Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 20. PIKIRAN SEORANG MAMA


__ADS_3

Di ruang keluarga rumah Rayandra terlihat papa dan mama Liam sedang asyik menonton acara tv. Liam menuruni tangga mendekati orang tuanya. Meskipun tidak memperhatikan acara yang ditonton orang tuanya, dia hanya ingin berkumpul dengan keluarga.


Dia memperhatikan kedua orang tuanya yang sesekali tertawa melihat acara di televisi. Liam yang memainkan ponselnya sesekali juga terkejut mendengar suara tawa itu, lantas dia hanya menggelengkan kepala melihat keseruan kedua orang tuanya itu.


"Apa sih, ketawanya agak di rem pah mah" Gumam Liam.


"Kita suka lupa ngerem ketawa kalo lihat acara ini. Terlihat sangat konyol" sahut tuan Tama.


"Sudah tau konyol ngapain di tonton. Kalau begitu apa bedanya sama yang nonton" gumam Liam kali ini lirih.


"Kau bilang apa Liam ?" Tanya mama Lia dengan mengrenyitkan kedua alisnya.


"Tidak ada" ucapnya.


"Gimana ?, Kapan calonmu kau ajak kesini". Tiba-tiba mama Lia mengingat janji Liam.


"Ck, (berdecak kesal). Kenapa nggak sabaran sekali" Ketus Liam.


"Sepertinya kau membohongi mama. Kau nggak punya pacar yang mau kenalin ke mama kan ?" Tanya mama Lia menyelidik.


"Mah, punya nggak punya itu urusan aku. Mama tunggu saja".


"Ingat satu minggu lo Liam. Udah lewat dua hari berarti tinggal lima hari" ancam mama Lia.


Liam kesal mendengar clotehan mamanya itu. Lalu dia pergi ke kamar meninggalkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Mah, jangan di paksa terus lah. Kasian Liam mah. Dia itu sudah cukup banyak pikiran dengan mengurus perusahaan dan yayasan. Jadi jangan ditambah beban". Tutur tuan Tama.


"Pah, aku seperti ini juga demi putra kita. Mama itu takut kalo Liam nggak suka perempuan pah" mama Lia mulai sendu jika mengingat ke khawatirannya itu.


"Mah, jangan mikir yang tidak-tidak. Itu nggak mungkin lah ma. Anak kita itu normal" sangkal tuan Tama.


"Ah, papa mana ngerti pikiran seorang ibu. Sudah aku mau tidur". Merasa kesal dengan suaminya, mama Lia beranjak pergi dan memilih untuk tidur.


*


*


*


Sementara Liam yang berada di kamarnya mulai merasa cemas. Bagaimana dia bisa menemukan kekasih dalam waktu lima hari. Dia tak habis fikir, kenapa mamanya selalu mempermasalahkan soal jodohnya. Padahal Liam benar-benar belum memikirkan masa depannya untuk pernikahan.


"Tapi siapa ??... Besok saja difikirkan lagi. Sekarang tidur sajalah".


Meraih remot kontrol untuk mematikan lampu dan mengatur suhu AC. Hanya tersisa lampu duduk yang berada di nakas sebelah ranjangnya yang tetap menyala.


*


*


*

__ADS_1


Ke esokan harinya.


Meskipun ini hari libur, tapi Lesya tak pernah bermalas-malasan.


"Kamu sudah rapi apa mau memeriksakan kakimu sekarang Les ?" tanya ibu Marini.


"iya bu. Ibu kok terlihat pucat (menatap ibunya dan mulai sedikit khawatir). Ibu nggak apa-apa kan ?. Apa obat ibu sudah habis ?".


"Enggak kok. Ibu nggak apa-apa. Obat ibu juga masih cukup untuk beberapa hari ke depan".


"Beneran nggak apa-apa bu ?. Kalau ibu merasa nggak enak badan biar aku periksa besok saja. Lebih baik aku menemani ibu di rumah".


"Tidak Lesya, kamu harus memeriksakan kakimu sebelum itu menjadi fatal". jawab bu Marini meyakinkan Lesya.


"Ya sudah. Nanti kalu ibu kenapa-napa atau butuh sesuatu, langsung telefon aku ya bu". Lalu memeluk ibunya dan berpamitan.


"Hati-hati ya" seraya melambaikan tangan.


Lesya pun membalas dengan melambaikan tangannya.




\_Besok lagi yah. 🤗

__ADS_1



Terima kasih. 🙏


__ADS_2