Gairah Sang Milyader

Gairah Sang Milyader
Menyusul Danang


__ADS_3

#Sebelum membaca follow dan ikuti yah dukungan kamu membuat author lebih semangat dalam menulis cerita, terima kasih#.


Danang ingin sekali mengajak Lasmi ke kota tapi kasihan dengan kakek Brama yang tinggal sendirian di rumah. Setelah masakan selesai Lasmi menyuruh Danang untuk mengajak Alif beserta teman-temannya dan juga kakek Brama untuk sarapan pagi bersama.


Mereka semua makan dengan lahap walaupun makanan tersebut ala kadarnya saja, tapi terasa nikmat, selesai makan mereka duduk sambil mengobrol, ada yang duduk di teras ada yang di ruang tamu mereka mengobrol berkelompok.


Setelah berpamitan dengan kakek Brama dan juga Lasmi, akhirnya Danang dan rombongan berjalan meninggalkan rumah tersebut, Lasmi lalu langsung masuk kamar dan menangis, kakek Brama menghampirinya dan menenangkan Lasmi.


‘’Udah kamu gak usah sedih nanti juga Danang akan sering kesini? Kamu dengarkan apa katanya tadi?’’ ucap kakek Brama sambil menenangkan Lasmi.


‘’Kek apa aku boleh ikut bang Danang ke kota?’’ balas Lasmi bertanya kepada kakek Brama.

__ADS_1


‘’Terus kakek disini sama siapa?’’ jawab kakek Brama sambil menepuk pundaknya Lasmi.


‘’Aku ingin ikut ke kota kek?’’ ucap Lasmi sambil memeluk kakek Brama dan menangis sesenggukan.


‘’Udah jangan menangis? Kakek mau membelah kayu dulu?’’ balas kakek Brama kepada Lasmi.


‘’Tapi kek...’’ ucap Lasmi yang melihat kakek Brama sudah berjalan keluar dari kamarnya.


Danang dan rombongan terus berjalan sambil mengobrol sampai hari menjelang malam, perjalanan mereka masih jauh dari kota, ‘’hari sudah mulai malam kita istirahat disini aja dulu!?’’ ucap Danang kepada mereka semua, Alif dan teman-temannya lalu beristirahat di tempat itu, sedangkan Danang mencari kayu bakar untuk membuat api unggun.


Malam mulai larut, mereka beristirahat sambil menikmati perbekalan yang telah di berikan oleh Lasmi di terangi dengan api unggun yang menyala.

__ADS_1


Sedangkan Lasmi belum bisa tidur, ia membolak balikkan badannya di atas ranjang karena matanya belum mengantuk, selalu terbayang dengan Danang, Lasmi bangkit dan berjalan ke dapur untuk mengambil air minum karena merasa haus, setelah itu menulis diatas secarik kertas dan menaruhnya disamping kakek Brama yang sudah tertidur lelap.


Keesokan harinya, Danang dan rombongan melanjutkan perjalanan ke kota, mereka terus menyusuri jalan setapak, sedangkan kakek Brama yang baru saja bangun melihat secarik kertas yang ada di sampingnya lalu membaca surat itu, ‘’Lasmi...Lasmi...kamu nekat banget ingin pergi ke kota?’’ gumam kakek Brama lalu berjalan menuju ke kamar mandi.


Lasmi berjalan sendirian sambil membawa perbekalan untuk perjalanannya, setelah dirasa cukup sepi gak ada warga yang lewat, ‘’aku harus cepat menyusul bang Danang’’ gumam Lasmi dengan suara lirih, ‘’tapak seribu..whus...wush...wush...’’ Lasmi berlari diatas daun-daun disekitar itu dengan ilmu meringankan tubuhnya tersebut yang sudah di ajarkan oleh kakek Brama.


Danang dan rombongan terus berjalan, siang hari baru mereka sudah mendekati kota, ‘’kak kita istirahat dulu di sana?’’ ucap Alif kepada Danang sambil menunjuk ke arah kedai kopi yang dekat dengan perkotaan.


‘’Baiklah, ayo kita kesana?’’ jawab Danang kepada Alif.


Mereka mempercepat jalannya supaya cepat sampai di kedai tersebut, setelah sampai mereka lalu memesan makanan dan minuman. Lasmi masih berlari sesekali hinggap di pepohonan ‘’aku harus lebih cepat lagi?’’ gumam Lasmi sambil terus berlari diatas daun-daun tersebut.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2