Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 32. KUE DENIS


__ADS_3

Kini Lesya sudah sampai di sekolah tempatnya mengajar dan langsung masuk keruang guru. Dilihatnya sudah ada David di ruang itu.


"Assalamu'alaikum pak David" Lesya mengucap salam ke David dengan suara halus.


"Waalaikumsalam bu. Aku terkejut dengan kedatangan anda" sambil membalas senyum Lesya.


"Hehe, maaf kalau aku membuat bapak terkejut. Eh, ini bapak dapat titipan dari teman saya Denis. Bapak ingat kan ?" Tanya Lesya dan menyodorkan kotak yang berisi mini cake.


David meraih kotak yang disodorkan oleh Lesya. "Wah, ada acara apa ini kok bagi-bagi kue".


"Sebagai sample katanya. Nanti kalau bapak ada acara bisa pesan disana saja".


"Ooow... Oke, terima kasih ya bu Lesya" dengan melempar senyumnya.


"Jangan berterima kasih ke saya pak. Bagaimana kalau bapak bilang terima kasih langsung ke Denis. Aku kasih nomer ponselnya ya. Anda bisa mengirim pesan kepadanya dan berterima kasih".


"Oh gitu. Ini ponsel saya. Langsung anda simpan saja disitu ya". Ucap David sambil menyodorkan ponselnya.


Lesya langsung menuliskan nomer Denis di ponsel itu. "Dasar kamu memang pintar banget Les. Kalau kayak gini kan aku nggak usah malu-malu atau basa basi meminta nomer pak David". Batin Lesya yang memuji dirinya sendiri.


Sedangkan David yang masih duduk di tempatnya, kepalanya mendongak melihat Lesya yang masih berdiri didepannya. Sambil melongo menatap Lesya.


"Senyummu itu benar-benar mengalihkan duniaku Les. Wajahmu yang teduh terlihat elegan. Akankah kau bisa menerimaku suatu saat nanti ?" David membatin.


"Ini pak sudah saya simpan" kata Lesya sambil mengembalikan ponsel David.


"Ehheeemm" David seketika tersadar karena perkataan Lesya dan berdehem menetralkan suasana fikirannya.


"Oh iya bu. Terima kasih" ucap David.


Lesya membalas dengan anggukan dan tersenyum kepada David.


*


Lalu Lesya duduk di kursinya dan membuka kotak kue yang diberi sahabatnya.


"Mumpung jam pelajaran belum dimulai aku makan dulu aja. Biar perutku nanti nggak konser pas ngajar" gumam Lesya pelan. Meskipun pelan diseberang meja depan masih bisa mendengar ucapan Lesya, seketika itu membuat David tersenyum sendiri dan membatin "terkadang kau juga punya sisi yang menggemaskan ya Les".


*


Mobil mewah milik Liam Rayandra melaju cepat di jalanan. "Ric, tolong santai nyetirnya. Aku nggak mau mati konyol karena kau". Terdengar suara Liam dibangku belakang. Dia mengingatkan Eric sang asisten dengan nada yang ditekankan.


"Biar cepat sampai tuan. Mumpung jalanan sudah lumayan sepi" tukas Eric.


"Kurangi kecepatan Ric" ucap Liam sekali lagi.


"B baik tuan" Eric tergagap menjawab Liam. Itu kesalahannya karena berani-beraninya membatah kata-kata bos besarnya.

__ADS_1


"Apa sudah kau siapkan yang aku minta kemarin ?" Tanya Liam.


"Sudah saya siapkan tuan. Nanti tuan bisa mengkoreksinya kalau sudah sampai".


"Bagus" tukas Liam.


Liam dan Eric pun sampai di sekolah. Mereka berjalan beriringan memasuki sekolah tersebut menuju ruangan kekuasaan Liam. Yaitu kantor Direktur.


"Ini tuan surat perjanjiannya". Eric menyerahkan surat perjanjian yang dia buat kepada bosnya.


Liam membaca isi surat itu sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Oke. Sekarang panggil guru itu kesini" ucap Lima.


"Sekarang tuan ?".


"Besok lusa. Sepertinya telingamu semakin parah deh ric. Mending besok kau beneran periksakan telingamu" ucap Liam kesal.


"Siap bos. Saya panggilkan sekarang juga" Eric memposisikan berdiri dengan tegak seperti peserta latihan PBB.


Liam hanya menggelengkan kepala melihat kekonyolan asistennya.


Eric pun keluar dari ruangan. "Maksudku tu kalau dipanggil sekarang kan masih jam ngajar. Aku kan nggak enak kalau harus ganggu pas mereka lagi serius belajar. Emang dasar si bos. Pinter sih emang, tapi kadang otaknya suka nggak nalar. Heran aku tuh sama pemikiran sultan" Eric terus bergumam sambil berjalan menelusuri lorong.


Pertama Eric memasuki ruang guru untuk bertanya di kelas berapa Lesya mengajar.


Tok tok...


Kebetulan diruangan itu ada dua guru perempuan yang sedang duduk di kursinya masing-masing. Beberapa tumpukan buku diatas meja mereka. Dan mereka terlihat sibuk.


"Iya,,, ada apa ya pak ?" Tanya salah satu guru itu.


"Maaf mengganggu, saya mau nanya. Bu Lesya sekarang lagi ada jam di kelas berapa ya ?" Tanya Eric.


"Sebentar ya pak, biar saya lihat jadwalnya". Lalu guru itu berjalan menuju papan besar yang tertempel didinding ruang itu.


"Oh, bu Lesya sekarang sedang ada di kelas bahasa 11B" kata gu itu.


"Baiklah, terima kasih. Saya permisi" ucap eric sambil membungkukkan badan dan berlalu pergi.


Dia pun kembali mencari kelas yang disebutkan tadi.


"Oh, bukankah itu dia" langkahnya terhenti ketika matanya tak sengaja melihat Lesya dari jendela yang berada dalam ruang kelas. Lalu dia mendongak melihat plang yang tertera di atas pintu.


"Benar ternyata" Eric tersenyum merasa puas.


Tok tok...

__ADS_1


Eric mengetuk pintu.


"Iya, silahkan masuk" jawab Lesya dari balik pintu ruangan itu.


Lesya sedikit kaget melihat sosok yang masuk adalah orang yang sedikit tak asing. "Bukankah dia yang biasa bersama bos arogan itu" Pikirnya.


"Maaf saya mengganggu" ucap Eric


"Iya, ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Lesya.


"Bisakah anda ikut saya sebentar ?" tanya Eric.


"gimana ya ?" Lesya bingung karena dia harus meninggalkan muridnya yang sedang mengikuti jam pelajaran.


"tunggu sebentar ya pak" ucap Lesya lagi.


"Baiklah, saya tunggu diluar" Eric membungkuk dan pergi keluar kelas itu.


Lesya lalu berpamitan dengan siswa di kelas itu.


"Saya tinggal dulu ya. kalian pelajari dulu halaman 155. Tolong jangan gaduh ya. Hargai kelas lain". tutur Lesya.


"Siap bu" para siswa menjawab serempak.


*


"Mari ikut saya" ucap Eric lalu berjalan diikuti Lesya dibelakangnya.


Perasaan Lesya sudah tak enak. Jantungnya berdetak kencang. Dia mulai khawatir, apa lagi yang harus dia tanggung. Hidupnya benar-benar seperti rollercoaster yang naik turun dengan berbagai kejutan. Sesaat merasa tenang, nyaman dan damai. Dan tiba-tiba berubah menjadi mengkhawatirkan, membingungkan dan menyedihkan.


Jangan tanya dengan ketegarannya. Karena air mata serasa mengering dengan sendirinya. Mungkin air matapun sedikit bosan mengeluarkan buihnya. Kuncinya hanyalah Do'a dan sabar.


"Mari ikut saya" ucap Eric lalu berjalan diikuti Lesya dibelakangnya.




\_Do'a aja terus ya gaes. Jika belum di kasih sekarang sama Allah, mungkin sedang berproses. Tinggal tunggu waktu yang tepat. Maka bersabarlah...



\_Semua nggak ada yang instan ya. Mie instan tiga ribuan kalau mau dimakan aja harus direbus dulu kan.



\_Tapi lain cerita kalau kalian mau langsung makan tanpa dimasak. Memang rasanya jauh lebih gurih dan enak. Tapi akan ada efek yang mengganggu kesehatan. Karena semua yang serba cepat, nikmatnya pun akan berlalu dengan cepat. 😊

__ADS_1



Terima kasih 🙏


__ADS_2