua tangannya sendiri. "Kau belum mengenalku Anjani, akan kupastikan kau akan keluar dari rumah ini dalam keadaan hidup atau mati secepatnya!"