
Sepi...
Itu lah keadaan yang sekarang terjadi di kediaman Rayandra. Semua keluarga, tamu termasuk keluarga Lesya kini sudah undur diri.
"Mah, Lesya sudah nggak tahan pakai gaunnya. Saya pengen bersihin diri Lesya juga" ucap Lesya ketika kini tinggal mereka berdua yang berada di aula rumah itu.
Liam !!.... Entah dia kemana. Setelah acara selesai, dia tiba-tiba juga tak terlihat.
"Iya nak, bergantilah. Kamu tau kan kamar Liam di mana !!" ucap mama Lia.
Lesya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Loh, memang kemarin pas kalian keliling rumah nggak di tunjukin sama Liam ?" Tanya mama Lia.
"Enggak mah. Mungkin pak Liam lupa" jawab Lesya dengan sopan.
"Dasar Liam" mama Lia kesal. "Eh, kenapa kamu manggilnya masih pak Liam sih... Panggil Liam atau mas atau yang lain nak. Kalian sekarang sudah suami istri" kata mama Lia.
"Saya belum terbiasa mah" lalu dirinya tersenyum kaku.
"Terus sekarang Liam nya kemana ya sya, kok mama dari tadi belum lihat lagi". Mama Lia clingukkan mencari keberadaan putranya.
"Entah mah. Lesya juga tak melihatnya dari tadi" ucap Lesya.
"Anak itu memang keterlaluan. Nggak memperhatikan istrinya, malah tiba-tiba ngilang" mama Lia ngedumel.
"Sabar mah" ucap Lesya berusaha menenangkan mertuanya dengan mengusap kedua pundak mama Lia dan merangkulnya.
"Ayo nak, biar mama yang antar kamu ke kamar" ajak mama Lia.
Mereka pun berjalan menuju ke kamar Liam.
"Ini kamar kalian. Dan barang-barang kamu sudah di masukkan sama para asisten rumah dia sini nak. Sekarang masuklah" jelas mama Lia.
"Terima kasih ya mah" ucap Lesya.
"Iya sayang. Kamu jangan sungkan di sini, kalau ada yang kamu perlu atau kamu nggak tau, bisa tanya ke mama ya" tutur mama Lia.
"Baiklah. Mama istirahatlah. Mama pasti sangat capek hari ini".
"Iya nak, mama sangat capek. Ya udah mama tinggal dulu. Masuk saja ya,,, ini sekarang juga kamar kamu".
"Emm" ucap Lesya sambil mengangguk dengan seulas senyum.
Mama Lia pun akhirnya meninggalkan Lesya yang masih mematung di depan pintu kamar Liam.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim" gumam Lesya dan menarik nafas mengatur ke gugupannya. Hari ini dia resmi menjadi istri orang. Meski status itu hanya sebuah formalitas perjanjian saja.
Tok tok tok...
Dia berusaha mengetuk pintu kamar Liam dulu sebelum masuk. Takut kalau saja Liam ada didalam kamarnya dan kaget ketika Lesya langsung masuk.
Setelah mengetuk pintu tiga kali, tetap tak ada sahutan dari dalam kamar. "Mungkin memang nggak ada orang" fikirnya. Akhirnya dia memutuskan masuk saja ke kamar itu dan menutupnya kembali setelah dia memasuki kamar.
Lesya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar itu. Berwarna abu-abu dengan ornamen yang minimalis, terlihat mewah dan maskulin. Desain kamar itu cocok sekali dengan si penghuninya yang terkesan dingin.
Lesya berjalan perlahan mendekati ranjang besar yang berukuran king size itu. Lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Wauw, empuk banget" gumam Lesya saat merasakan empuknya kasur ranjang milik Liam.
"Mandi dulu lah. Tubuhku berasa lengket banget". Dia mulai melangkah ke arah kamar mandi.
Ceklek...
Lesya terkejut saat terlihat seseorang keluar dari kamar mandi. Dia seketika tertegun. Ketika melihat sosok pria yang keluar kamar mandi dengan menggosok rambutnya yang basah. Perawakannya tinggi gagah dengan memakai handuk yang melilit di pinggangnya yang hanya menutupi aset pribadi milik sang pria. Sehingga menampakkan seluruh bagian tubuh bidangnya yang berotot dan terlihat sangat kekar.
Lesya tak pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Dia menelah ludahnya dengan susah payah. "Oh my god, apa ini !!!... Entah ini berkah atau musibah. Mataku,,, Maafkan aku. Tapi pemandangan seperti ini sayang untuk dilewatkan". Lesya berbicara dalam hatinya.
"Bisa minggir dulu nggak !!" Liam bersuara, sampai akhirnya Lesya tersadar.
"Astaghfirullah hal adzim" gumam pelan Lesya. Seketika dia menundukkan pandangannya. Lalu menggeserkan tubuhnya.
"Kenapa dia nggak makai baju di kamar mandi aja sih. Apakah aku harus terbiasa melihat hal itu setiap hari !!!. Oh my god, hay jantungku amankan lah dirimu pliiiss..." Lesya bergumam sendirian di dalam kamar mandi. (Lama-lama kayak orang gila Lesya. Tadi ngomong sama matanya, sekarang ngomong sama jantungnya. Hahaha).
*
Hampir setengah jam Lesya berada di kamar mandi. Dia kini sudah memakai piyamanya. Lalu berdiri di depan cermin wastafel yang ada di kamar mandi itu. mengelap rambutnya yang basah lalu meraih hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Yang ternyata tersedia juga di situ.
setelah itu dia keluar dari kamar mandi. Liam sekilas melirik Lesya yang keluar dari kamar mandi. Lalu fokus kembali menatap layar laptopnya.
Lesya menatap seseorang yang kini berada di atas tempat tidur, bersandar di headboard dengan seriusnya menatap layar laptop yang ada di depannya. "Aduh, aku harus gimana nih !!".
Padahal tadi dia berfikir setelah mandi ingin langsung tidur. Karena tubuhnya seharian ini beneran capek dan menginginkan istirahat. Tapi saat ini dia bingung dan canggung harus berbuat apa.
"Ahaa... tidur di sofa aja. Itu ide yang bagus". Batinnya. Akhirnya dia berjalan menuju sofa yang ada di kamar itu.
"Hai kau" panggil Liam.
Sontak Lesya langsung terduduk kembali dari posisi rebahan. "Apa siiih, ngagettin aja deh" kesal Lesya dalam batin.
"Mau apa kamu ?" Tanya Liam.
__ADS_1
"Tidur" tukas Lesya.
"Siapa yang menyuruhmu tidur" kata Liam.
"Ya aku sendiri lah". ketus Lesya
"Buatkan aku kopi" ucap Liam.
"Heemm" ucap Lesya singkat dan mulai keluar kamar menuju dapur untuk membuatkannya kopi.
"Dimana ya bubuk kopinya" Lesya berusaha mencari bubuk kopi setelah menemukan gula di lemari gantung dapur itu.
"Aduuuh... kok gak ketemu-ketemu sih" gumam Lesya sudah mulai kesal. mencari bubuk kopi dari beberapa menit yang lalu tak menemukannya.
"Ngapain non ?".
"Astaghfirullah hal adzim" Lesya terkejut ketika mbok ijah tiba-tiba bersuara di belakangnya.
"Saya mbok ijah non. ART di rumah ini" kata mbok ijah.
"Saya Lesya mbok" sambil menjulurkan tangannya.
"Iya non" mbok ijah membalas jabatan tangan Lesya.
"Non cari apa ?" tanya mbok ijah kembali.
"Nyari bubuk kopi mbok. Mau bikinin pak Liam kopi" kata Lesya.
"Saya ambilkan non" Mbok ijah meraih bubuk kopi yang ternyata ada di laci paling pojok.
"Ini non. Kalau nyari lagi nanti langsung ambil saja di situ ya non" ucap mbok ijah.
"Iya mbok. Terima kasih banyak" ucap Lesya dengan senyum manisnya.
"MasyaAllah. Non Lesya memang sangat cantik" ceplos mbok ijah.
"Mbok bisa aja. Perempuan semuanya cantik mbok. Kalau Laki-laki pasti ganteng. Tampang itu nomer sekian mbok. Yang utama adalah adab dan akhlak nya" tutur Lesya dengan nada lembut dan senyumnya yang selalu terpancar.
\_Tekan like, vote, hadiah dan favoritnya ya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih. 🙏