
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Hanya sesekali Lesya melirik Liam yang sedang serius menyetir. Dan Liam pun sesekali curi pandang ke Lesya.
Dan akhirnya mereka sampai ke tempat butik yang sudah di tunjuk sebagai desainer baju untuk mempelai oleh mama Lia sebelumnya. Sudah terlihat mama Lia yang duduk santai di depan teras butik itu.
"Sudah lama kah mah ?" Tanya Liam yang kini sudah berdiri di samping mamanya yang sibuk membolak balikkan majalah yang di pegang.
"Astaghfirullah hal adzim,,, Liam, bikin mama kaget aja. Ucap salam dulu kan bisa. Hampir saja jantung mama copot. Kamu senang kalau mama nggak ada ?" omelan mama Lia.
"Bisa jadi. Karena papa tak mungkin terus sendirian, dan aku pasti dapat ganti mama baru" tukas Liam dengan nada santai dan ekspresi datar.
"Astaghfirullah,,, Liiiaaamm..." Kesal mama Lia hingga mencubit sampai memelintir lengan Liam yang berotot.
"Adduuuuhh... Sakit mah" kata Liam.
"Punya mulut jarang di pakai ngomong. Sekalinya ngomong ngesellininnya tujuh turunan" kesal mama Lia.
Lesya hanya menonton perdebatan mereka sambil sesekali terkekeh melihatnya.
"Lesya,,, sini nak. Maafkan mama sampai tak memperhatikanmu gara-gara Liam yang berulah" ucap mama Lia dengan melirik sinis ke putranya.
"Nggak pa pa tante. Tante sudah lama menunggu ?" Tanya Lesya.
"Nggak terlalu kok nak. Ayo kita masuk" ajak mama Lia.
Lesya menganggukkan kepalanya dengan antusias. Mereka akhirnya masuk ke butik itu.
Para karyawan butik itu menyambut mereka dengan ramah. Di ajaklah Lesya ke ruang ganti untuk mencoba gaun yang sudah dirancang dan disiapkan.
Lesya berdiri di depan cermin dengan mengenakan gaun itu. Lagi-lagi ini berhasil membuat hatinya merasa miris. Tak terasa air mata itu akhirnya lolos melintas di pipi mulusnya.
Seandainya ini pernikahan impian ia pasti merasa sangat bahagia. Tapi ini berbeda. Sedikit terlintas rasa bahagia saat melihat gaun pengantin yang terlihat begitu cantik membalut seluruh tubuhnya. Namun seketika rasa bahagia itu terhempas menjadi sebuah rasa yang kelam.
"Apakah sudah siap ?" Tanya salah seorang karyawan.
"Oh,,," dengan cepat Lesya mengusap air matanya. "Iya, saya sudah siap" sambungnya.
"Saya buka ya tirainya" ucap kariyawan itu.
__ADS_1
Mama Lia sibuk berbincang dengan pemilik butik dan melihat-lihat kain kebaya disana. Sedangkan Liam duduk di sofa dan sibuk mengutak atik layar iPad nya.
Sreeeettttt.... (Anggap saja itu suara korden yang diseret untuk di buka ya gaes).
Mama Lia berhenti berbicara dan menoleh saat mendengar suara korden diseret untuk dibuka.
"MasyaAllah,,, caaantiiik sekali" ucap mama Lia yang begitu terpana melihat ke anggunan calon menantunya saat mencoba gaun untuk acara pernikahan nanti.
Mama Lia berjalan menghampiri Lesya. "Cocok sekali nak. Gimana, kamu suka nggak ?" Tanya mama Lia.
"Emm... Lesya Suka tante. Terima kasih tante" kata Lesya dan mengganggukkan kepalanya. Tak lupa senyumannya selalu tersunggging indah di wajahnya.
Liam sekilas mendongak melihat Lesya yang berdiri di depannya. Lalu dia mendongakkan kepalanya lagi dan terdiam menatap Lesya. Wajahnya begitu datar menatap Lesya. Sehingga Lesya berfikir kalau Liam tak menyukainya. itu memang wajar, karena ini juga bukan pernikahan impiannya.
Berbeda dengan Liam. Di dalam hati Liam begitu terpukau melihat indahnya sosok wanita yang berdiri dengan anggun di depan matanya. Namun rasa itu tertutup oleh wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Sampai-sampai dia tak sadar saat Lesya sudah berjalan mendekatinya.
"Saya tau kalau saya cantik. Tapi bisa tidak pandangan anda biasa saja. Anda tau !!, kalau menatap wanita yang bukan mahramnya lebih dari 5 detik itu haram, karena bisa menimbulkan nafsu" bisik Lesya di telinga Liam dan sedikit menggodanya.
Sontak Liam salah tingkah. Ia langsung menoleh, memicingkan mata menatap Lesya dengan lekat yang masih membungkuk di samping wajahnya. Sehingga kedua mata mereka saling bertemu. Lalu dia membuang muka dan kembali menatap layar iPad nya tanpa menjawab ucapan Lesya. Sementara Lesya menyunggingkan sebelah bibirnya merasa puas karena bisa meledek bos arogan itu.
Sementara mama Lia yang melihat interaksi mereka tersenyum gemmas. "Indahnya asmara masa muda" gumamnya dalam hati.
Lesya berjalan mengantar tante Lia menuju mobil yang ia tumpangi dengan seorang sopir.
"Tante nggak ingin ikut mobil kita aja ?" Tanya Lesya.
"Enggak sayang. Mama sudah minta sopir untuk menunggu. Kalian jalan-jalan dulu saja. Sambil menikmati waktu berdua" ucap mama Lia.
"Kita belum nikah tante. Nggak boleh kan lama-lama berdua. Nanti di ganggu setan" ucap Lesya dan sedikit terkekeh.
"Hahaha" mama Lia ikut tertawa mendengar candaan Lesya. "Iya kamu benar nak. Lesya, jangan panggil tante ya. Mulai sekarang biasakan panggil mama. Sebentar lagi kita tinggal bersama dan saya menjadi mama mertua kamu" tutur mama Lia.
"Eeemm... Iya tan_, eh... iya ma, hehe. Rasanya masih canggung bagi Lesya untuk menyebut mama" katanya.
"Mama tau. Makanya sekarang biasakan ya !!" Ucap mama Lia.
"Iya ma".
__ADS_1
Mereka berdua terus mengobrol sampai di parkiran tempat mobil sang mama diparkir, tanpa menghiraukan Liam yang berjalan di belakang mereka.
"Mama duluan ya" pamitnya pada Lesya. "Liam, jaga Lesya baik-baik ya" Ucap mama Lia.
"Liiiaaam" sekali lagi mama Lia memanggil putranya karena perkataannya tadi tak di hiraukan.
"Mama bicara sama siapa ?" Tanya Liam.
"Ya sama kamu lah" kesal mama Lia.
"Oh,,, kirain aku dari tadi tak terlihat" sindir Liam.
"Lihat tuh beruang kutub ngambek" bisik mama Lia ke Lesya.
"Sepertinya, memang marah dan ngambek memang hobinya deh ma" balas Lesya tak kalah berbisik.
"Pppuuufffttt" mereka berdua pun tertawa kecil bersama.
Tingkah serta ucapan sang mama dan Lesya semakin membuat Liam kesal. Kini raut wajahnya menengang dan sangat tak enak di pandang. Meskipun berbisik volume suara mereka bukan seperti orang yang sedang berbisik. Sepertinya memang sengaja supaya dirinya kesal.
"Sudah ya sayang. Mama pergi dulu" pamit mama Lia.
"Iya mah, hati-hati di jalan" ucap Lesya.
Lalu mama Lia masuk ke dalam mobilnya. Dan melambikan tangan kepada Lesya saat mobilnya mulai melaju. Lesya pum membalas lambaian tangan sang calon mertua.
"Ayo, kita pulang" kata Liam dengan suara baritonnya.
Lesya memutar bola matanya malas. "bakalan ngebosenin lagi nih naik mobil berdua dengannya" batin Lesya.
\_Sabar ya teman-teman. Saya juga lagi berusaha untuk up setiap hari meskipun cuma satu bab. Tekan favoritnya agar kalian tak ketinggalan kelanjutan ceritanya. 😊
__ADS_1
Terima kasih. 🙏