
"Bismillahirrahmanirrahim,,," ucap Lesya dalam batin sebelum masuk ruang Direktur milik Liam. "Huuuufffttt" lalu dia mengatur nafasnya agar tak gugup.
Tok tok tok...
"Permisi tuan" kata Eric.
"Ya, silahkan masuk" ucap Liam.
Liam yang sedang menunduk menatap layar tablet miliknya sekilas melirik Lesya yang juga ikut masuk. Bibirnya tersungging samar. Dalam benaknya dia merasa puas karena sudah merasa menang melawan ke angkuhan Lesya yang sempat menolak tawarannya.
"Eric, kau bisa keluar" ucap Liam yang masih fokus dengan layar tabletnya.
Eric yang mendengar perintah langsung menunduk hormat dan keluar dari ruang itu.
"Selamat pagi, silahkan duduk" sapa Liam namun dengan ekspresi dan suara datar.
"Iya, terima kasih" singkat Lesya.
"Langsung saja, di meja itu sudah ada surat perjanjian yang saya buat. Saya akan jelaskan. Pihak satu saya, dan anda pihak dua. Pasal satu, pihak satu yang memegang kuasa dan kendali atas pihak dua. Pasal dua, pihak dua harus menuruti semua yang di inginkan pihak satu, dan tak boleh membantah atau menolak. Pasal ketiga, selama pernikahan masih berlangsung pihak ke dua tak boleh dekat dengan pria lain" jelas Liam panjang lebar.
"Perjanjian macam apa ini" Lesya mengrenyitkan kedua alisnya. Dia sangat kesal dengan perjanjian yang tertulis itu. "Ini sama saja seperti perbudakan nantinya" fikirnya.
"Oow... Jadi anda tak setuju ? Tanya Liam dengan nada halus namun dengan raut wajah yang mengancam.
"Tidak pak, saya kurang setuju dengan perjanjian ini. Bukankah semuanya hanya untuk pura-pura. Jadi seharusnya saya masih bisa melakukan apapun yang saya inginkan termasuk dekat dengan pria lain".
Walaupun tak ada niatan untuk dekat dengan pria lain, tapi Lesya tak tahu jika suatu hari nanti ada sosok yang singgah di hatinya.
Liam berdiri mendengar penolakan Lesya, diletakkannya kedua tangannya kedalam saku celana. Lalu dia berjalan menuju sofa di ruangan itu yang di duduki Lesya.
__ADS_1
Lesya yang melihat Liam berjalan semakin dekat ke arahnya, seketika merasa gemetar. Jantungnya berdetak tak karuan. Dia merinding melihat tatapan dingin Liam.
Semakin dekat Liam berjalan ke arahnya. Ketika Liam tinggal beberapa langkah, Lesya berniat berdiri dan ingin melarikan diri. Namun dengan cepat Liam menahan tubuh Lesya untuk duduk kembali dan menguncinya dengan kedua tangannya, mengukung Lesya di sofa itu.
Liam membungkukkan badannya. Posisi itu membuat kedua wajah mereka sangat dekat dan mau tak mau kedua mata mereka saling beradu pandang. Situasi Ini membuat Lesya sangat gugup dan setengah takut.
"Bu Lesya,,," ucap Liam dengan suara halus.
"Bukankah sudah saya jelaskan tentang pasal ke dua ?, Bahwa pihak dua harus menuruti perintah pihak satu ?". Kini dengan nada yang sedikit ditekan.
"Apakah bu Lesya tak dengar ?. Biar saya bisikkan ke telinga anda isi perjanjian tadi kalau anda tak dengar".
Jantung Lesya terus berdetak tak karuan. Benar-benar cepat seperti habis berlari sejauh seribu kilometer.
"Ti tidak. Saya sudah dengar" jawab Lesya dengan memalingkan wajahnya.
"Bagus" ucap Liam dan melepas kungkungannya.
"Tapi saya juga punya syarat" ucap Lesya.
Liam mengrenyitkan alisnya karena sedikit kaget atas ucapan Lesya.
"Syarat perjanjian saya cuma satu. Anda tak boleh menyentuh saya dan meminta hal lebih atas tubuh saya" ucap Lesya dengan percaya diri.
"Hahaha,,, kamu lupa, kalau meskipun cuma menikah kontrak kau tetap berstatus istri dariku nantinya sebelum aku menceraikan anda dalam satu tahun". Ucapan Liam benar-benar membuat Lesya merinding mendengarnya.
"Benar-benar pria b****sek. Tak akan aku biarkan kau bisa menyentuhku nanti" batin Lesya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita percepat jangan setahun. Ceraikan aku nanti dalam waktu enam bulan" tawarnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Liam mengrenyitkan dahinya. Mendengar penawaran Lesya. Ini benar-benar lucu fikir Liam. Sudah di bilang dia hanya harus menuruti nya. Tapi Lesya malah terus membantah dan menawarnya.
"Baik, saya setuju" kata Liam. "Silahkan anda tanda tangani suratnya".
Lesya lalu meraih bolpoin di meja itu dan mulai menandatangani surat itu.
"Besok anda harus ikut saya bertemu orang tua saya" ucapnya lagi.
"Secepat itu ?" Tanya Lesya sedikit terkejut.
"Iya. Besok sepulang mengajar" jawab Liam.
"Baik, sudah selesai kan pak ?, Kalau begitu saya permisi" ucap Lesya. Dia ingin segera pergi dari ruangan itu.
"Silahkan" tukas Liam.
Lesya segera berdiri dan berjalan keluar dengan langkah yang di percepat olehnya.
"waaah... jantungku benar-benar berolahraga dengan sangat lincah" gumamnya.
\_Sehabis baca tolong minimal tinggalkan Likenya ya teman-teman 😊
Terima kasih 🙏
__ADS_1