Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 28. PERASAAN DAVID


__ADS_3

"Ooow... Jadi kau sekarang punya seseorang. Dan kau beraninya menolakku hanya demi lelaki itu". Liam membatin melihat sosok yang kini terlihat jelas dimatanya.


Sosok Lesya dan David yang duduk dipojokan sambil mengobrol dan sesekali terlihat sedikit tertawa.


*


"Bu Lesya. Bolehkah kalau sedang diluar sekolah seperti ini kita bicara santai saja ?" David mulai mencoba akrab dengan Lesya.


"Eemm... Saya nggak terbiasa pak. Dan rasanya juga canggung bagiku" sambil tersenyum.


"Ya sudah. Senyamannya bu Lesya saja". David tak pernah bisa menolak kata-kata Lesya. Dia hanya ingin Lesya nyaman berada di dekatanya dengan caranya sendiri.


"Tapi, bu Lesya jangan sungkan-sungkan kalau minta bantuan saya. Bahkan saya siap kalau bisa menemani bu Lesya 24 jam".


"Haha... Pak David udah kayak satpam jaga kalau kayak gitu mah".


"Nggak apa-apa. Aku bahkan siap jadi satpamnya bu Lesya selamanya".


"Hahaha" Lesya sungguh tidak faham dengan yang di ucapkan David. Baginya saat ini ucapan David hanya gurauan semata. Makanya dia hanya terus tertawa mendengar ucapan David.


"Bu Lesya, aku serius" terlihat raut wajah David mendadak serius.


Lesya yang bingung dengan maksud David hanya mengerutkan keningnya.


"Aku ingin lebih dekat sama bu Lesya". David berusaha mengutarakan isi hatinya.


"Aduuuh... Aku harus gimana nih. Aku bingung bangeeett...".


"Bu Lesya, nggak usah jawab sekarang". Sambil tersenyum untuk menetralkan obrolan itu.


"Kita sudah selesai kan ?. Gimana kalau kita pulang sekarang pak ?. Ibu saya nanti menunggu". Jujur dalam hati Lesya sangat senang. Karena sebenarnya dia pun menaruh hati pada David. Tapi entah kenapa fikirannya jadi limbung saat orang itu mengutarakan maksut hatinya langsung.


"Baiklah". Tanpa basa-basi David lalu berdiri. Merasa sedikit kecawa karena tak dapat jawaban dari Lesya. Namun terasa lega juga. Setidaknya Lesya sudah mengerti perasaannya.


"Saya pamit sahabat saya sebentar. Mari saya kenalkan sama sahabat saya pak" ajak Lesya.


"Boleh" David menerima ajakan Lesya dan mengikutinya berjalan menuju meja kasir.


"sshuuutt shuuuttt" Lesya menjahili sahabatnya yang sedang duduk dimeja kasir terlihat sibuk menghitung persediaan bahan-bahan.


"apaaaa" jawab Denis sambil terus memainkan kalkulatornya.


"Emang ini nggak usah bayar ya, gratis ya". Goda Lesya.


"Nanti kalau aku nikahan bakal aku kasih gratis buat kamu" ketus Denis.

__ADS_1


"Lama dong, haha... Eh, iya kenalkan ini pak David. Guru juga di SMA Unggul" Lesya mulai memperkenalkan David pada Denis.


Denis yang mendengar ucapan Lesya langsung berdiri dan menampakkan senyum yang dibuat semanis mungkin.


"Gak usah endel. Mau wae sok-sok'an jutek, (nggak usah ganjen, tadi aja sok-sok'an jutek). bisik Lesya pada Sahabatnya itu.


"Benne, aku ki yo kepingin onok gandengane rek. Ben ra kalah karo truk gandeng, (biarin, aku ini juga kepengen ada gandengannya. Biar nggak kalah sama truk gandeng). ucap Denis yang juga berbisik.


"ppffffttt"... Lesya menahan tawa.


"Kenalin pak, ini sahabat saya satu-satunya yang pernah saya ceritakan, Denis" sambung Lesya.


David lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Denis.


"Salam kenal pak David".


"Iya" David sedikit tersenyum.


Melihat sahabatnya yang tak melepaskan salamannya, Lesya menggelengkan kepalanya sambil membatin "punya temen satu minim ahklak banget dah". Menggoyang bahu Denis. Namun tak ada respon dari temannya itu. Lalu Lesya menarik lengan Denis. "Besok lagi ya salamannya embak Denis cantik. Nanti tangan pak David pegel". Lesya sedikit gemas dengan ulah sahabatnya itu.


Denis masih terus tersenyum dan menatap David.


"Aku pulang dulu ya" tukas Lesya.


"huuuufftt" Lesya hanya buang nafas kasar.


"Kami permisi" David berpamitan.


"Iya. Kapan-kapan kalau ada waktu luang atau lagi lewat dekat sini pak David bisa mampir saja kesini" ucap Denis dengan maksut terselubung. David hanya tersenyum menanggapi permintaan Denis


"Modus" gumam Lesya. "aduuuhh"... Lesya mengaduh karena dicubit pinggangnya oleh Denis.


"Sudah, pergi sana" usir Denis pada temannya.


"Bye..." berlalu pergi dan meninggalkan sahabatnya itu.


Namun baru beberapa langkah saat akan berjalan menuju keluar, Lesya dan David melihat sang bos lebih tepatnya Liam yang juga berada di cafe itu. Lesya mulai sedikit panik. Bukan panik karena takut, tapi lebih tepatnya karena malas berurusan lagi dengan Direktur itu. Lantas dia yang awalnya berjalan bersebelahan dengan David, kini langkahnya sedikit diperlambat supaya David berjalan duluan didepannya. Dia berniat bersembunyi dibelakang David.


Sialnya David malah menghentikan langkahnya dan menyapa direktur arogan itu.


"Selamat siang pak Liam" sapa David yang sudah berdiri disebelah meja mereka. Sedangkan Lesya hanya menampakkan sedikit tubuhnya serta mengaggukkan kepala menyapa Liam.


Liam yang melihat tingkah Lesya sedikit mengerutkan kening. Dan menatap tajam.


"Iya selamat siang" jawab Liam singkat.

__ADS_1


Roy yang melihat ada kecanggungan disitu langsung berdiri dan menjabat tangan David mencairkan situasi.


"Perkenalkan saya Roy sepupu tuan Liam" ucapnya.


"Salam kenal, saya David. Saya mengajar di sekolah SMA unggul" balas David.


"Waah, kebetulan sekali kita bertemu disini. Ouch ya, kakak cantik dibilakang siapa ya ?" Sindir Roy.


"Sa saya Lesya" sedikit tergagap karena sangking gugupnya.


"Salam kenal bu Lesya" ucap Roy.


Lalu Lesya menundukkan kepalanya membalas sapaan Roy.


"Apa kalian mau bergabung sama kita ?" tawar Roy.


"e,,, tidak perlu pak Roy. Kami mau pulang, kebetulan sebelum perjalanan pulang kami memutuskan mampir ketempat ini karena Saran dari bu Lesya" ucap David.


"Bu Lesya sering kesini ?" Tanya Roy.


"ah, iya pak. Kebetulan pemilik toko roti sekaligus cafe ini sahabat saya" ucap Lesya.


"Waaah... hebat sekali teman anda. saya akan sering kesini karena tempatnya nyaman serta roti dan kuenya juga enak" puji David.


"Feed back yang sangat baik pak. Nanti akan saya sampaikan kepada teman saya kalau bapak menyukai kue dan roti buatannya" ucap Lesya lembut sembari melempar senyumnya.


"Kami pamit duluan pak. Mari pak Liam, pak Erik dan pak Roy. selamat siang" kata David.


"Iya, selamat siang" jawab Liam serempak dengan Roy dan Eric.


Lesya membungkuk hormat dan tersenyum kepada Liam dan yang lainnya. Namun Liam hanya menatapnya tajam. Entah rasa apa yang ada dibenak Liam, tapi dia merasa tak enak melihat kedekatan Lesya dan David.


Setelah David dan Lesya berlalu, Roy yang melihat sepupunya itu tetap termangu menatap kepergian meraka terus berdehem dan berkata "ehheem,,, lihatnya nggak usah gitu juga kalliii" sambil tersenyum miring menegejek sepupunya.




\_Gaess... plisss tinggalkan Like dan givenya serta komentar untukku ya...


Karena dukungan kalian sangat membantu karya ini.



Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2