Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 57. PERTENGKARAN SAHABAT


__ADS_3

"Aku merasa dipermalukan dalam diam, karena kau tak mau bicara. Dan hanya aku yang tak tau semuanya. Tak tau apa yang kau rasa. Ternyata aku bahagia sendirian di atas penderitaan orang lain". Suara Denis masih mengeras tanpa perduli lagi dengan siapapun yang bisa mendengarnya.


"Bahkan kau sekarang menyembunyikan statusmu padanya juga. Kenapa ??... Kenapa kau sembunyikan ??... Apa kau masih berharap juga dengannya ?, padahal kau sudah menikah. Atau jangan-jangan kau sengaja menyembunyikan pernikahanmu dengan maksut yang lain ?, atau jangan-jangan kau merahasiakan pernikahanmu karena itu pernikahan pura-pura mu ?". Sambung Denis.


"Cukup nis, cukup. Kenapa kau mempeerdebatkan masalah seperti ini. Aku memang mengalah padamu tentang perasaanku karena aku menyayangimu. Aku akan lebih bahagia melihat orang yang aku sayangi bahagia. Dan aku berharap akan kebahagiaanmu" tukas Lesya.


"Tapi aku nggak suka karena kau merahasiakan hal itu. Setidaknya fikirkan perasaanku sebagai sahabat mu. Sahabat mana yang ingin melihat temannya menderita hah ?... Bicaralah sebelum bertindak Les... Bicarakan, jangan hanya di pendam. Aku bukan cenayang yang bisa tau semua hal yang ada di fikaranmu". Tegas Denis.


"Sudah cukup. Aku sudah pusing dengan semua masalah yang aku hadapi saat ini. Jadi kita tidak usah memperpanjang perdebatan ini" tukas Lesya.


"Semua orang punya masalah ya. Dan bukan cuma masalahmu saja yang berat. Mungkin beban permasalahan hidupku lebih berat dari permasalahanmu" tukas Denis.


"Kok malah adu berat permasalahan hidup siiih.... Nggak bakalan kelar kalau ngebandingin permasalahan beban hidup nis. Astaghfirullah...


"Ya elo duluan yang mulai. Denger ya Les, semua orang punya masalahnya masing-masing. Dan aku tahu kalau nggak semua masalah bisa di share. Tapi seenggaknya masalah elo yang menyangkut perasaan gue juga di dalamnya, ceritakan. Biar kita bisa mencari jalan keluar dan solusinya sama-sama. Jangan khawatir aku marah saat kau memberitahu ku sesuatu yang menyangkut kita berdua. Aku lebih kecewa dan marah kalau hanya diam memendamnya sendiri dan aku harus mendengar kenyataannya dari mulut orang lain" tutur Denis panjang lebar l. Emosinya tak bisa di tahan lagi.


"Iya... Maafkan aku... Udah ya... Jangan maraah..." Kata Lesya.


"Aku masih kecewa sama kamu" ucap Denis dengan ekpresi marah yang masih belum mereda. Lalu dia melangkah pergi meninggalkan Lesya sendirian.


"Ya Allah... Kenapa kau marah banget sih nis. Masak persahabatan kita bisa hancur hanya sebatas permasalahan lelaki siiih. Astaghfirullah". Setetes kristal bening jatuh dari matanya. Dia menahan tangisnya saat berdebat dengan temannya.


"Apa perbuatanku salah ?... Apa selama ini aku memang bukan teman yang baik untuk dia ??... Maafkan aku nis. Maaf, ku kira selama ini aku yang paling mengerti tentangmu. Tapi ternyata aku salah, ternyata aku yang paling tak mengerti dan bahkan paling tak tau apapun tentang dirimu" Lesya terus bermonolog dalam dirinya. Hanyut dalam fikiran sendunya. Dengan terus menyalahkan dirinya sendiri.


Lesya teringat kalau dia sudah meninggalkan David terlalu lama. Lalu dia segera mengusap air matanya.


"Pak David. Maaf ya sudah menunggu lama" kata Lesya.


"Oh,,, nggak masalah" kata David.


David sedikit mengerutkan keningnya saat melihat wajah Lesya. Matanya terlihat sembab dan sedikit memerah.


"Bu Lesya nggak pa pa ?" Tanya David.


"Hah" kata Lesya sedikit kaget dengan pertanyaan David.


"Oh, maaf sedikit loading, hehe... Aku nggak pa pa kok pak" sambung Lesya berusaha kelihatan baik-baik saja.

__ADS_1


"Ya sudah, gimana kalau kita balik sekarang. Sepertinya jam makan siang sudah mau selesai" kata David sambil melihat jam tangan yang dia pakai di pergelangan tangannya.


"Baik,,, ayo balik sekarang" ucap Lesya.


Sebelum keluar dari cafe itu, Lesya menoleh lagi ke arah kasir. Ternyata temannya tak terlihat di sana. Hatinya berat sekali meninggalkan cafe itu. Dia ingin sekali segera menenangkan Denis dan memohon maaf padanya.


"Sepertinya memang dia butuh waktu". Fikir Lesya. Lalu dia melanjutkan jalannya dan menyusul David, mengikutinya dari belakang.


*


"Aku mau kau mencari tahu tentang guru laki-laki yang mengajar di sekolah kami" perintah Liam pada Eric tiba-tiba.


Eric sedikit bingung dengan perintah bosnya. Kali ini lagi-lagi bukan dari kalangan pebisnis yang dharus dia gali informasinya. Tapi seorang guru lagi. "Kenapa lagi ?, Dulu suruh nyari tahu tentang nona Lesya. Ternyata mau dinikahin. Sekarang ganti guru laki-laki itu. Apa dia mau dinikahin juga sama tuan Liam ?. Lama-lama nggak penting banget dah yang dicari tahu" gumam Eric dalam batin.


"Eric,,, kau beneran tuli kayaknya". Mata Liam meliriknya dengan tajam. Dengan wajah yang terlihat kesal.


"Oh,,, iya iya bos. Saya dengar kok. Baik akan saya cari informasinya" kata Eric dengan sedikit tergagap.


"Sekarang pergilah ke ruanganmu" titah Liam.


Liam berusaha fokus menatap layar laptop yang ada di depannya. Bayangan sosok Lesya terus terbayang di fikirannya.


"aaarrghh... Sialan..." Liam menutup kasar layar laptopnya. "Benar-benar wanita itu sungguh menyusahkan, dan menyebalkan. Shiiit !!,,, kenapa jadi sangat merepotkan seperti ini ?" gumam kesal Liam di ruangan kerjanya.


"Aku akan memberimu perhitungan hari ini, karena kau melanggar aturan yang sudah di sepakati".


Tok tok tok...


seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Ada apa lagi sih riiic. Sudah ku bilang pergi sana" tukas kesal Liam tanpa melihat siapa yang datang.


"Maaf tuan, saya bukan pak Eric". Ternyata si sekretaris Liam yang datang.


Liam lalu membalikkan badannya dan membenarkan duduknya di meja kerjanya.


"Oh,,, ku kira Eric" kata Liam.

__ADS_1


"Ini berkas laporan kerja sama dari perusahaan pak Martin tuan" kata Sinta si sekretaris.


"Em, taruh saja disitu" kata Liam


Sinta berjalan menuju meja kerja Liam dan akan menaruh laporan itu. Namun,


Bruuukk...


Semua laporan itu terjatuh dilantai tepat di bawah kursi Liam.


"Aduh, maaf pak. Biar saya bereskan" kata Sinta.


Dia berjongkok memungut semua berkas dan kertas yang berisi laporan yang sengaja dia jatuhkan sehingga berserakan di lantai. Rok yang dipakai Sinta sangat minim. Sehingga saat berjongkok seperti itu terlihat paha putih mulusnya. Serta kancing kemeja yang sedikit terbuka di bagian dua gundukan si pemilik. Otomatis saat dia berjongkok dan sedikit membungkukkan badannya memperlihatkan sedikit isi bagaian dalamnya.


"haha... sexy kan gue pak Liam... Silahkan bapak lihat saja. Saya kasih gratis buat bapak" batin kotor Sinta.


Liam yang baru melihat pemandangan seperti itu jadi salah tingkah sendiri. Dia yang awalnya melihat kebawah memperhatikan Sinta merapikan semua kertas-kertas itu langsung memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.


"Keluarlah, biar saya bereskan sendiri" ucap Liam tanpa menatap Sinta dengan wajah datarnya.


"Tapi pak__" Ucapan Sinta terpotong.


"Keluar saja kubilang" ucap tegas Liam.


Lalu Sinta berdiri dan keluar dari ruangan Liam.


"Ah,,, kenapa siiih... masak iya dia tak tergoda sedikit pun dengan diriku" gumam kesal Sinta saat sudah duduk di meja kerjanya yang ada di di luar ruangan Liam.




\_Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman.



Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2