
Lesya berjalan tergesa-gesa menuju ruang guru. Dia sudah tak sabar untuk pergi ke kantin untuk mengisi amunisi kembali. Karena tadi pagi dia hanya memakan sepotong roti dan tak sempat sarapan dengan benar.
Sejak perselisihan antara dia dengan sahabatnya, Lesya semakin menghindar dari David. Dia lebih memilih diam, dan hanya akan menanggapinya jika disapa duluan. Ia juga selalu menolak ajakan David kemana pun itu. Sekali pun cuma pergi bersama ke kantin untuk makan siang. Dan dia akan mencari seribu satu alasan untuk menolak ajakan David
David pun merasa kalau Lesya memang semakin hari semakin menjauh darinya.
Di kantin sekolah itu Lesya memilih untuk duduk sendiri supaya dia bisa menikmati makanannya dengan santai dan lahap.
"Permisi,,, aku boleh duduk semeja dengan anda ?" Tanya seseorang dari samping Lesya.
Seketika Lesya menghentikan aksinya yang sudah menyendok sesuap nasi, dan siap dia masukkan ke dalam mulutnya yang sudah menganga.
Lalu Lesya mendongak melihat sosok dari sumber suara. Lesya sedikit bingung untuk menjawab. Antara dia iya-kan atau melarangnya.
"Oh boleh, silahkan" jawab Lesya sekenanya. Ia ingin menolak namun dia segan untuk mengatakan tidak.
"Terima kasih" ucapnya dengan seulas senyum. Dia segera duduk dan satu meja berhadapan dengan Lesya.
Iya,,, Lelaki itu adalah David. David terus saja berusaha mendekati Lesya. Dia sampai mengkesampingkan harga dirinya, dan tak menghiraukan cuwitan dari para rekan guru yang membicarakannya karena terus saja mengejar Lesya.
Dan kini para guru perempuan yang dulu mengatakan kalau Lesya sosok perempuan ganjen yang terus menarik perhatian para lelaki termasuk David, itu semua mereka anggap salah menilai. Karena yang mereka lihat sekarang ialah David yang terlihat terus saja mendekati Lesya.
Demi wanita yang dia dambakan dan dia cintai, David lebih memilih menutup dan menebalkan telinganya. Berlagak tuli dengan omongan semua orang tentang dirinya.
Di meja kantin itu mereka berdua memang terlihat makan bersama, namun Lesya hanya diam. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut Lesya. David yang merasa di acuhkan hanya menatap Lesya sesekali dengan terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Bu Lesya" kini David mulai berbicara.
"Iya" jawab Lesya seraya menegakkan kepalanya menatap David.
"Apa aku punya salah ? Tanya David.
Lesya menyatukan kedua alisnya. "Tidak,,, anda tak pernah berbuat salah apapun" kata Lesya.
"Benarkah ?, Lantas kenapa anda selalu saja menghindari saya ?" Tanya David tanpa basa-basi.
"Iyakah ???" Lesya balik bertanya.
__ADS_1
"Sepertinya itu hanya prasangka anda saja pak" sambung Lesya. Dia mulai menyusun alibi, karena dia tak mungkin menjelaskan tentang dirinya yang memang menghindari David.
"Apa anda punya masalah ?... Kalau ada, anda bisa ceritakan ke saya" kata David.
"Enggak kok. Saya nggak kenapa-napa dan baik-baik saja" ucap Lesya.
Ternyata Liam sedari tadi memperhatikan Lesya yang sedang duduk semeja dengan David.
Kedua tangannya bersedekap, serta raut wajah datarnya dan terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Sedangkan Eric sibuk memesankan makanan untuk si bos dan dirinya sendiri di kantin itu.
"Ini makanan untuk anda sudah siap tuan" kata Eric sambil membawa nampan stenlis berisikan menu makan siang untuk sang bos.
"Terima kasih ric. Ow ya, saya duluan. Saya akan duduk di sana dan jangan ikuti aku" kata Liam sambil mengarahkan wajahnya menunjuk sosok wanita yang duduk dengan seorang pria.
"Baik tuan" jawab Eric dengan lugas.
"Mulai deh, mulai... Emang suka banget nyari perkara. Bikin jantungan mulu dia mah" gerutu Eric dalam hati pada bos besarnya.
Tanpa permisi dan basa-basi, Liam langsung mendudukkan dirinya di kursi yang berdekatan dengan Lesya. Membuat Lesya yang sedang meneguk air dalam gelasnya tersedak tiba-tiba saat matanya melirik seseorang yang kini duduk di sampingnya.
"Pelan-pelan saja, aku tak akan merebut minumanmu" ucap Liam dengan nada datarnya.
Lesya langsung menyambar selembar tissu dari tangan David. Karena tangan David yang mulai mendekat ke bibirnya.
Sedangkan Liam tak peduli dan lebih memilih menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Apa anda ada perlu pak Liam ?" Tanya David. Dia sedikit cemburu karena Liam memilih duduk di kursi yang berdekatan dengan Lesya.
"Apakah kurang jelas dengan tujuan saya ke kantin ?. Sudah pasti saya perlu makan siang" tukas Liam dan seperti biasa dengan nada arogannya.
"Oh ya benar. Maaf" ucap David. Padahal bukan jawaban seperti itu yang dia harapkan.
"Apa anda punya hubungan yang spesial dengannya ?" Tanya Liam tiba-tiba yang di tujukan ke David sambil melirik wanita yang duduk di sebelahnya.
Sontak Lesya menatap Liam dengan mata terbelalak dan mengerutkan keningnya.
David melihat Lesya sekilas. "Kenapa dia menatap pak Liam seperti itu ?". David bertanya dalam batinnya, dia mulai curiga dengan gerak gerik Lesya.
__ADS_1
"Tidak ada yang spesial. Kami hanya rekan sesama guru. Tapi saya sedang berusaha untuk memulai hubungan yang serius lebih dari sesama rekan guru" jawab David dengan percaya diri yang penuh.
"Hehm" Liam mengangkat sudut bibirnya sebelah tersenyum sinis. "Percaya diri sekali anda" kata Liam.
"Iya memang saya penuh percaya diri. Karena saya tak mau menyia-nyiakan gadis yang saya sukai" ucap David dengan santainya.
"Oh my god... Perbincangan ini sungguh tak mengenakkan untuk aku dengar. Ya Allah,,, selamatkan aku dari dua mahkluk aneh ini. Acara makan siangku jadi tak berasa nikmat gara-gara mereka berdua". Lesya semakin gusar dan panik dengan dua pria dewasa yang kini terlihat sedikit bersitegang.
"Jangan harap anda bisa memilikinya sampai kapan pun" ucap Liam dengan nada datarnya namun cukup membuat bergetar bagi orang yang mendengarnya.
Lesya lagi-lagi dibuat terbelalak mendengar ucapan Liam. "Apa-apaan sih... Suka ngawur kalau ngomong" batin Lesya.
"Maksut anda apa ? Apakah anda juga ingin memilikinya ?" Tanya David dengan menyatukan alisnya. Dia tak terima dengan ucapan Liam yang seolah-olah Lesya adalah miliknya.
"Silahkan kamu jelaskan padanya" ucap Liam sambil memajukan wajahnya sedikit mendekat ke wajah Lesya.
Dengan cepat Lesya memundurkan tubuhnya. "Saya ??" tanya Lesya. Menyatukan alisnya dengan ekspresi yang terlihat bingung. "Memang saya harus menjelaskan apa ??. Apa yang perlu saya jelaskan ke pak David ??" sambung Lesya.
"Apa perlu saya yang menjelaskan dan mengatakannya secara jelas ?" Tanya Liam. Namun terdengar seperti ancaman.
"Aduh,,, makin nggak jelas ini orang. Sumpah pengen aku sumpel tu mulut pakek kain lap bekas" Umpat Lesya pada Liam dalam batinnya.
"Pak David saya sudah selesai. Saya mohon undur diri duluan" ucap Lesya.
"Pak Liam, saya mohon ikut saya sebentar. Saya ingin bicara dengan anda" ucap Lesya lagi yang kini di tujukan ke Liam.
David di buat tambah bingung melihat ke anehan Lesya dan Liam. Sedangkan Liam tersenyum licik dan samar melihat ekspresi bingung David. Dia merasa puas karena sudah mempermainkan David.
\_Maaf saya updatenya lama ya gaes. Saya sudah bilang di bab Sebelumnya kalau saya benar-benar sedang sibuk.
\_Semoga bab ini cepat lolos.
__ADS_1
Terima kasih 🙏