
Dari tempat duduknya Denis melihat sahabatnya yang hanya melongo menatap kepergian laki-laki itu. Dia menggelengkan kepala "kenapa dia malah bengong gitu sih. Sebenernya dia kenapa cobak" Denis bergumam lalu berdiri menghampiri Lesya. Sebelum menghampiri Lesya dia berhenti untuk membayar makanan yang dia dan sahabatnya makan. Setelah itu dia menghampiri dan menepuk pundak Lesya.
"Hey nona, kenapa kau bengong disini. Ada apa sebenarnya. Apa kau mengenal pria itu ?. Kok aku lihat kau tadi berbicara dengannya dan sampai kau bengong melihat kepergiannya" berondong pertanyaan dari Denis.
"Nggak kenal" Lesya menjawab seadaanya lalu berbalik mau ke meja kasir. Namun langkahnya terhenti setelah lengannya ditarik sama temannya.
"Mau kemana ?" Tanya denis.
"Ya mau bayar lah. Kau mau ngikut ? Ucap Lesya serasa menyeringai.
"Bayarnya besok aja" lalu merangkul pundak Lesya dan sedikit menyeretnya untuk keluar dari cafe itu.
"Lah, kok besok gimana sih nis. Kan kita makanya udah tadi" Lesya sedikit bingung.
"Eh,,, pria tadi yang ngobrol denganmu ganteng banget lo btw. Kamu beneran nggak kenal ?" Mengalihkan pembicaraan tanpa menanggapi Lesya soal bayar membayar.
"Ni orang malah ngalihin topik. Jangan bilang tadi kau yang bayar, iya kan nis" Lesya masih kekeh bertanya.
"Hehe,,," Denis hanya tersenyum nyengir. Lagian elu kagak bayar-bayar malah mantengin pria yang meninggalkanmu tadi. Ya udah aku bayar aja. Aku tau kau terpesona melihat lelaki itu sampai fikiranmu lola banget, haha".
"Hiiih... ngeledek mulu. Kan udah aku bilang aku yang akan bayar"..
"Lain waktu aja kamu ganti yang bayarin. Kita balik ketopik pria tadi. Aku tuh kayak pernah lihat itu cowok tapi entah dimana aku lupa" seraya memegang pelipisnya dan sedikit mendongak berpikir keras.
__ADS_1
"Dih, ngadi-ngadi. Mirip kali" cletuk Lesya. "Udah ayo kita pulang".
"Ah, ya sudah lah. Tapi aku yakin pernah melihatnya. Cuman aku lupa dimana. Kau balik ke sekolah kan ?"
"Iya aku balik ke sekolah dulu. Kamu hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut kalo bawa mobil". Sedikit perhatian dari Lesya.
"Ahsiiyaap bu guru" bersikap siap seperti murid militer.
"Haha... Emang dasar punya temen suka banget ngeledek" kata Lesya.
"Elu tau nggak kenapa kita tuh bisa temenan lama sampai sekarang" tanya Denis sambil mengikuti Lesya yang siap memakai helm di kepalanya.
"Enggak, kenapa emang ?".
"Elu yang konyol. Gue mah kagak" ucap Lesya. "Udah balik sana. Ngintil mulu masih kangen lu ya sama aku.
"Yeeee,,, ini juga gue mau pergi. Hati-hati lu cewek konyol" kata Denis.
"Yhaaaiiizzzss... Sesama orang konyol dilarang saling menghina". Lesya mulai menekan tombol starter menyalakan mesin motornya. "Udah ya aku duluan, byeee" melambaikan tangan.
"Oke byeee... Hati-hati" membalas lambaian temannya. Lalu dia melangkah menuju mobilnya.
Sesampainya di mobil Denis masih memikirkan pria tadi "beneran aku tuh pernah lihat itu cowok tapi dimana yah. Eeemm...." Merogoh tasnya mencari ponselnya. Dia menulis seuatu dilaman pencarian (Proweb Corporation). "Oh my god" terbelalak menatap isi ponselnya. "Tuh kan apa gue bilang, wajahnya itu familiar. Ternyata bener dia pimpinan perusahaan Proweb yang sering nongol diberita karena kesuksesannya". Dia masih tak percaya karena melihat sosok itu secara langsung.
__ADS_1
*
*
*
Disisi lain Liam sudah sampai di tempat tujuan, yaitu SMA Unggul Guatama.
"Kita sudah sampai tuan" Eric memberi isyarat pada Liam. Lalu dia turun dari mobil dan membukakan pintu belakang tempat Liam duduk dimobil itu.
Liam keluar dari mobil itu dan melangkah menuju masuk ke sekolah itu.
Tak lama kemudian Lesya pun sampai juga di sekolah itu. Dia memarkir motornya ditempat parkir motor. Lalu dia turun dan merapikan baju serta penampilannya yang sedikit acak-acakan tersapu angin jalanan.
\_Dukung saya terus ya teman-teman. Semoga ceritanya tidak membosankan untuk kalian baca.
Terima kasih 🙏
__ADS_1