
Seperti sebuah bongkahan batu besar yang terus menerus terpercik air hujan yang turun. Pada akhirnya akan membentuk sebuah lubang akibat percikan dan tergerus air hujan yang jatuh di atasnya.
Begitulah ibarat perasaan manusia. Sekeras apapun akan luluh juga di suatu saat nanti. Tak tahu kapan itu akan terjadi, namun bersabarlah.
Karena ketika tertimpa masalah jangan hanya bersedih, tapi berusahalah bersabar. Masalah yang dihadapi adalah bentuk ujian untuk menguji kesabaran.
"Ujianku kali ini adalah tentang sebuah perasaan yang menyangkut hati. Yaitu cinta dari kedua pasangan".
"Selalu ku selipkan do'a disetiap sujudku. Untuk hubungan yang sedang ku jalani. Aku sedang berjuang meluluhkan hati seseorang yang kini berstatus sebagai suamiku".
"Meskipun dulu aku pernah lelah dan menyerah atas dirinya. Namun entah mengapa selalu saja kuselipkan namanya di setiap do'aku".
"Aku pernah mendengar sebuah kalimat dari sebuah siaran radio yang ku dengar, yang pernah di ucapkan oleh Ali bin Abi Thalib sebelumnya. ( Jika engkau sedang meluluhkan hati seseorang, maka luluhkanlah lewat do'a ). Dan itulah yang terus aku lakukan.
"Apakah kali ini do'a yang terus aku panjatkan mulai diturunkan setetes do'a itu oleh Allah untukku ?. Itu menjadi tanda tanya bagiku. Karena melihat perilaku dirinya yang terlihat manis denganku".
"Bahagia ??, tentu. Wanita mana yang tidak bahagia saat diperlakukan manis oleh pasangannya. Namun terselip kekhawatiran juga yang besar dalam benakku".
"Aku tak mau berharap atau berekspektasi terlalu jauh. Karena aku ini pengecut yang takut akan rasa kecewa".
Lamunan Lesya begitu penuh dengan harap dan tanda tanya. Di dalam mobil itu ia terus menatap keluar sambil menopang dagunya dengan telapak tangannya dan menyenderkan sikunya di gagang pintu mobil itu.
Mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang menuju mension Rayandra. Tentu saja dia sekarang ada di dalam mobil milik Liam dan hanya berdua. Karena sang mama memilih pulang dengan tetap menaiki mobilnya dan diatarkan pak sopir pribadi mama Lia.
Sesekali Liam melirikkan matanya ke arah Lesya yang masih setia menatap jendela mobil. Melihat ke arah keluar yang kini diguyur air hujan.
"Padahal perkiraan cuaca tadi cerah. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi hujan ya ?" Liam mulai membuka mulutnya. Yang sebelumnya enggan memulai pembicaraan. Namun semakin lama Liam semakin bosan karena terlalu hening. Kali ini dia membuang sedikit gengsinya untuk memulai mengajak Lesya bicara.
"Iya ?" Jawab Lesya. Dia hampir tak mendengar apa yang dikatakan oleh Liam karena sibuk dengan lamunannya.
"Kamu kenapa ?" Tanya Liam.
"Saya ?,,, Nggak kenapa-napa kok" jawab Lesya.
"Kamu dari tadi saya lihat terus-terusan melamun. Mikirin apa ?" Tanya Liam lagi.
"Tidak ada,,, tidak ada yang saya pikirkan. Saya hanya menikmati hujan diluar sana dibalik jendela ini" kata Lesya.
__ADS_1
"Oo ya ?" tanya Liam dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Eem" jawab singkat Lesya sambil menganggukkan kepalanya.
Beberapa detik kembali hening. "Ngomong apa lagi ??, Aku udah nggak ada bahan perbincangan. Tapi kenapa dia jadi irit bicara jika bersamaku. Kenapa kalau dengan temannya dia begitu biasa saja. Bahkan bisa ketawa brutal" gumam Liam dalam batin.
"Apa kamu mau mampir ke suatu tempat ?" Tanyanya kembali.
"Mampir kemana ?" Tanya Lesya.
"Terserah kamu. Akan aku antar" kata Liam.
"Entahlah,,, aku tidak ingin mampir kemana-mana" tukas Lesya.
"Ke swalayan dekat sini mungkin. Atau ke mall ?" Kata Liam.
"Tidak" tukas Lesya.
"Ke hotel juga boleh. Aku siap mengantarmu kemanapun. Bahkan aku pun siap memberi bonus buatmu" cletuk Liam dengan ekspresi datarnya namun terselip maksut aneh dalam perkataannya.
Mendengar ucapan Liam yang absurd, yang sepertinya mulai nakal, Lesya langsung menoleh ke arah Liam dan memicingkan matanya. "Dih, tu mulut kebiasaan, kalau ngomong nyebellinnya nggak ada obat" gerutu Lesya.
"Tatap aku terus. Menatapku itu gratis. Dan aku tau kalau aku tampan. Kau tahu, menatap lawan jenis lebih dari tiga 3 detik itu adalah nafsu. 1 detik karena tak sengaja, 2 detik mulai mengagumi dan yang terakhir mulai terlihat nafsu" seloroh Liam panjang lebar. Dia melempar kata yang pernah Lesya ucapkan untuk dirinya. Dan karena ucapan Lesya tempo itu sukses membuatnya kesal. Akhirnya dia mencari ungkapan kata itu di mesin pencarian ponselnya. Kurang kerjaan sekali memang. Hanya demi mencari kebenaran ucapan Lesya waktu itu.
"Hehe..." Lesya meringis kaku menampakkan seluruh gigi depannya. "pintar sekali dia berkilah. Itu kan ucapanku waktu itu. seharusnya aku memberi klaim pada kata-kata itu, biar tidak sembarangan dia bisa meng-copy paste" kesal Lesya. "Eh,,, tapi aku juga meng-copy paste juga sih. hehe" gumam batin Lesya.
"Iya memang anda sangat tampan" ucap Lesya. "Sayangnya nyebellin dan arogan" kini dia bergumam dengan sangat pelan.
"Apa katamu ?".
"Saya bilang, iya anda begitu tampan. benar kan ?" ulang Lesya.
"Sesudahnya, apa katamu ?" Tanya Liam lagi.
"Nggak ada. Saya cuma ngomong itu saja" kata Lesya mencari alasan.
"Heh" Liam menaikkan sebelah bibirnya tersenyum sinis. "Aku mendengarmu bodoh" ucap Liam dengan nada santai dan wajah datarnya.
__ADS_1
"Memang saya ngomong apa ?. Sepertinya anda salah dengar" kata Lesya. Mukanya mulai sedikit terlihat panik, takut kalau Liam beneran mendengar ucapannya yang terakhir.
Ciiitttt...
Tiba-tiba Liam memberhentikan mobilnya dipinggiran jalan itu.
Lalu Liam menolehkan wajahnya ke arah Lesya. Sedikit mendekatkan wajahnya itu ke wajah Lesya.
"Kau bilang aku tampan. Dan kau menginginkan ku bukan ?" Kata Liam dengan suara yang begitu halus. Tatapannya susah diartikan. Sementara senyuman smirknya begitu terlihat menggoda namun juga menyebalkan. Menyebalkan karena Lesya tahu kalau Liam saat ini hanya mode menggodainya.
Liam sengaja mengatakan hal yang berbeda dari yang dia dengar dari mulut Lesya. Dan dia sengaja mengubah kata-kata Lesya untuk menggodai wanitanya. Dia sangat suka ekspresi wajah kesal Lesya saat ia goda. Terlihat begitu menggemaskan baginya.
"Oh tidak... Jangan membuat imanku goyah hanya karena pesona dan rayuan palsumu itu tuan Liam Rayandra" gumam Lesya merasa hatinya bergetar saat bertatapan dengan wajah Liam.
Dengan cepat Lesya memalingkan wajahnya.
"Jangan menggodaku tuan" kata Lesya.
Liam menarik dagu lancip Lesya dengan perlahan. "Kenapa ?... Bukankah kau senang kalau aku menggodamu ?" Kata Liam.
Lesya hanya terdiam. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus menahan malu dan debaran jantung yang mulai memberontak masal.
"Atau kau menginginkan lebih dari sekedar ku goda hem ?" Ucapan Liam penuh dengan umpan berbisa yang bisa menghanyutkan lawan.
"Jantung tolong tenang. Hati,,, pliiisss jangan terpedaya" monolog Lesya dalam batinnya, seperti memberi peringatan pada jantung dan hatinya sendiri.
Lagi-lagi Liam menaikkan sebelah bibirnya tersenyum smirk.
Lalu Lesya menepis tangan Liam yang masih memegang dagunya.
\_Pliiissss lolosnya cepet ya pliiissss... 🤭🤭
__ADS_1
Terima kasih 🙏