Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 19. MENGADU


__ADS_3

Setelah seharian menguras fikiran, tenaga dan emosinya di sekolah, akhirnya bel berbunyi tanda jam pelajaran telah berakhir.


Tanpa berfikir panjang Lesya mengakhiri kelasnya. Dan langsung berpamitan pulang. Dia ingin segera berbaring melepas lelah dan penatnya.


Sesampainya di rumah, dia langsung masuk ke kamarnya. Kali ini dia lebih memilih tidak menghampiri ibunya karena dia nggak mau kalau sampai ibunya tau bahwa hari ini dia terjatuh lagi dan membuat ibunya itu khawatir.


Melempar tasnya sembarang arah dan melempar tubuhnya ke kasur.


Merebahkan tubuhnya sambil menatap plavon atap kamarnya. Tiba-tiba air mata turun dari matanya meluncur ke pipi. Entah kenapa rasanya dia ingin menangis saja. Terkadang dia merasa hidupnya begitu berat. Meskipun selama ini dia berusaha untuk kuat, tapi dia tak memungkiri kalau terkadang terselip juga rasa capek pura-pura kuat. Selama ini dia selalu berusaha memendam segalanya. Menumpahkan rasa kecewanya dan sakit hatinya atau apapun masalahnya hanya kepada yang Maha Kuasa. Tak jarang sahabatnya pun di buat bingung dengan sikap Lesya yang terlihat tenang dengan masalah yang dihadapinya. Iya, Lesya memang jarang sekali menceritakan masalahnya meskipun itu dengan sahabatnya. Dia merasa tak ingin menjadi beban untuk siapapun.


Setelah merenung, dia beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi, malakukan ritual mandi sore. Setelah mandi dia melaksanakan sholat Ashar. Selesai sholat dia mengambil Al Qur'an untuk dibacanya sambil menunggu magrib. Di lantunkan ayat demi ayat dengan suara yang merdu.


Tak lama kemudian terdengar suara Adzan berkumandang. Segera dia melaksanakan sholat setelah adzan selesai. Setelah selesai sholat tak lupa dia memanjatkan do'a dan mengadu kepada Sang pemberi kehidupan.


"Ya Allah, maafkan hamba yang terkadang sering mengeluh sehingga lupa untuk bersyukur. Aku tau bahwa Engkau akan menguji hambaMu dengan batas kemapuannya. Semoga hamba selalu tegar dan sabar dengan apa yang Engkau gariskan untuk hidup hamba.


Hari ini hamba mengalami masalah yang menurut hamba sangat sulit (dia memulai curhat kepada Sang pemberi Takdir). Tiba-tiba saja hamba mempunyai hutang sangat banyak. Tolong bantu hamba untuk secepatnya melunasi hutang itu agar hamba merasa lebih tenang. Karena hamba takut bila suatu saat nanti terjadi sesuatu dengan hidupku, aku masih menanggung hutang. Engkaulah yang Maha Pengasih lagi Penyanyang. Dengarlah dan ijabah pinta hamba ini Ya Allah. Ammiiin".

__ADS_1


Melipat mukenanya dan meletakkannya di dalam lemari.


Tok tok tok....


Suara pintu kamar Lesya diketuk.


"Iya bu masuk".


Bu marini pun membuka pintu dan masuk ke kamar Lesya dengan membawa nampan berisi makanan.


"Makan dulu Lesya" sambil meletakkan nampan berisi nasi itu di atas nakas.


Ibu Marini menyatukan alisnya karena melihat langkah kaki Lesya yang sedikit pincang.


"Kenapa lagi kakimu nduk" tanyanya.


"Ah, ini bu. Ini kan jatuh yang kemrin" jawab Lesya dengan sedikit limbung.

__ADS_1


"Sepertinya kemarin tidak separah itu". Matanya menyelidik melihat kaki putrinya itu.


"Ini mungkin karena aku seharian sering berjalan kesana kemari waktu mengajar tadi. Jadi sedikit bengkak". "Maafkan aku bu. Aku terpaksa membohongi ibu agar ibu tak cemas". Gumam Lesya dalam batinnya.


"Periksakan ke dokter Lesya, biar tau bagaimana keadaan lukamu itu". Ibunya terlihat khawatir.


"Iya, besok kan hari libur jadi aku akan periksakan" sambil tersenyum lembut.


Ibu Marini mengelus kepala dan pundak Lesya. "Ya sudah, makan gih dan istirahatlah" ucapnya.


"Iya bu. Ibu juga kalau sudah ngantuk cepat tidur. Jangan nonton tv terus" ganti Lesya yang mengingatkan ibunya.


"Hahaha, suka nanggung kalau cerita sinetronnya sudah seru Les". Sedikit tertawa mendengar kata-kata Lesya.



__ADS_1


Terima Kasih 🙏


__ADS_2