
"Betul sekali Non Lesya. MasyaAllah, selain cantik non Lesya juga baik. Beruntung sekali tuan Liam punya istri kayak non Lesya. Non Lesya juga beruntung punya suami tampan dan baik pula seperti tuan Liam. Pokoknya kalian pasangan yang cocok sekali" tutur mbok ijah panjang lebar.
"Hehehehe" namun dibalas dengan cengiran oleh Lesya. "Mbok ijah spertinya salah. Bukannya beruntung malah bencana yang bener mah. Dapet suami kayak si beruang kutub" batin Lesya.
"Terima kasih ya mbok. Mbok balik istirahat gih. Mbok pasti capek" kata Lesya.
"Iya non". Mbok ijah pun lalu pergi kembali ke kamarnya.
Lesya berjalan menaiki tangga dengan membawa kopi di nampan yang di bawanya.
"Ini kopinya. Silahkan dinikmati" ucap Lesya ketika sudah berada di kamar Liam dan menaruh kopi di nakas samping ranjangnya.
"Lama banget bikin kopi. Kamu bikinnya di jamaika !!" cloteh Liam.
"Saya belum tau seluk beluk rumah ini tuan. Jadi saya lama karena harus mencari bubuk kopinya dulu" jelas Lesya.
"Ya sudah. Terima kasih" kata Liam.
Lalu Lesya berjalan kembali menuju ke sofa. Meringkukkan tubuhnya di atas sofa itu. Lalu membaca do'a tidur dan mulai memejamkan mata.
"Hay kau. Siapa suruh tidur !!" Bentak Liam tiba-tiba.
"Astaghfirullah" Lesya berjingkat dari tidurnya.
"Saya cepek tuan, saya ingin tidur" ucap Lesya.
"Kamu enak-enakan ya, sementara saya masih sibuk ngurus kerjaan" kata Liam.
"Lah, dia yang kerja ngapain gue yang repot. Terus gue harus nungguin dia gitu" gumam lirih Lesya.
"Ngomong apa kamu" kata Liam.
"Nggak ada, nggak ada ya... Nggak ngomong apa-apa".
"Kamu cuma bawa kopi nggak bawa cemilan" kata Liam.
"Huh, dia tadi nyuruhnya kan cuma kopi. Ya mana aku tau harus bawa cemilan, emang saya bisa baca pikiran orang" batin kesal Lesya.
"Kenapa diam. Ambilkan cemilan" bentak Liam lagi.
"Iya iya... Saya ambilkan" ucap Lesya dengan sedikit kesal. Tapi dia tetap pergi mengambilkan cemilan.
Kembali ke dapur dan mencari sesuatu di sana. Iya,,, mencari cemilan itulah tugasnya. Kedua tangannya sibuk membuka seluruh laci dan lemari di dapur itu.
Akhirnya dia menemukan beberapa bungkus biskuit yang berbeda. Lesya memasukkan biskuit itu ke dalam tiga toples lalu memabawanya dengan nampan.
"Ini tuan cemilannya" ucap Lesya dan menaruh nampan di nakas sebelah kopi tadi.
__ADS_1
Liam menoleh ke nakas yang berjajar cemilan yang di bawakan Lesya. "Kau ndak lihat ada puding di kulkas ?" Tanya Liam dengan mengerutkan alisnya dan menatap Lesya dengan tatapan tajam.
"Tidak tuan" balas Lesya.
"Benarkah ?"
"Iya". "Perasaan ku mulai ndak enak nih".
"Kalau begitu bikinkan puding. Aku kurang suka sama biskuit" perintah Liam.
"Apa ?" Ucap Lesya dengan nada kaget.
"Kamu budek ya. Bikinkan puding ku bilang".
"Ini sudah malam tuan. Saya mau istirahat. Besok pagi saya harus berangkat mengajar" kata Lesya.
"Oow... Jadi kau berani menolak ?" Ucap Liam. Nadanya memang lembut tapi sorot matanya penuh penekanan.
"Oow... Tentu tidak. Hehe,,, baiklah saya buatkan".
Lalu lesya kembali keluar dengan mencibikkan bibirnya. "Tuh kan bener firasat aneh ku. Tuan arogan sialan. Crewet banget oh my god".
Lalu dia mulai memasak puding. Untung saja tadi dia melihat satu bungkus bahan untuk puding waktu mencari bubuk kopi dan biskuit. Jadi dia tak kesulitan lagi mencarinya.
"Ya Allah. Mataku ngantuk banget" keluh Lesya. Sedangkan tangannya terus mengaduk puding yang di masaknya.
Dia mendongak melihat jam yang tertempel di dinding dapur itu. Terlihat waktu menunjukkan jam 11 malam.
Puding selesai di masak. Dia segera memasukkannya ke kulkas agar cepat dingin. Lalu dia duduk di kursi meja makan untuk menunggu.
Sangking kantuknya beberapa kali matanya terpejam dengan tak sengaja. Dan di kantuknya yang terakhir dia terjingkat dan tersadar.
Mendongakkan kepalanya kembali melihat jam di dinding. "Sudah cukup kali ya" gumamnya setelah dirasa cukup dingin puding itu untuk di sajikan.
Kembali melangkah menaiki tangga dengan langkah malas. Sungguh kantuk di dirinya sangat menyiksanya dan ingin lekas di turuti.
Ceklek....
Mulai membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Langkah kakinya semakin maju mendekati Liam yang masih setia duduk di atas ranjangnya.
"Sudah siap pak. Silahkan di makan" ucap Lesya.
"Kamu bikin di arab apa !!. Kenapa lama sekali. Saya sampai lapar menunggu" tutur ketus Liam.
"Arab, arab. Awakmu kuwi seng arab pati genah (arab, arab. Kamu itu yang sedikit gila)" batin Lesya.
"Bikin puding kan harus di masak dulu paaak. Saya nggak bisa sulap yang sekali baca mantra langsung jadi" jelas Lesya.
__ADS_1
"Ya sudah, terima kasih" kata Liam.
Tanpa menjawab Lesya membalikkan badan ingin menuju sofa tempatnya tadi.
"Hay tunggu" ucap Liam lagi-lagi menghentikan langkah Lesya.
Mendengar Liam kembali memanggilanya, Lesya memutar bola matanya jengah. "Appa lagi siiiiih" jawab Lesya dengan nada yang di tekan namun tetap lembut. Dia tetap berusaha menahan emosinya.
"Tolong ambilkan Flashdisk saya di laci situ" perintah Liam dengan menggerakkan dagunya. Mengasih arahan untuk Lesya.
"Astaghfirullah, sabar Lesya,,, sabar" gumamnya lirih.
Berjalan mendekati jejeran meja laci yang ada di kamar itu. Di bukanya satu persatu. Saat melihat beberapa flashdisk berjajar di laci itu, Lesya sedikit bingung harus mengambil yang mana. Tanpa pikir panjang, dia langsung meraup beberapa flashdisk itu membawa semuanya di genggaman kedua tangannya.
"Ini" ucap Lesya dengan menyodorkan kedua tangannya.
Liam mengerutkan keningnya saat melihat flashdisk yang Lesya bawa. "Kenapa kau bawa semuanya !!. Kan bisa ambil satu saja" kata Liam.
"Saya nggak tau anda butuh yang mana. Jadi saya bawa saja semuanya sekalian" jelas Lesya.
Liam mengambil satu kepingan flashdisk itu. "Saya ambil ini saja, kau kembalikan lagi itu semua".
Lesya mulai membalikkan badannya. Namun terhenti saat tangannya ditarik oleh Liam. Seketika Lesya mengerutkan alisnya dan menatap Liam.
"Apa kau kesal padaku ?" tanya Liam.
"Pakek nanyak lagi. Ya kesel banget lah dasar arogan" batin Lesya. Dia masih terdiam tak menjawab yang ditanyakan Liam.
"Oow... jadi kau beneran kesal padaku !!!" ucap Liam.
"O... ooo... tentu saja tidak, hehe. Kenapa aku harus kesal". Lesya tergagap menjawabnya sambil berusaha tersenyum namun sangat kaku.
"Kau ingat aku siapa ?. Aku bosmu dan juga suamimu. Kau tau kan tugas seorang istri melayani suaminya. Jadi sebaiknya turuti permintaan dan kata-kata suamimu. Kau mengerti !!" kata Liam dengan halus serta senyum licik yang terlihat dibibirnya.
"Em" singkat Lesya. "Bisa lepas sekarang ?" pinta Lesya.
\_Jangan merasa kena prank gara-gara judul bab nya yah gaes 🤭
\_Bersambung dulu ya... tungguin Bab selanjutnya.
\_Jangan lupa tekan like, vote, hadiah serta favoritnya.
__ADS_1
Terima kasih. 🙏