
"Kenapa kau menangis ?" tanya Liam dengan sedikit menelisik sorot mata Lesya. "Apa karena aku membentakmu dan kau takut akan hal itu ?" tanyanya lagi.
Lesya menggelengkan kepalanya. Wajahnya mulai menengadah menatap lekat wajah Liam.
Mengatur nafasnya dan sedikit mengusap air matanya secara asal. "Siapa dia ?. Apakah dia dulu masa lalumu ?" Tanya Lesya. Tangannya mengonyodorkan sebuah foto yang ia jatuhkan tadi.
Liam mengerutkan keningnya, merasa heran kenapa Lesya bisa menemukan foto itu. "Kenapa kau bisa menemukan foto ini ?" Tanyanya.
"Aku tak sengaja menemukannya saat mencari sesuatu di laci" kata Lesya.
"Em,,, dia sosok masa laluku. Apa kau mengenalnya ?" Tanya Liam lagi.
Air mata Lesya kembali luruh saat ditanya soal hal itu oleh Liam. "Iya, aku mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya".
Liam menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Lesya. Ia masih terdiam menunggu kata selanjutnya yang keluar dari bibir Lesya.
"Ia adalah saudara ku. Kakak sepupuku" sambung Lesya.
Deg...
Liam sedikit terkejut saat mendengar jawaban dari Lesya. Ia tak menyangka akan hal itu. Pantas saja saat beberapa kali bertemu, sekilas ada sedikit kemiripan dari keduanya. Itulah yang membuat Liam tertarik kepada Lesya awalnya. Sampai akhirnya ia terus menggali informasi tentang Lesya. Tapi berita kalau dia masih bersepupu dengan Sherly bisa lolos begitu saja tanpa ia ketahui.
Kini Lesya mengerti, apa alasan Liam lebih memilih sendiri tanpa sosok wanita disisinya. Alasannya karena dia belum bisa melupakan sosok perempuan di masa lalunya. Iya,,, sosok perempuan itu adalah Sherly sepupunya.
"Maaf..." Lagi-lagi hanya kata itu yang terlontar dari bibir Lesya. Ia tak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapannya. Suaranya pelan bibirnya bergetar, karena menahan suara tangisnya.
Liam melangkahkan kakinya maju satu langkah mendekati Lesya. Hingga jarak diantara keduanya hanya tersisa satu senti saja. Liam langsung melingkarkan kedua tangannya. Mendekap Lesya dalam pelukannya seraya menepuk-nepuk pelan punggung Lesya, supaya ia merasa sedikit tenang.
Tak ada suara yang keluar dari mulut Liam. Ia pun merasa sedikit terguncang dengan keadaan. Memang selama ini ia tak bisa melupakan sosok mantan kekasih dalam ingatan dan hatinya. Namun tak dipungkiri semenjak kehadiran Lesya di sisinya, ia merasa lebih tenang dan nyaman.
Meskipun ia tak paham dengan apa yang dirasakan dalam hatinya selama beberapa bulan ini. Yang pasti kali ini Liam merasa ada sedikit kebahagiaan dalam hidupnya. Merasa mempunyai teman untuk di ajak bicara. Mempunyai teman untuk aksi jahilnya. Dan mempunyai teman tidur meskipun tak satu ranjang tapi tetap saja dalam satu kamar yang sama.
Hari-harinya berasa sedikit lebih sibuk. Fikirannya pun sedikit lebih bertambah, karena memikirkan Lesya. Tak banyak,,, meskipun cuma hal-hal kecil. Tentang wanitanya nanti akan pulang mengajar jam berapa dan dia harus menjemputnya jam berapa. Itu contoh kecilnya.
__ADS_1
Dulu ia tak pernah memikirkan hal itu sebelum menikah dengan Lesya. Tapi karena pernikahan itu ia jadi sering memikirkan wanitanya. Memang merepotkan, tapi lama kelamaan menjadi terbiasa dan merasa tiada beban. Bahkan cenderung ia akan uring-uringan kalau Lesya sampai pulang duluan tanpa ia jemput dan tanpa ada kabar.
Hanya saja rasa gengsinya terlalu tinggi seperti puncak gunung Himalaya. Benteng pertahanannya bagaikan tembok besar China. Yang susah untuk ditaklukkan dan di terobos begitu saja, untuk hanya sekedar mengakui rasa suka. Karena ia masih bingung dengan apa yang ia rasa dalam hatinya. Mungkin terlalu lama kosong, sampai lupa gimana rasanya jatuh cinta.
"Kau tahu... Harusnya aku yang merasa lebih sesak disini, karena ia pernah ada dan mengisi hatiku. Tapi malah kamu yang berlebihan seperti ini dan membuatku bingung. Bingung bagaimana harus menenangkanmu" ucap Liam kini dari keheningan beberapa detik yang lalu.
"Maaf..." Lagi-lagi hanya kata maaf yang ia lontarkan.
"Hey,,, sekali lagi kau minta maaf, aku kasih bonus mengglitikmu sampai kram. Mauuu ??" Kata Liam sambi melepas pelukannya dan memegang pundak Lesya. Membukkukan sedikit kepalanya agar sejajar dengan wajah Lesya.
Lesya menggelengkan kepalanya cepat. "Tentu saja aku tidak mau. Di gelitik itu kan geli. Bonus macam apa itu". Bibirnya mengerucut kesal dengan ucapan Liam.
"Masak sih ??, Coba ku lihat". Tangan Liam bergerak cepat dan mulai menggelitik pinggang Lesya.
"Haha... Aduuuh... Ampuun... Geli masss" Lesya sedikit tertawa, merasa geli.
Namun Liam tak menghentikan aksinya begitu saja, kendati Lesya sudah meminta untuk menghentikannya.
"Ampun mass ampuuun... Aduh aku nggak kuat mas,,,, geliii bangeeett. Hahaha".
Tawa mereka berdua menggema di ruangan kamar itu.
*
"Dia memang kekasih pertama dan terakhirku. Semenjak dia tiada, aku memilih sendiri. Aku masih trauma berhubungan dengan wanita, semenjak dia meninggal karena tabrak lari".
Kini Liam menceritakan semua tentang dirinya dan Sherly waktu itu. Mereka sedang tidur diatas kasur yang sama sambil tidur miring dengan saling berhadapan.
"Aku masih merasa bersalah atas kepergiannya" sambung Liam.
Lesya menyatukan alisnya mendengar Liam saat mengatakan ia merasa bersalah atas kepergian Sherly.
"Anda tahu, kalau semua yang ada di dunia ini hanya titipan. Harta, tahta, pekerjaan, nyawa, bahkan wajah rupawan itu semua cuma titipan. Kapan saja Allah bisa mengambilnya dalam sekejap mata. Dan anda tahu, kalau semua yang bernyawa akan mati, itu sudah menjadi suratan takdir hidup. Bahkan sekarang aku masih bisa bernafas, tapi aku tak tahu yang akan terjadi beberapa jam kedepan. Bisa saja ini menjadi saat terakhir saya bicara dengan anda" jelas Lesya panjang lebar.
__ADS_1
"Jangan bicara ngelantur. Omongan itu biasanya menjadi do'a". Mendengar Lesya bicara dengan kalimat yang terakhir membuat Liam sedikit kesal.
"Hehehe" Lesya terkekeh. "Aku hanya berumpama. Kenapa jadi marah" kata Lesya. "Saat ini kita wajib bersyukur, karena semua yang telah diberikan oleh Allah. Agar semuanya menjadi berkah dan awet" jelasnya lagi.
"Sekarang, berhenti menyalahkan diri anda atas kematian kak Sherly. Ikhlaskan beliau. Agar beliau beristirahat dengan tenang di sana. Anda tahu, bahkan keluarganya pun sangat ikhlas saat ditinggalkan. Supaya tidak memberatkan beliau saat di hisab dalam kubur" sambung Lesya.
"Aku memang belum bisa melupakan dia sepenuhnya. Tapi kehadiran seseorang beberapa bulan yang lalu dalam hidupku, membuat diriku sedikit bisa melupakan hal itu. Sedikit bersemangat dan memberi warna dalam hidupku" ucap Liam sambil merubah posisinya menjadi terlentang tanpa menatap Lesya.
Sementata Lesya yang mendengarkan ucapannya menjadi terdiam. Gemuruh jantungnya sedikit terpacu. Pipinya memerah. "Heiii kenapa kau sangat kege-erran sekali. Bisa jadi itu bukan kamu yang dimaksut. Bodoh sekali kau ni sya" . Gumam Lesya dalam batinnya merutuki kebodohannya. Pasalnya dia sudah baper duluan. Padahal belum tentu dirinya yang dimaksut Liam sedikit memberi warna dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Lalu Liam mulai memejamkan matanya. Lesya pun merubah posisinya dengan memunggungi Liam dan mulai menutup matanya.
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba terasa lengan seseorang melingkar di pinggang rampingnya.
"Apa-apaan ini. Lepas ya... Kita memang tidur seranjang tapi sudah kubilang jangan melewati batas guling. Dan anda sudah melewati batas itu". Kata Lesya berusaha melepas tangan yang melingkar di pinggang.
"Ssstt.... Kamu berisik sekali. Tutup saja matamu dan mulai tidur. Aku hanya mencari posisi yang nyaman untuk membuatku bisa tidur" kata Liam dan semakin mengeratkan tangannya di pinggang Lesya.
"Aduuhh... Jangan kencang-kencang. Ini membuat ku sesak nafas" kata Lesya.
"Kenapa cara bicaramu masih kaku sekali... Aku sekarang tidak sedang menjadi atasanmu. Kau sengaja mau dihukum ya ?" Kata Liam dengan suaranya yang mulai serak karena mengantuk.
Namun Lesya hanya terdiam dan mulai kembali menutup mata. Tanpa membalas kata-kata Liam. Rasa kantuknya sudah berdemo untuk minta diistirahatkan.
\_soga cepat lolos...
Terima kasih 🙏
__ADS_1