
Beberapa menit di dalam kamar mandi, Lesya kini selesai dengan ritual mandinya.
Cekleek...
Di putarnya gagang engsel pintu kamar mandi. Mengeluarkan sedikit kepalanya untuk memeriksa suasana ruangan kamar itu. Apakah aman atau masih ada Liam disana. Semburat malu masih ia rasakan saat Liam menggodainya. Dan dia berharap setelah mandi, Liam sedang tidak ada di kamar itu.
"Oh aman" fikirnya... Entah kemana perginya Liam, Lesya tak memikirkan hal itu. Yang terpenting dia sedikit bisa merasa nyaman dan aman karena tidak ada yang menjahilinya untuk sementara waktu.
Ia mendudukkan dirinya di depan kaca meja rias. Menyisir rambutnya, tak lupa memberikan vitamin pada rambutnya. Lalu ia mengambil lipbalm untuk melembabkan dan sedikit memberi warna pada bibirnya, supaya tidak terlihat pucat. Ia sengaja tak memoleskan bedak pada wajahnya, karena ia fikir percuma, sebentar lagi bakalan terkena air wudhu dan setelah itu akan memulai mimpi di pulau kapuk.
Berhenti sejenak menatap pantulan dirinya didepan kaca. Ia teringat bayangan manis yang di lakukan Liam terhadapnya. Bayangan itu beberapa hari ini selalu muncul dalam fikirannya. Seperti seseorang kecanduan doktrin karena overdosis.
Rasa aneh selalu terselip dalam relung hatinya disaat Liam memperlakukannya dengan manis. Meskipun ia masih ragu apakah itu semua tulus atau hanya rayuan gombal semata.
Mama mertuanya sering bercerita kalau putranya selama ini dikata tidak pernah berpacaran, atau mempunyai kekasih semenjak lulus sekolah menengah atas. Namun Lesya sedikit tak percaya akan hal itu. Sebab caranya dia merayu dan menggodainya seperti lelaki yang suka mempermainkan wanita. Istilah lainnya seperti buaya darat kelas kakap yang siap menerkam mangsanya kapan saja.
Tapi kenapa rasa aneh itu selalu muncul disaat-saat ia berdekatan dengan Liam. Padahal sebelumnya atau dua bulan yang lalu rasa aneh itu tak pernah ada. Bahkan Lesya mengutuk dirinya sendiri untuk tak jatuh kedalam perangkap lubang buaya. Kali ini dia malah tak bisa mengendalikan hatinya, jantungnya, fikirannya dan tubuhnya setiap Liam menyentuh dirinya.
Menurutnya hal ini tidak benar. Ia merasa bodoh kalau sampai rasa aneh itu memang suatu rasa suka, sayang atau cinta. Karena ia tahu resiko kecawa dan sakit hati yang akan ia dapat nantinya. Meskipun kali ini sebenarnya ia masih berharap untuk mempertahankan rumah tangganya. Tak menginginkan kata perpisahan dan membatalkan janji kontrak konyol yang tertulis itu.
Ia segera menggelengkan kepala saat menyadari fikirannya mulai ngelantur nggak jelas. "Mikir apa sih kamu. Jangan mimpi terlalu tinggi deh. Nanti kalau jatuh bakalan sakit". Gumamnya dengan pantulan dirinya sendiri.
Lalu dia berjalan menuju ke arah nakas atas laci yang ada di pojok kamar itu. Diambilnya ponsel miliknya yang tergeletak disitu.
Ia mengernyitkan dahinya saat melihat ponsel milik Liam juga tergeletak di nakas itu.
__ADS_1
"Kemana dia ?... Kenapa dia meninggalkan ponselnya ?, Apa dia sekarang hanya sedang bersantai dibawah ?..." Rentetan pertanyaan itu sudah pasti tak mendapatkan jawaban, karena ia tanyakan pada dirinya sendiri.
Lalu ia menyalakan ponselnya sekilas. Dan tak ada notifikasi apapun yang tertera di layar ponselnya. Diletakkan kembali ponsel itu di nakas.
Matanya menjamah seluruh ruangan. Rasa bosan mulai menghinggapi. Ia ingin melakukan sesuatu untuk mengusir rasa bosannya, tapi disisi lain dia sedang merasa mager ( males gerak ) kemanapun. Sekalinya itu turun kelantai bawah.
Kali ini dia membuka-buka laci-laci yang ada di kamar itu. Mungkin saja dia menemukan sebuah buku atau novel yang bisa dia baca.
Saat membuka salah satu laci paling pojok bawah. Ia menemukan bingkai sebuah foto yang terbalik atau tengkurap sehingga tak memperlihatkan gambarnya. Karena penasaran, Lesya pun membalikkan bingkai foto itu.
Dan,,, Pyaaarrrr....
Bingkai foto itu tiba-tiba lolos dari gengaman tangannya. Jatuh berhamburan di lantai tepat di depan kakinya. Menjadi kepingan yang tak beraturan bentuknya. Hancur lebur tak beraturan. Sehingga sudah dipastikan bingkai itu rusak. Namun tak begitu dengan isinya. Yaitu foto yang ada dalam bingkai itu.
Ia masih belum percaya dengan apa yang dia lihat. Kenapa foto dia ada di laci meja kamar itu ?. Apa mereka berdua dulu ada hubungan ?. Semua pertanyaan kini muncul dalam fikirannya, memenuhi kepalanya.
Pernah suatu waktu Lesya diajak Sherly untuk ia kenalkan dengan kekasihnya waktu itu. Namun Lesya selalu saja menolak dengan alasan sedang sibuk dengan tugas sekolah. Apakah benar Liam adalah kekasihnya yang waktu itu ingin dikenalkan ke Lesya ?.
Bulir air bening jatuh terus menerus menyusuri pipi mulusnya. Tanpa ia sadari sosok suami sudah masuk kedalam kamar sambil mengusap kepalanya karena rambutnya yang masih basah.
Iya,,, Liam selesai mandi di kamar mandi yang lain, di kamar kosong sebelah kamar itu. Ia sengaja membersihkan dirinya disana karena dia pun sudah tak tahan dengan tubuhnya yang lengket karena keringat.
Matanya sedikit menyipit dan alisnya menyatu saat melihat Lesya memegang selembar kertas dan pecahan kaca yang berserakan didepannya. Ia tahu betul apa bentuk dan isi gambar dari kertas itu. Karena dia sendiri yang menyimpan rapi bingkai foto itu di laci.
"Sedang apa kamu ?". Suara baritonnya sontak membuat Lesya terperanjat menoleh dengan gerakan cepat.
__ADS_1
Masih ada sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
"Maaf..." Hanya kata itu yang terlontar dibibirnya. Padahal banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan dan ingin dia ketahui. Tapi lidahnya kali ini serasa kelu. Bibirnya serasa susah untuk digerakkan.
Tanpa banyak berkata Lesya langsung berdiri dan mengambil tempat sampah kecil yang ada dipojokan kamar itu. Lalu ia berjongkok kembali untuk membersihkan pecahan kaca bingkai yang sudah rusak itu.
"Hentikan" suara hentakan Liam tak mengurungkan niat Lesya untuk membersihkannya tanpa mengindahkan ucapan Liam.
Melihat Lesya tak mengindahkan ucapannya, dengan kesal Liam melangkahkan kakinya mendekati Lesya, "Hentikan kubilang". Liam mengulangi ucapannya sambil memegang tangan Lesya. Menahan tangan itu untuk kembali memungut pecahan kaca. Suaranya sedikit meninggi dari sebelumnya.
"Kau bisa terluka. Apa kau bodoh hah. Jangan pakai tanganmu untuk membersihkan itu" ucap Liam.
Lalu Liam menarik Lesya untuk berdiri dan menjauh dari pecahan kaca itu. Kali ini air matanya kembali lolos. Tak seperti biasanya, Lesya kali ini tak bisa menhan buliran air matanya. Padahal biasanya kalau soal menahan tangis di depan orang lain dia lah jagonya.
"Kenapa kau menangis ?" tanya Liam dengan sedikit menelisik sorot mata Lesya. "Apa karena aku membentakmu dan kau takut akan hal itu ?" tanyanya lagi.
\_Hai para readers... Maaf ya kalau upnya lamaaaaaa banget. Othor benar-benar sibuk gaes. Jadi mohon bersabar untuk menunggu kelanjutannya ya...
Terima kasih 🙏
__ADS_1