Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 38. MAKAN MALAM


__ADS_3

Mereka mengobrol banyak hal. Sampai akhirnya Liam berpamitan untuk membersihkan dirinya.


"Ma, pa aku mau mandi dulu. Aku tinggal dulu" ucap Liam.


"Iya, jangan lama-lama, kasian Lesya nanti nungguin" ucap mamanya.


"Lah napa aku harus nungguin. Orang dari tadi juga diem-diem aja nggak ada suara" batin Lesya.


Selang beberapa menit terdengar suara adzan Maghrib.


"Ee,,, tante, permisi. Saya boleh numpang sholat nggak disini ?" Kata Lesya.


"Boleh dong sayang. Bagaimana kalau kita berjama'ah" usul mama Lia.


"Boleh kah tante ?".


"Boleh dong. Ayo pah, papa yang meng-imammi" perintah mama Lia ke suaminya.


"Ayo, biar aku ambil wudhu dulu. Eh, nggak nunggu Liam dulu ?" ucap tuan tama.


"Nggak usah, nanti kelamaan. Liam kalau mandi kan lama. Keburu waktunya habis. Biar nanti dia sholat sendiri" ucap mama Lia.


Lalu mereka pun menunaikan sholat Maghrib berjamaah. Selepas sholat, Lesya berdo'a. Dia bersyukur karena kedua orang tua Liam sangatlah baik. Mereka sangat hangat kepada Lesya.


Setelah semua selesai berdo'a masing-masing, Lesya menyalami kedua orang tua Liam. Namun disaat giliran menyalami tante Lia, beliau meraih Lesya dan merangkulnya.


"Sayang, terimalah Liam menjadi pendampingmu. Dia memang kaku dan membosankan, tapi sebenarnya dia sosok yang baik" ucap mama Lia sambil menepuk-nepuk punggung Lesya.


Deg,,,


Hati Lesya terasa terenyuh mendengar ucapan tante Lia. Dia mengingat perjanjiannya lagi dengan Liam. "Mungkin kalau bukan karena perjanjian aku bisa mencintainya. Namun karena perjanjian itu, aku harus berhati-hati dengan hatiku" batin Lesya dan berusaha menahan air matanya.


Lalu Lesya membalas pelukan tante Lia dan mengelus punggung beliau. Dia bingung harus menjawab perkataan tante Lia.


"Nyonya, makan malamnya sudah siap" tiba-tiba mbok ijah datang dan membuyarkan pelukan hangat mereka.


"Ayo nak, kita bersiap untuk makan malam" ajak tante Lia. Dan di balas anggukan oleh Lesya.


"Oh iya mbok. Tolong panggilkan Liam suruh dia segera turun untuk makam malam ya" ucap mama Lia.


"Injeh nyonya" jawab mbok ijah dengan bahasa jawa yang sopan.


Lalu tante Lia dan Lesya beranjak dari tempat sholat menuju meja makan.


*


Liam yang berada di kamarnya dan selesai dengan ritual mandi serta sholatnya merebahkan dirinya di ranjang kamarnya. Dia melamun memikirkan Lesya. Entah kenapa dia suka melihat interaksi Lesya dengan kedua orang tuanya.


Tok tok tok....


Terdengar pintu kamarnya diketuk.


Liam langsung beranjak membuka pintu tersebut. Terlihat mbok ijah yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada apa mbok ?" Ucap Liam.

__ADS_1


"Tuan muda di tunggu nyonya dan tuan di meja makan". Ucap mbok ijah.


"Iya, baiklah" kata Liam.


Lalu mbok ijah pergi meninggalkan Liam. Sementara Liam kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil ponselnya. Lalu dia pergi meninggalkan kamarnya dan turun menuju meja makan.


Lesya yang melihat Liam menuruni tangga seketika menatapnya. Lesya terpesona dengan penampilan Liam yang hanya mengenakan jelana jeans hitam panjang dan kaos oblong hitam. Penampilannya tetap terlihat tampan dan maskulin. Namun dengan sentuhan santai.


Liam yang menyadari langkahnya di perhatikan oleh Lesya lalu berdehem untuk menyadarkan lamunan Lesya.


"Ehheemm" dehem Liam. Lalu Lesya mengalihkan pandangannya. Untung saat Lesya menatap Liam, tante Lia tak memperhatikan karena sibuk menata piring untuk mereka.


"Eh, kamu sudah selesai. Ayo duduk sini" ucap mama Lia yang kini bediri dari tempat duduknya. Karena sebelumnya dia duduk di samping Lesya dan sekarang dia duduk di kursi lain yang berhadapan dengan Liam. Dan Liam pun duduk di samping Lesya yang tadi di tempati mamanya.


Mama Lia sibuk mengambilkan nasi untuk suami dan putranya. Saat mama Lia meraih piring Lesya untuk mengambilkan nasi untuknya, Lesya mencegahnya.


"Biar saya ambilkan untuk tante dulu" ucap lembut Lesya seraya melempar senyumnya.


"Baiklah" kata tante Lia.


Setelah itu dia mengambil nasi untuknya sendiri.


"Pintar sekali kamu menjilat mamaku" bisik Liam pada Lesya.


Lesya memicingkan matanya dan mengerutkan alisnya.


"Saya hanya menerapkan sopan santun ya. Sepertinya bapak nggak paham soal sopan santun" balas bisik Lesya.


"Kenapa Li ?" Tanya tuan tama yang memperhatikan keduanya berbisik.


"Nggak ada apa-apa pah. Cuma aku suruh dia makan yang banyak biar nggak kurus kering" ledek Liam.


"Pufffttt... Kalian lucu sekali. Menggemaskan" ucap tante Lia seraya menahan tawa.


Lesya tersenyum dengan kaku menanggapi ucapan mamanya Liam.


Mereka pun menyelesaikan makan malam itu. Tante Lia memulai pembicaraan karena terlalu lama hening.


"Li, jadi kapan nih siap menikah ?" Tanya mama Lia tanpa basa-basi.


"Rencana Liam seminggu lagi" jawab Liam.


Uhhuuk uhhuuuk...


Sontak Lesya tersedak mendengar ucapan Liam.


Tante Lia langsung menuangkan minuman untuk Lesya.


"Ini minumnya nak" menyodorkan minum untuk Lesya.


"Pelan-pelan" ucap Liam pada Lesya.


"Kenapa sayang ?" Tanya tante Lia.


"Saya sedikit kaget tante" jawab Lesya.

__ADS_1


"Kenapa ?, Apa kamu belum siap ?" Tanya tante Lia dengan nada lembut.


"Siap nggak siap, harus siap" tukas Liam.


"Ya nggak boleh gitu dong Liam. Lesya juga harus siap dulu" kata mamanya.


"Tau, sekalinya dapet ngebet banget" ledek tuan tama.


Liam menolehkan sedikit kepalanya ke arah Lesya, dan meliriknya dengan tatapan tajam serta sinis. Membuat Lesya menciut melihat tatapan Liam yang seolah mengintimidasi.


"Sa, saya siap kok tante om" tutur Lesya dengan suara yang sedikit gagap.


Tante Lia tersenyum mendengar ucapan Lesya.


"Kalau begitu, seminggu lagi kita akan menikah" tukas Liam.


"Baiklah, kamu jangan khawatir ya sayang. Biar tante yang menyiapkan semuanya" tante Lia meraih tangan Lesya yang masih memegang gelasnya di atas meja dan menggenggamnya.


"Gimana pah ?, Papa setuju kan ?" Tanya tante Lia pada suaminya.


"Saya setuju-setuju saja. Papa merestuinya" kata tuan tama.


Bukannya merasa senang seperti pasangan yang akan menikah, justru Lesya merasa bingung dengan situasinya. Meskipun dia tahu akan resiko dengan keputusan yang diambil sebelumnya. Mau tak mau dia juga harus menerimanya.


Karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Lesya pun berpamitan untuk pulang.


"Om, tante. Terima kasih untuk makan malamnya" ucap Lesya.


"Iya sayang. Sering-sering lah kesini" kata tante Lia.


"Di pingit dulu dong mah, sebentar lagi kan kita boyong kesini" kata tuan tama.


"Ow iyya, mama Lupa. Kamu jaga kesehatan ya. Hati-hati" pesan tante Lia pada Lesya.


"Iya tante. Kalau begitu saya pamit dulu" lalu dia meraih tangan tuan tama dan bergantian kepada tante Lia untuk menyalaminya.


Liam sudah siap berdiri untuk mengantar Lesya.


"Hati-hati bawa calon menantu mama" kata Lia berpesan pada Liam.


"Heem" jawab Liam singkat.


"Assalamu'alaikum" ucap salam Lesya lalu melangkah keluar rumah.


"Waalaikumsalam" serempak tante Lia dan tuan tama menjawabnya. Lalu mereka mengikuti Liam dan Lesya dari belakang untuk mengantarnya ke depan. Mereka menunggu keduanya pergi.


"Mereka serasi ya pah" ucap tante Lia yang masih memandangi mobil Liam yang sudah terlihat jauh.


"Iya mah" jawab tuan tama.




\_Ohho... Bentar lagi mau nikah nih. Tungguin ya cerita selanjutnya. 😊

__ADS_1



Terima kasih. 🙏


__ADS_2