
"Tunggu disini sebentar bu Lesya" perintah David.
"Iya pak".
Tak lama kemudian David masuk dengan membawa kotak P3K. "Coba aku lihat" memegang siku Lesya dengan hati-hati. "Sepertinya cuman lecet sedikit. Biar saya bersihkan sebentar". Meneteskan alkohol keatas kapas lalu menempelkan ke luka Lesya dengan hati-hati.
"Aauuwhh" Lesya meringis karena terasa perih.
"Tahan sebentar ya" sedikit meniup supaya cepat kering lalu menempelkan plester luka disiku Lesya. "Nah sudah selesai".
"Terima kasih pak. Apa pak David nggak pulang ?" Ucap Lesya.
"Tadi sebenarnya mau pulang".
"Sekarang pulanglah pak. Dan sekali lagi saya terima kasih". Sedikit tersenyum ke arah David.
Sebenarnya David ingin berlama-lama berada di dekat Lesya. Tapi sepertinya Lesya tak nyaman berada didekatnta, entah kenapa ada hal yang aneh. padahal tadi pagi masih terliat ceria dan biasa saja. "Iya saya akan pulang. Anda tak apa saya tinggal ? Bagaimana kalau saya antar anda pulang ?. Sepertinya keadaan anda tak memungkinkan untuk naik motor".
"Ah, nggak usah pak, saya masih bisa kok naik motor. Bapak tenang saja" dia tersenyum agar terlihat sedikit meyakinkan.
"Baiklah, saya tinggal. Sampai jumpa besok pagi" ucap David dan berjalan pergi dari ruangan itu.
Kini tinggal Lesya sendirian yang berada di ruangan itu. "Aku harus absen dulu, setelah itu baru pulang". Disaat akan beridiri dari tempatnya dia merasa kesakitan. "Aauuucchh... Aduh punggungku nyeri sekali, essssttt" sedikit mendesis dan berusaha berjalan perlahan menghampiri mesin absen. "Nah, sudah selesai".
*
*
*
__ADS_1
Akhirnya Lesya pulang dengan selamat meskipun dia harus bersusah payah untuk menaiki sepeda motornya dan menahan nyeri dipunggungnya.
"Assalamu'alaikum" mengucap salam setelah memasuki rumah.
"Waalaikumsalam" jawab ibu Lesya. "Eh, kamu kenapa ? Kok jalanmu begitu ?" Heran melihat anak gadisnya berjalan seperti nenek-nenek tua.
"A, aku tak sengaja kepleset tadi" ucap Lesya sedikit tergagap karena berbohong pada ibunya.
"Kok bisa".
"Ya bisalah bu. Namanya juga musibah" ucapnya asal.
"Kamu mau diurut ?".
"Tidak usah bu, saya mau tiduran aja dikamar. Mungkin dengan begitu rasa sakitnya akan berkurang" tolak Lesya.
"Kamu yakin nggak apa-apa ?" Ibu marini sedikit kawatir.
"Ya sudah hati-hati".
Didalam kamar dia merebahkan badannya sejenak untuk melepas penat. Menatap langit-langit kamar sambil bergumam. "Rasanya hari ini begitu berat, mood ku jadi berantakan gegara kejadian yang tidak mengenakkan. Entah mimpi apa aku semalam, tapi hari ini aku merasa begitu sial. Tapi Kira-kira siapa ya pria itu. Kenapa dia berada di sekolah. Apa iya dia calon guru juga. Waaahh,,, gawat sih ini kalau beneran dia calon guru juga disana. Bisa-bisa tiap hari aku bakalan apes" mnggeleng kepala kasar.
Lesya bukan tak tahu kepala yayasan di sekolahnya. Iya, dia tahu bahwa Liam Rayandra adalah nama direktur yayasan sekolah tempatnya mengajar. Tapi dia tak pernah tahu wajah seorang direktur itu. Dia juga tak pernah tahu sosok Liam Rayandra yang sering dia dengar dari rekan guru di sekolah itu.
"Aah,,, segar sekali. Serasa energiku kembali" setelah merasa segar sehabis mandi dia merebahkan tubuhnya kembali.
Tok tok tok...
"Masuk bu".
__ADS_1
Lalu ibu marini masuk dengan membawa segelas air, obat serta balsem di nampan yang dia bawa.
"Kamu sudah makan ?" Tanya ibunya.
"Sudah bu, tadi ketemu sama Denis dan makan di cafe dengannya" dia menjawab sambil tersenyum.
"Oo iya. Gimana kabar Denis ? Dia lama sekali tidak main kesini".
"Baik kok bu. Dia sibuk sekali bu, wajar kalau tak sempat bermain. Tapi dia bilang Kapan-kapan akan main kesini kok" jawab Lesya dengan nada lembut.
"Ya sudah, ini minum obatnya". Kalau sudah selesai sini ibu akan sedikit mengurut punggungmu yang sakit biar cepat sembuh".
"Aaah,,, cuma ibu yang pengertian banget" lalu tengkurap dan siap untuk dipijat. "Terima kasih ya bu" hehe.
Mereka bercerita dan mengobrol panjang lebar. Sampai akhirnya sang ibu bertanya.
"Lesya, usiamu sudah 24th. Kapan kamu berencana untuk menikah ?. Ibu ingin melihatmu menikah sebelum ibu tiada".
Lesya mengrenyitkan dahinya lalu duduk menghadap sang ibu. "Ibu bilang apa sih. Ibu bakalan lihat aku nikah kok suatu hari nanti. Dan aku nggak mau tahu ibu harus tetap sehat sampai melihat aku menikah dan mempunyai cucu dari anak-anakku nanti". Mendekatkan dirinya dan memeluk ibunya.
Ibu Marini hanya terdiam mendengar ucapan anaknya dan membalas pelukannya serta mengelus punggung sang putri kesayangannya.
\_Tetap stay disini ya teman-teman. Hehehe 😁
__ADS_1
Terima kasih 🙏