
Di perjalanan kembali ke sekolah Lesya hanya diam tanpa bicara. David yang memperhatikannya dari samping bingung harus memulai dari mana. Lagi-lagi dia harus mengurungkan niatnya.
Lesya lebih memilih diam. Fikirannya tak karuan, sedih bila mengingat pertengkaran tadi dengan sahabatnya. Baru kali ini mereka bertengkar dan berdebat serius.
Lesya menghela nafas panjang sambil melihat pinggir jalanan dari jendela mobil itu.
Dia berusaha menenangkan hatinya lagi dengan beristighfar. Yang dibutuhkannya sekarang hanya ketenangan hati. Jadi dia lebih memilih banyak beristighfar bukan hanya berfikir. Berfikir saat lelah akan membuat semakin lelah. Berfikir saat kesal akan membuatnya semakin kesal. Berfikir memang perlu, tapi hati sekarang jauh lebih membutuhkan ketenangan.
Mereka pun sampai di sekolah SMA Guatama. "Terima kasih pak" ucap Lesya dengan senyum hambar. Lalu dia segera turun dari mobil itu. Dan lebih memilih masuk keruangan guru duluan tanpa menunggu David.
"Huuuuffftt..." David menghembuskan nafasnya kasar. Dia frustasi melihat situasi sekarang ini. Karena tadi waktu berangkat makan siang Lesya masih terlihat baik-baik saja. Tapi keadaan berubah setelah selesai makan siang itu. Membuat rencananya gagal total. Entah kapan dia bisa mengutarakan perasaannya lagi.
*
Mama Lia hari ini terlihat sibuk. Dia sedang mempersiapkan segala keperluan baju ganti dan lain-lain kedalam koper.
Iya,,, mama Lia harus pergi menemani tuan tama yang akan dinas keluar kota karena cabang perusahaan kertas yang mereka miliki ada sedikit permasalahan. Dan kali ini harus tuan tama sendiri yang menyelesaikan dan memantaunya.
"Pah, kita berangkat jam 5 sore kan ?" Tanya mama Lia ke suaminya.
"Iya mah, sekalian nunggu Lesya pulang ngajar. Kabari Liam saja. Karena kalau kita harus menunggu dia pulang dari kantor bisa nanti malam kita berangkatnya dan ketinggalan pesawat" kata tuan tama.
"Biar mama telfon Liam dulu".
Liam yang sibuk dengan semua laporan-laporan hasil rapat kerja sama dan lain-lain terpaksa menghentikan aktifitasnya saat melihat ponselnya berbunyi, dan dia segera mengangkat panggilan itu ketika melihat nama sang mama yang tertera.
"Halo, Assalamu'alaikum. Ada apa mah ?" Tanya Liam dengan suara datar.
"Waalaikumsalam. Gini Liam, mama sama papa mau ke kota 'J' hari ini. Rencananya kita akan berangkat nanti sore jam 5" kata mama Lia.
"Kenapa mendadak mah ?, Sepertinya tadi pagi nggak ada omongan kalian mau pergi !!..." Kata Liam.
"Iya ini mendadak sekali. Perusahaan kertas Prosindo ada sedikit masalah dengan clien. Dan papa mu harus mengatasinya sendiri" jelas mama Lia.
"Oke, biar nanti aku pulang agak cepat" kata Liam.
"Lesya pulangnya jam berapa Li ?" Tanya mama Lia.
Liam lalu melihat jam tangan yang dia pakai, "Sekarang sudah jam 3. Mungkin sebentar lagi dia pulang" kata Liam.
"Baiklah, mama tutup dulu. Kamu cepet pulang" ucap mama Lia.
"Em" jawab singkat Liam.
"Assalamu'alaikum" salam mama Lia.
__ADS_1
"Waalaikumsalam" jawab salam Liam. Lalu Liam segera memutus panggilan itu.
Tak beberapa lama kemudian Lesya kini sudah sampai di depan rumah Rayandra. Dia turun dari taxi yang dia tumpangi. Lalu berjalan memasuki halaman rumah itu dengan langkah yang sedikit malas.
"Aku pengen pulang ke rumahku saja deh. Dari pada disini nanti ujung-ujungnya ketemu pria arogan itu lagi" gumam batin Lesya.
Lesya membuka pintu rumah itu.
"Assalamu'alaikum" ucap Lesya saat masuk ke dalam rumah. Dia terkejut dengan dua koper yang berjajar dan sudah siap rapi di ruangan tamu.
"Waalaikumsalam" jawab mama Lia.
"Kamu sudah pulang sayang" kata mama Lia.
"Sudah mah. Mama mau kemana ?, Kok ada koper mah ?,,, Dan mama sudah terlihat sangat rapi ?. Papa juga ?" Tanya Lesya dengan raut wajah yang bingung.
"Kita akan pergi ke kota 'J' beberapa hari kedepan sayang" kata mama Lia.
Lesya menyatukan alisnya saat mendengar kata-kata mama Lia. "Mampuuuss kau Lesya. Kali ini kau akan tinggal di sini sendirian dengan tuan arogan itu. Tamatlah riwayat mu" Lesya bermonolog dalam hati.
"Papa tama ada pekerjaan penting yang harus di selesaikan di sana. Dan mama sengaja mau ikut menemaninya. Karena kalian pengantin baru tidak mau bulan madu, biar mama sama papa saja yang bulan madu. Hehehe" kata mama Lia sambil terkekeh.
Lesya ikut tersenyum mendengar ucapan mama Lia "Ooh,, seperti itu mah. Hati-hati ya mah, pah" pesan Lesya pada kedua mertuanya.
"Em, tentu. Kamu jaga diri baik-baik dirumah ya. Kalau Liam nakal dan nyebelin, telefon saja mama, laporin ke mama" kata mama Lia.
"Memangnya aku kapan pernah nakal ?" Sahut Liam yang juga sudah sampai di rumah itu tanpa mama Lia dan Lesya sadari.
"Eh, mama kaget kamu nyahut aja tiba-tiba" sentak mama Lia. "Kamu memang nggak nakal Liam. Tapi nyebellinnya setengah mati" sambung mama Lia.
Liam mengerutkan dahinya mendengar ucapan sang mama.
"Udah pokoknya mama titip menantu cantiknya mama ini. Jangan di sakiti pokoknya. Jaga dia baik-baik" pesan mama Lia.
"Memangnya dia bayi harus dijaga" sahut ketus Liam.
"Liiiaaamm..." Teriak kesal mama Lia.
"Nggak usah teriak mah. Liam nggak budek" tukas Liam.
"Huuffttt" mama Lia membuang nafas pelan menenangkan dirinya. "Kamu yang sabar ya ngadepin anak mama yang seperti beruang kutub" kata mama Lia ke Lesya.
Namun Lesya malah terkekeh mendengar ucapan mama Lia.
"Kenapa sayang ?" Tanya mama Lia penasaran.
__ADS_1
"Mah, maaf ya mah. Ternyata bukan Lesya saja yang menyebut dia beruang kutub. Puuufftt" bisik Lesya dengan menahan tawanya.
"Bwahahahaha...." Tawa mama Lia pecah saat mendengar bisikan dari Lesya. "Kadang mama suka kesal melihat sikap dia. Rasanya pengen mama balikin masukin lagi ke perut. Hahaha" balas bisik mama Lia ke Lesya dan terus tertawa.
"Ehheemm..." Dehem Liam. Dia risih melihat kedua wanitanya berbicara berbisik dan terus tertawa. Dia pun tau kalau mereka berdua sedang membicarakannya.
Lesya langsung terdiam melihat raut wajah yang tak mengenakkan dari pria arogan yang kini berstatus menjadi suaminya itu. Sedangkan mama Lia masih saja tertawa.
Lesya menggoyang pelan lengan mama Lia. "Maah sudah mah. Ada yang mulai kesal mah" besik pelan Lesya berusaha menghentikan tawa mama Lia.
"Jangan takut kalau dia marah. Emang marah sudah menjadi hobi dia. hiks hiks" ucap mama Lia masih dengan sedikit tawanya.
"Sudah siap kan mah ?" tanya papa tama yang keluar dari kamarnya dan sudah selesai bersiap.
"Sudah pah, ayo kita berangkat".
"Liam kita berangkat dulu. Kalian baik-baik di rumah" pesan papa Tama dan berpamitan.
"Em,,," singkat Liam sambil menganggukkan kepalanya. "Kalian juga hati-hati. Kalau sudah sampai hubungi aku" ucap Liam.
Lesya lalu menggandeng mama Lia mengantarnya ke mobil. Sedangkan kedua pria yaitu Liam dan tuan tama berjalan dibelakang mereka dengan menyeret koper.
"Hati-hati ya mah" kata Lesya sambil memeluk mama Lia dan menciumi kedua pipi mama Lia.
"Inget pesan mama tadi. Mama sama papa berngkat dulu" kata mama Lia.
"iya mah".
"Assalamu'alaikum" salam mama Lia dan tuan tama berbarengan.
"Waalaikumsalam" sahut Liam dan Lesya bebarengan. Sontak mereka menoleh dan saling bertatapan. Tatapan Liam tajam sambil menyatukan alisnya. Sedangkan Lesya hanya menatapnya lalu memalingkan wajahnya.
"Ngapain ngikut-ngikut" kata Liam.
"Nggak ada yang ngikut ya. Sebagai muslim yang baik, saya wajib menjawab salam itu. Karena salam adalah do'a" tukas Lesya sambil terus memandangi mobil yang kini mulai berjalan dan membalas lambaian tangan mama Lia.
Liam merasa hatinya tersentak mendengar ucapan Lesya.
\_Jangan lupa tinggalkan like, vote, hadiah serta komennya. Dan janagn lupa tekan favorit agar kalian dapat notif setiap aku up bab baru.
__ADS_1
Terima kasih 🙏