
"Kalau racun memang nggak ada, tapi kalau guna-guna ilmu pelet mungkin saja" cletuk santai Liam.
Uhhuuk uhhuuk...
Kata-kata si bos seketika membuat Eric tersedak sangking terkejutnya.
"Apa bos ?... Yang bener saja bos. Bos jangan bercanda. Sebenarnya ini bekel makan dari siapa tuan ?" tanya Eric sambil mengrlus dadanya. Dia terlihat panik. Sudah terlanjur makanan itu dia masukkan kedalam mulutnya, dan ia telan, sehingga sudah pasti bersemayam dalam perutnya. Mengisi ruang kosong diperutnya.
"Harusnya kamu bersyukur ric". Tukas Liam.
"Maksutnya bos ?" Tanya Eric. Ia menyatukan kedua alisnya, bingung dengan ucapan si bos. "Mana ada orang di guna-guna harus bersyukur" gerutu batin Eric.
"Bersyukur,,, itu berarti kamu sebentar lagi nggak bakal sendiran karena ada pasangannya kan ?" Kata Liam.
"Ya ampun tuan. Saya ingin menemukan seseorang yang ditakdirkan untuk saya. Dipertemukan dengan cara yang baik-baik. Bukan karena di guna-guna kayak gini bos" jawab Eric.
"Ya mana tau yang ngeguna-guna kamu memang jodoh yang di takdirkan. Sudah makan aja. Aku tadi cuman bercanda" jawab santai Liam.
"Dih, bercanda katanya. Jokes bercandanya nggak lucu banget" gumam pelan Eric.
"Ngomong-ngomong, saya lihat dari tadi bos sibuk banget. Apa nggak istirahat dulu bos ?" Tanya Eric.
"Enggak. Nanti saja makan siangnya. Aku ingin cepat nyelesaiin semua ini. Dan hari ini sebelum jam 3 aku akan pulang" jawab Liam.
"Apa bos ?, Pulang ?" Ucap Eric dengan sedikit terkaget. Pasalnya ini momen langka. Yang mana si bos malah pulang cepat. "Salah dengar apa gimana nih gue. Tumben-tumbenan" batin Eric.
"Ric, sudah berapa kali ku bilang. Periksakan telingamu. Tingkat ketulianmu itu sepertinya melebihi batas level" ucap kesal Liam.
"Ya maaf bos. Ya kan saya cuma nanya. Tumben-tumbenan gitu bos mau pulang cepet. Lain waktu aku akan periksa" sanggup Eric.
"Bagus..." Kata Liam. "Jadi tolong berkas ini nanti rapikan semuanya" tambah Liam.
"Siap bos" sanggup Eric.
*
Karena terbayang-bayang wajah Lesya dan jadi tidak fokus bekerja seharian ini, maka itu Liam memutuskan untuk pulang cepat dan menyusul Lesya saat itu.
__ADS_1
Kekesalan Liam menjadi bertambah berlipat-lipat, karena ternyata sosok wanita yang ingin dia temui sudah terlanjur cabut duluan, meninggalkan sekolah SMA Guatama beberapa menit yang lalu.
Tanpa berlama-lama dan berfikir panjang dia memilih untuk menghampiri Lesya di rumah sang ibunya, sekaligus kini berstatus sebagai mertuanya.
Lesya fikir Liam hanya bercanda berkata kalau ingin menjemputnya. Dan ternyata dugaannya salah saat Liam mempertegas kalau ia ingin kerumah sang ibu saat ini.
Mobil mewah berwarna hitam mengkilap kini sudah nampak di depan teras rumah Lesya. Lesya menjadi panik. Dengan gerakan cepat dia langsung menyambar tasnya yang tergelatak di kursi belakangnya, tempat ia duduk. Dia sampai meninggalkan makanannya begitu saja.
"Mau kemana sayang ?, Kenapa sepertinya kau buru-buru ?" Tanya mama Lia heran.
"Itu mah, mas Liam sudah menunggu saya di depan" ucap Lesya. "Saya pergi dulu ya Assalamu'alaikum" tukasnya.
"Suruh dia masuk dulu nak" ucap ibu Marini. Namun sudah tak mendapatkan respon dari Lesya, karena di sudah berjalan menuju keluar rumah dengan langkah cepat.
Karena biasanya Liam hanya akan mengantarkan dan menjemputnya saat dia pergi ke rumah ibunya. Tapi sebelumnya dia sudah pasti akan bertanya akan dijemput jam berapa. Dan kali ini dia jadi kelabakan karena Liam tiba-tiba sudah menjemputnya.
"Maaf menunggu. Ayo kita pulang" ucap Lesya saat sudah keluar dari rumah dan menghampiri Liam.
Liam mengerutkan keningnya. Kenapa cepat sekali pulang fikirnya. Padahal dia berharap untuk diajak masuk ke rumah itu.
"Siapa yang mengajakmu pulang ?" Kata Liam.
"Nak Liam" sapa ibu Marini yang kini berjalan mendekati Liam karena tadi beliau langsung menyusul Lesya yang berjalan terburu-buru.
"Iya, Assalamu'alaikum bu" sapa Liam dengan sedikit senyum yang dia suguhkan. Lalu dia menghampiri sang mertua untuk menyaliminya.
"Waalaikumsalam" jawab ibu Marini.
"Nggak mampir dulu ?, Kenapa buru-buru pulang ?" Ucap bu Marini.
"Nggak ada yang buru-buru pulang kok bu". Jawab Liam.
"Kalau begitu ayo masuk kerumah dulu. Kebetulan kita lagi makan bareng. Nak Liam sudah makan ?" Tanya sang mertua.
"Kebetulan saya juga belum makan siang bu. Bolehkah saya ikut makan disini ?" Tanya Liam dengan santainya.
"Ya boleh banget. Ayo kita masuk" ajak bu Marini.
__ADS_1
"Iya" jawab singkat Liam dan mulai melangkahkan kakinya mengikuti sang ibu mertua.
Sementara Lesya masih heran dengan apa yang baru saja dia lihat saat ini, berdiri terbujur kaku. Seorang Liam Rayandra tiba-tiba mau mampir dan makan di rumahnya. Sebenarnya memang hal yang wajar untuk hubungan suami istri dengan para keluarga dari dua belah pihak saling peduli dan akur satu sama lain. Namun hal itu seharusnya tidak berlaku bagi seorang Liam Rayandra. Tapi pemikirannya kali ini terpatahkan karena dengan tiba-tiba Liam sendiri yang mau mampir ke rumahnya tanpa ajakan darinya.
"Hai,,, kau tidak ikut masuk ?" Tanya Liam. Dia membalikkan tubuhnya saat menyadari si wanitanya belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dan hanya terbengong saja.
"Oh, iya... Saya akan masuk" jawab Lesya dengan sedikit terkaget.
Lalu mereka berdua berjalan masuk kerumah. Dati kejauhan sang mama sudah melihat putra tampannya. Sang mama mengembangkan senyumnya. Sementara Denis hanya melongo melihat kedatangan Liam yang diikuti Lesya dari belakangnya. Dia kagum dengan pasangan yang terlihat cocok itu. Baru kali ini Denis melihat dua pasangan suami istri itu berjalan bersamaan.
"Aduuuh... Auranya awur-awurran. Yang pria cakep, yang wanita juga cantik. Begitu sempurna. Ini nanti kalau punya anak pasti cakep-cakep semua" cletuk Denis.
"hehehe..." Lesya menyeringai kaku menanggapi pendapat Denis. Dan Liam pun hanya menganggukkan kepala menanggapi sahabat istrinya itu.
"Bukankah begitu tuan ?" tanya Denis ke Liam.
"Siiip..." jawab singkat Liam dengan mengangkat jempolnya.
"Jadi kapan saya punya keponakan ?" tanya Denis lagi.
"Secepatnya... Ditunggu saja" tukas Liam.
"Niiiisss... bisa diem ??... Biarkan dia makan" kata Lesya memperingatkan sahabatnya.
"Siap bu bos" tukas Denis sambil mengangkat telapak tangnnya meletakkannya di pelipis kepalanya, seperti hormat.
"Silahkan di makan" kata Lesya sambil menyodorkan piring yang sudah dia isi nasi beserta lauknya.
"Terima kasih" jawab Liam sambil melempar senyumnya ke Lesya.
Lesya pun membalas senyuman itu. Meskipun dia paksakan. "Oh tuhan... dia begitu tampan kalau bersikap lembut dan tenang. Hatiku, pliiisss... baik-baik disana" kata Lesya bermonolog dalam hatinya.
\_Maaf ya teman-teman, up nya lama. Othor benar-benar sibuk dan kadang nggak sempat buat up. Othor harap kalian sabar menunggu ya...
__ADS_1
Terima kasih 🙏