
"Kok tiba-tiba aku merasa merinding ya. Hih, masak masih terang gini ada hantu" Lesya berjalan menyusuri lorong kelas menuju ruang guru dengan langkah kaki yang sedikit cepat.
Tanpa dia sadari jauh didepan sana ada sosok yang tadi tak sengaja dia temui di cafe. Dia segera menghentikan langkahnya.
"Oh Ya Tuhan... Kenapa dia ada disini. Jangan sampek dia lihat aku". Dia menoleh kekiri dan kekanan, tanpa berfikir panjang dia memasuki kelas kosong disisi kirinya. "Sementara ini aku harus bersembunyi. Jangan sampai dia melihatku. Bisa sial lagi aku nanti" gumamnya.
Tuk tuk tuk tuk... (Anggap saja itu suara sepatu ya gaes. Bukan berarti itu sepatu kuda. Anggap saja langkah kaki yang bersepatu) :-D
Terdengar langkah kaki yang semakin dekat diluar lorong. Lesya sedikit menyeret dirinya menempel di dinding dekat pintu kelas itu.
Liam, Eric dan kepala sekolah berlalu melewati lorong dari kelas-kelas itu.
"Haah, akhirnya mereka sudah pergi. Aku bisa keluar sekarang" Lesya menghembukan nafas kasar, merasa lega karena dia tidak ketahuan bersembunyi disana. Dia meraih handle pintu, menekannya dengan pelan setelah itu dia menjulurkan kepalanya keluar. Menengok kekiri dan kekanan. "Sepertinya sudah aman".
Disisi lain tiba-tiba Langkah Liam terhenti. "Kalian bisa duluan, nanti saya menyusul" katanya.
"Mau kemana pak ?" Tanya Eric.
"Ada sesuatu yang tertinggal".
"Biar saya ambilkan" ucap Eric.
"Tidak usah, biar saya ambil sendiri. Dan kau jangan mengikutiku, ikutlah Pak Lukman" tukas Liam.
__ADS_1
Liam langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi.
Sebenarnya tadi saat mereka jalan menelusurri lorong, dibalik dinding kelas Liam melihat seseorang yang sedang sembunyi di dalam kelas itu. Dan sepertinya dia tau siapa yang bersembunyi.
Saat Lesya keluar dan baru selangkah maju tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Dia pun tersentak dan langsung menoleh kebelakang membentur dada bidang Liam. sangking terkejutnya dia terhuyung dan hampir terjatuh. Reflek tangan kanan Liam menopang punggung dan tangan kirinya memegang lengan Lesya. Kini posisi wajah mereka sangat dekat, membuat mata mereka saling menatap.
Seerrr,,,
Jantung Liam tiba-tiba menggelesir hebat melihat wajah yang sangat dekat dengan matanya. Dia menelan salivanya (glek). "Ternyata dia cantik juga" hatinya tak memungkiri kecantikan gadis yang di tatapnya.
"Maaf, tolong lepaskan aku" pinta Lesya.
"Sekali lagi kau menabrakku, saat itu juga aku tak akan melepaskanmu" kata-kata Liam terdengar penuh ancaman.
Bruuukk...
"Auuuuhh...." Lesya jatuh tersungkur kelantai.
Liam melepas tangannya dan membiarkan Lesya terjatuh. Lalu membalikkan badan dan pergi begitu saja. Seulas senyum sedikit tersungging disalah satu sudut bibirnya.
"Sialan, brengsek. Dia menyentuhku seenaknya setelah itu menjatuhkanku begitu saja. memang dasar laki-laki brengsek". Lesya mengumpat dan sangat kesal. "Aaauuuwwhh... Punggung dan sikuku sakit sekali" meringis kesakitan.
"Bu lesya... David muncul dari lorong depan sisi kanan. "kenapa duduk di lantai ? Apa habis terjatuh ?, Sini biar saya bantu berdiri" memapah Lesya membantunya berdiri.
__ADS_1
"Eee,,, aku hanya terpeleset sedikit pak" jawab Lesya seaadanya. Dia tidak mungkin menceritakan kejadian beberapa menit yang lalu kepada David.
"Benarkah ? Sepertinya lantai ini tidak licin bu"...
"Aku berjalan sedikit tergesa-gesa dan kurang memperhatikan langkahku" jawab Lesya mencari alasan.
"Lain kali hati-hati".
"Terima kasih pak David".
"Sama-sama, apa perlu saya bantu untuk berjalan ?" David menawarkan bantuan.
"Tidak perlu pak, Saya masih bisa jalan sendiri" sambil melempar senyum.
"Baiklah, akan saya antar bu Lesya sampai ke ruang guru".
\_Mohon dukungan dari kalian ya teman-teman. Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1
Terima kasih 🙏