
Sejuk embun pagi bercampur hembusan angin menyapa pagi dengan ceria. Matahari pun nampak terlihat sedang tersenyum simpul melihat keceriaan di pagi hari.
Begitupun dengan Lesya. Ia terlihat sangat ceria dan beda dari biasanya. Rutinitas pagi yang dilakukan layaknya suami-istri membuatnya bahagia. Membuat energinya semakin bersemangat.
Sikap manis Liam akhir-akhir ini membuatnya terbuai akan indahnya dunia percintaan. Sungguh baru kali ini dia merasakan hal seperti itu.
Ia kini sudah sampai di depan gedung sekolah SMA Guatama. Melenggangkan kakinya dengan santai sambil menikmati udara pagi yang menyejukkan.
Tentu saja dia sampai di sekolah SMA itu dengan diantar oleh Liam. Namun Liam masih sibuk memarkirkan mobilnya. Karena Lesya turun agak jauh dari depan sekolah itu supaya tidak di lihat oleh orang lain.
Sebelum turun, perdebatan kecil dari keduanya pun sudah pasti terjadi. Pasalnya Liam menentang dan tak mau menurunkan Lesya sedikit jauh dari SMA itu. Liam bersikeras ingin menurunkan Lesya di tempat parkiran yang di khususkan untuk dirinya.
Namun karena Lesya memohon dengan sedikit memelas, akhirnya di turuti juga oleh Liam.
"Assalamu'alaikum..." Sapa seseorang dari belakang Lesya yang sedang berjalan menuju gedung Sekolah itu.
Lesya pun menoleh ke belakang memastikan siapa yng menyapa dirinya.
"Waalaikumsalam..." Jawab Lesya sambil menampilkan seulas senyumnya.
"Kelihatannya hari ini beda sekali ya ?". Iya David adalah sosok yang menyapanya tadi.
Lesya sedikit menelisik tubuhnya sendiri. Apa yang dimaksut beda. Kemeja yang sama, rapi pula. Celana bahan yang seperti biasa. Lalu apa yang beda ?, Fikir Lesya.
"Nggak ada kok pak. Memang apanya yang beda ?" Tanya Lesya.
"Hehe,,, aura anda yang terlihat beda. Anda terlihat senang hari ini" kata David.
"Masak sih ???... Apa sebegitu kentaranya. Prasaan sama aja !!" Monolog Lesya dalam hatinya.
"Ah,,, sepertinya itu cuma perasaan bapak saja. Saya setiap hari juga begini-begini saja kok pak" kata Lesya.
"Sudah sarapan belum ?" Tanga David lagi.
"Sudah kok" kata Lesya.
*
__ADS_1
Dari jauh seseorang mengamati gerak mereka berdua. Ia keluar dari tempat parkiran pribadinya. Matanya memicing terlihat sama sekali tak menyukai kedekatan mereka. Rahangnya mulai mengeras, dengan wajah yang terlihat garang. Seperti singa yang siap mengamuk dan mencabik lawan.
Liam mulai melangkahkan kakinya lebar kearah kedua orang itu. Berjalan terburu-buru kearah mereka.
Sreeekk... ( Anggap saja suara tangan Lesya yang ditarik oleh Liam ).
"Auuh..." Lesya sedikit mengaduh karena ditarik paksa oleh Liam.
"Kenapa sih ?" tanya Lesya sambil wajahnya menengadah menatap Liam.
"Oh my god,,, auranya sama sekali tak ramah lingkungan. sepertinya ini sinyal kalau dia bisa ngamuk kapan saja. Siap-siap Lesya... Meskipun elu nggak tahu alasannya kenapa dia ngamuk. Yang pasti waspada aja dulu". lagi-lagi Lesya bergumam dengan dirinya sendiri dalam hatinya.
"Pak Liam... Apa-apaan ini pak" kata David sambil menarik tangan Liam yang masih mencekal tangan Lesya.
Mata Liam menatap tangan David yang menarik tangannya. Lalu beralih tatap ke David. Terlihat sedikit aura marah yang nampak dari sorot mata dan raut wajahnya.
"Bapak nggak perlu berlaku kasar seperti ini ke bu Lesya pak" kata David.
"Bukan urusanmu" tukas Liam.
Ujung sudut bibirnya ia tarik tersenyum remeh. "Aku berhak atas dia. Jadi anda jangan ikut campur" kata Liam.
David semakin geram mendengar ucapan Liam. Lagi-lagi ia harus menahan emosinya. "Maaf pak, bu Lesya adalah wanita yang saya sukai. Saya cinta sama beliau. Jadi saya lebih berhak atas beliau". Lalu ia meraih tangan Lesya dari genggaman Liam.
"Heh" lagi-lagi senyum remeh nampak dari bibir Liam. Lalu ia kembali menarik tangan Lesya. "Anda seorang yang pintar dan terpelajar. Apa pantas anda berperilaku seperti ini, menyukai wanita yang sudah memiliki suami ?" Kata Liam.
Lesya terperanjat saat Liam mengatakan hal itu. Ia menatap Liam dengan penuh rasa tak percaya.
"Apa-apaan dia. Kenapa bilang seperti itu ?" Gumam kesal Lesya dalam hatinya.
"Hah" David tersenyum kecut. "Anda tak bisa mengelabuhi saya pak. Anda jangan mengarang fakta. Anda bisa bilang kalau bu Lesya sudah menikah untuk mengendurkan niat saya kan ?, Karena anda juga menyukai bu Lesya. Tapi maaf pak. Saya tidak sebodoh itu untuk anda bohongi" ucap David panjang lebar.
"Anda fikir saya bohong ?,,, Maaf, saya bukan tipe orang yang suka berbohong dan membual. Memang benar dengan apa yang saya katakan. Kalau bu Lesya sudah menikah. Dan apakah anda tahu siapa pria yang sudah menikahinya ?" Kata Liam.
Sementara David menyipitkan matanya lalu menaikkan sebelah alisnya. Penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Liam.
Dan Lesya kali ini tak bisa berkutik. Dia hanya terdiam tanpa bisa berkata seucappun. Seperti orang linglung. Bingung harus bagaimana. Ia takut salah bicara.
__ADS_1
Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya mengisyarakan untuk menghentikan perkataan Liam. Namun Liam sepertinya benar-benar mengabaikannya.
"Astaghfirullah... pengen aku sumpel beneran tuh mulut. Kenapa kayak becak motor yang susah direm" batin Lesya menggerutu Liam.
"Aku adalah suaminya". Ucapan Liam sukses membuat Lesya menganga tak percaya. Kenapa dia bisa lancang mengatakan hal itu. Memang sudah lumrahnya dia mengatakan hal itu. Namun itu berlaku bagi pernikahan yang normal dan tak bersyarat.
Lesya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Kedua matanya membulat.
"Jangan kaget. Dan mulai sekarang, saya harap anda jangan lagi-lagi mendekati istri saya" sambung Liam.
"Hahah" David tertawa kecut. "Saya nggak menyangka kalau anda juga suka bercanda. Tapi maaf, bercandaan anda tidak lucu" kata David. Matanya mulai memerah, bibirnya sedikit bergetar menahan gejolak emosinya.
"Terserah anda kalau anda tak percaya. Itu hak anda. yang penting saya sudah mengatakannya dengan jujur" kata Liam.
"Permisi" tukas Liam, ia beranjak pergi meninggalkan David sambil terus menggandeng tangan Lesya.
"Lepaskan cengkraman tangan bapak. Saya mau masuk ke ruangan saya pak" kata Lesya saat melewati ruangan guru.
"Diam" kata Liam dengan nada tegas.
Ia terus menarik Lesya dan melemparnya masuk ke ruangannya. Dengan gerakan cepat Liam langsung mengunci pintu ruangannya.
Lalu mulai berjalan perlahan mendekati Lesya. Lesya mulai melangkahkan kakinya mundur untuk menghindari Liam.
"Anda mau apa ?... Jangan mendekat" kata Lesya. Dengan raut wajah dan sorot mata yang mulai panik.
Nampaknya Liam tak menggubris himbauan dari Lesya, karena dia masih terus mendekat ke arah Lesya.
\_Lolosin cepet ya mimin baik. hehehe...
Terima kasih 🙏
__ADS_1