
#Sebelum membaca cerita ini, follow dulu yah dan kasih bintang lima, Terimakasih#
Susi duduk di sampingnya Putri yang masih pingsan sambil memijat kakinya Putri, "mas Danang kamu dimana?" Ucap Putri yang mengigau.
"Mas Danang!!!" Putri berteriak memanggil Danang lalu duduk sambil mengatur nafasnya.
"Kak Putri.." Susi langsung memeluk tubuh Putri dan menangis.
"Kakakmu dalam bahaya? Ayo kita kesana?" Putri mengajak Susi untuk menemui Danang.
"Kak tenang dulu? Polisi masih mencari keberadaan kak Danang, kita tunggu kabar dari pihak kepolisian, kak Putri yang sabar yah?" Ucap Susi yang masih sesenggukan berusaha menenangkan Putri.
Putri akhirnya sadar dan merenungi apa yang dikatakan oleh Susi, Putri lalu memeluk Susi, mereka berdua menangis.
__ADS_1
Sedangkan di sebuah villa Melisa sangat senang dan terus tertawa bersama kelima jawara tersebut "bagus...kerja kalian sangat hebat, aku suka dengan kerja kalian, hahahaha.." ucap Melisa yang memuji keberhasilan dari lima jawara bersaudara tersebut.
"Ini upah buat kalian, hahaha.." ucap Melisa sambil melemparkan amplop berwarna coklat kepada kelima jawara tersebut sambil tertawa-tawa.
"Terimakasih bos" balas ketua jawara tersebut sambil ikut tertawa.
"Ayo kita rayakan keberhasil kerja kalian?" Melisa lalu merayakan kemenangan itu dengan minuman yang membuat mereka semua melayang di awan-awan imajinasi kepala mereka.
Putri lalu diajak pulang oleh Susi kerumahnya, setelah sampai lalu Putri diajak masuk dan duduk di ruang tamu sambil menunggu kedua orangtuanya Danang kembali. Tak lama kemudian Bu Ratna dan suaminya pulang.
"Iya Mah, Mamah juga yang sabar yah?" Balas Putri dan memberi semangat kepada Bu Ratna sambil berlahan menitikkan air matanya.
"Udah sayang kamu jangan menangis nanti Mamah ikut sedih?" Bu Ratna lalu memegang kedua pipinya Putri dan menghapus air mata yang keluar dari mata Putri.
__ADS_1
Putri semakin kencang menangisinya lalu Bu Ratna memeluknya dan mengelus punggung milik Putri sambil menenangkannya "udah-udah jangan menangis?".
Susi lalu menghampiri keduanya dan memeluknya, ia juga ikut menangis bersama Putri, "kalian berdua jangan nangis dong? Mamah jadi sedih" Bu Ratna terus menenangkan keduanya sambil mencium keningnya Putri dan Susi.
Hari demi hari mereka lalui, pencarian polisi belum membuahkan hasil, Putri selalu murung dan tak semangat untuk bekerja, tak selera untuk makan. Keberadaan Danang masih belum diketahui.
"Ayo nak makan dulu, dari pagi kamu belum makan?" Bu Fatimah menyuruh Putri untuk makan.
Putri hanya diam tak menjawab, Bu Fatimah merasa kasian kepada anak semata wayangnya, semenjak berita hilangnya Danang, Putri selalu murung didalam kamarnya dan enggan untuk berangkat kerja. Bu Fatimah selalu berusaha menghibur anaknya supaya tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
"Kamu harus makan nak, supaya kamu tetap sehat? Ikhlaskan saja apa yang sudah terjadi dan semangat untuk menjalani hari esok nak?" Ucap Bu Fatimah yang terus membujuk Putri supaya mau makan.
Putri hanya diam melamun entah apa yang sedang dipikirkannya, sesekali Putri meneteskan air matanya, membayangkan saat bersama dengan Danang, canda tawa mereka berdua lalui bersama, Putri terus meneteskan air matanya membasahi kedua pipinya, Bu Fatimah yang melihatnya ikut bersedih dan terus berdoa untuk kebaikan anaknya.
__ADS_1
*Bersambung*